Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Salju mulai turun lembut ketika pasukan Feng akhirnya kembali menembus gerbang perkemahan. Suara derap langkah kuda, roda kereta, dan dengusan nafas lelah bercampur menjadi satu. Meskipun mereka berhasil memukul mundur pasukan Zhu, kemenangan itu terasa berat di udara.
Obor-obor di sepanjang jalur masuk menyala redup diterpa angin. Para prajurit penjaga menyambut rekan-rekan mereka dengan tepukan bahu dan anggukan lega.
Feng Wu Lan turun dari kudanya lebih lambat dari biasanya. Lapisan salju menempel di rambut dan jubahnya, pandangan matanya menatap serius pada para prajurit yang berjalan melewatinya, beberapa terluka, beberapa kehilangan rekan, semua tampak lelah.
Di belakangnya, dua unit penjaga membawa Xi Zian yang kedua tangannya terikat. Wajahnya pucat karena dingin dan luka di lengannya terus meneteskan darah. Begitu mereka memasuki perkemahan, perhatian banyak orang langsung tertuju pada mereka.
"Apa itu benar-benar Menteri Xi Zian?"
"Dia bukan Menteri lagi."
"Pengkhianat Kekaisaran Feng."
Bisik-bisik bermunculan dari segala arah saat para prajurit melihat Xi Zian yang berhasil ditangkap kala ingin melarikan diri.
"Berhenti," ujar Li Yue pada kedua prajurit yang membawa Xi Zian. " Xia Yi, potong lengan yang terkena peluru."
"Baik, ketua."
Feng Wu Lan menatap Li Yue yang kini menghampirinya.
"Kau terluka." Li Yue menatap pinggang Feng Wu Lan yang terkena sabetan pedang.
"Kau menyelamatkanku," jawab Feng Wu Lan seraya membawa tangan Li Yue. "Bagaimana kau bisa ada disini?"
Li Yue menghela nafas panjang. "Aku akan menjelaskan. Tapi tidak sekarang." Ia kembali memandang luka Feng Wu Lan yang mulai merembeskan darah. "Pertama, kau harus diobati. Kau berdiri saja sudah hampir roboh."
"Aku masih bisa—"
"Tidak." Li Yue memotong tanpa ragu. "Ikut aku ke tendamu."
Feng Wu Lan sempat ingin membantah, tetapi tubuhnya sendiri memberi jawaban. Rasa panas menjalar di sisi pinggangnya, dan kakinya mulai gemetar halus karena dingin dan kelelahan. Akhirnya ia mengangguk.
Keduanya berjalan melewati jalur tenda dengan langkah pelan. Beberapa prajurit memberi hormat, sebagian lagi hanya mengamati dengan wajah kelelahan.
Begitu masuk ke tenda Feng Wu Lan, kehangatan ringan dari tungku kecil menyambut mereka. Li Yue menarik kursi dan mendorong Feng Wu Lan duduk.
"Lepaskan zirahmu."
Feng Wu Lan menurut. Li Yue memeriksa luka sayatan di pinggangnya, mengambil kain bersih dan ramuan dari wadah obat kecil yang dibawanya.