Chapter. 35

20.9K 2.3K 59
                                        

_o0o_

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_o0o_

Terlihat seorang pria dalam keadaan naas duduk terikat di tengah ruang kecil yang lembap, dengan pencahayaan yang hanya mengandalkan empat obor yang terpasang di sudut ruangan.

Bau anyir yang berasal dari tetesan darah menyeruak masuk ke indra penciuman. Rintihan kesakitan keluar dari pria yang tadi menyerang kediaman penguasa Feng.

Garis-garis panjang tercipta di kulit pria itu.

"Katakan, siapa yang menyuruhmu menyerang Yang Mulia, hah?!"

Diamnya pria itu dibalas dengan sabetan cambuk oleh prajurit yang menanyainya. Garis panjang berwarna merah pun kembali tercipta di kulit cokelatnya.

Di sisi lain, Feng Wu Lan hampir tiba di tempat di mana penyerangnya berada. Langkah kakinya menggema di lorong panjang yang menjadi jalan masuk menuju ruang interogasi. Saat ia tiba, para prajurit yang berjaga di pintu masuk ruangan itu segera menunduk hormat.

"Bagaimana?" tanyanya.

"Pembunuh bayaran itu masih tetap tutup mulut, Yang Mulia."

Feng Wu Lan diam, tak menunjukkan reaksi terkejut atau marah. Ia hanya diam karena tahu bahwa ini akan terjadi. Matanya beralih menatap pintu besi di depannya.

"Silakan masuk, Yang Mulia."

Pintu besi itu terbuka, dan begitu Feng Wu Lan melangkah masuk, bau darah langsung menusuk indra penciumannya.

"Kami memberi salam, Yang Mulia," ucap algojo dan beberapa prajurit yang ada di dalam ruangan.

Pandangan tajam dari pria yang mengenakan hanfu hitam dengan aksen emas menambah suram suasana di ruangan kecil nan pengap itu.

Langkah kakinya menggema, mengisi keheningan yang mencekam.

Sementara itu, si pembunuh bayaran yang kini terduduk lemah menanti ajalnya terlihat sangat parah.

Dengan sedikit tenaga yang tersisa, pria yang sudah bermandikan darah itu mengangkat kepalanya untuk melihat sang penguasa yang berdiri gagah di hadapannya.

"Katakan," ujarnya, disertai dengan aura pekat yang menekan.

Namun, si pembunuh bayaran hanya menggeleng lemah sebagai tanggapan atas pertanyaan sang penguasa.

Tak sampai lima detik setelah gelengan itu berhenti, air garam sudah tersiram ke seluruh tubuhnya.

Tak ayal, raungan kesakitan kembali menggema di ruang bawah tanah itu.

Air asin yang membasahi seluruh tubuhnya membuat daging yang mengelupas akibat luka menggeliat seperti ulat.

Hanya dengan seember air, rasanya lebih menyakitkan dibandingkan dengan cambukan tali yang di permukaannya terdapat jarum besi.

Di luar ruangan tersebut, beberapa bayangan terlihat berlarian mendekati para prajurit penjaga.

Dua dari mereka menyalakan dupa, kemudian kembali berlari guna menyebarkan asapnya ke tempat di mana para prajurit berada.

Rebirth of the Phoenix [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang