Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Salju tipis mulai mencair ketika kereta melewati gerbang timur Kekaisaran Feng. Di jalanan utama, rakyat sudah berbaris menunggu rombongan Kaisar dan Permaisuri mereka pulang.
Walau salju turun, tak menghalangi kebahagian dan rasa antusias mereka menyambut kepulangan pemimpin Kekaisaran Feng itu. Mereka bahkan membawa spanduk, bunga kering, dan lentera sebagai bentuk penyambutan.
"Hidup, Yang Mulia Kaisar!"
"Hidup, Permaisuri!"
"Selamat datang kembali, Permaisuri! Semoga anda cepat sembuh!"
Sorakan pecah, namun di antara suara itu, terselip pula isakan haru. Banyak rakyat yang mengetahui bahwa Permaisuri yang sudah membantu mereka mengatasi wabah terluka dan sempat tak sadarkan diri. Melihatnya kembali menjadi harapan baru bagi mereka.
Suara mereka bergema mengisi jalan ibukota sampai istana, hangat meski udara masih menusuk. Li Yue yang duduk di dalam kereta mengintip sedikit melalui jendela. Wajahnya mengulas senyum mendengar sambutan rakyat padanya.
Di halaman istana, beberapa sosok sudah menunggu.
Ye Lin, pelayan pribadi Li Yue yang tak sabar menantikan kepulangan tuannya.
Para Pejabat, Menteri dan Zian Lin berbaris rapi.
Lu Si, sang Tuan Putri Kekaisaran Feng berdiri penuh semangat. Begitu rombongan Kaisar datang, ia langsung melambaikan tangan seperti anak kecil yang menunggu orang terkasih. Dan di sampingnya, Zhao Ling tersenyum tipis seraya menunduk hormat pada Feng Wu Lan ketika pria itu turun dari kudanya.
Feng Wu Lan turun lebih dulu, kemudian dengan hati-hati membantu Li Yue keluar dari kereta.
Kereta berhenti. Feng Wu Lan naik ke pintu kereta dan menjulurkan tangan. "Pelan-pelan," ujarnya lembut.
Li Yue menatap tangan itu, seolah tangan yang sama telah memeluknya ketika ia hampir meregang nyawa. Ia menggenggamnya, turun dengan hati-hati. Tubuhnya masih agak lemah, tapi ia berdiri tegak.
Ye Lin langsung berlutut sambil menangis keras. "Permaisuri... syukurlah... syukurlah Anda kembali...kenapa tidak memberitahu saya saat anda menyusul Yang Mulia..."
Li Yue tersenyum tipis, mengelus kepala pelayannya itu. "Aku kembali, Ye Lin. Maaf membuatmu khawatir."
Lu Si maju dua langkah, menatap Li Yue dari atas sampai bawah, lalu merengut.
"Kakak! Kau menghilang seperti itu... Tidak mengabari. Lalu sakit parah dan tidak sadarkan diri selama belasan hari. Kau membuatku khawatir setengah mati! Aku rasanya ingin membakar seluruh istana waktu mendengar kejadian itu!"
Li Yue tertegun... lalu tertawa kecil. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."
Lu Si memajukan bibirnya, tapi matanya berkilat lega. "Aku menunggu tiga ribu tahun rasanya."