Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Anggota sekte Fenghuang yang dikirim Xing He menempuh perjalanan cepat selama dua hari. Saat mereka tiba di medan perang, rapat antara Feng Wu Lan dan para petinggi militer Zhu masih berlangsung. Wu Jin, salah satu dari ketiga anggota sekte, segera maju dan memberi salam hormat.
"Kami datang membawa laporan penting dari istana Kekaisaran Zhu," ujar Wu Jin dengan napas terengah.
Feng Wu Lan menghentikan pembicaraan dengan para komandan Zhu. Dahinya berkerut melihat wajah Wu Jin yang pucat dan penuh kecemasan. "Apa yang terjadi?"
Wu Jin menelan ludah sebelum menjawab. "Permaisuri diserang. Beliau mendapat luka tikaman."
Kursi yang diduduki Feng Wu Lan bergeser keras karena ia langsung berdiri. "Apa maksudmu, diserang?" suaranya rendah, tetapi dingin dan berbahaya.
Wu Jin tampak semakin gugup. "Pelakunya adalah Selir Utama yang berada di sana."
Seluruh tenda rapat mendadak hening. Para petinggi Zhu saling pandang, beberapa menarik napas panjang karena menyadari masalah itu terjadi di wilayah mereka.
Feng Wu Lan mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Bagaimana kondisinya sekarang?"
Wu Jin menunduk. "Kami tidak tahu pasti. Xia Yi berkata Permaisuri kehilangan banyak darah. Kami diutus untuk menyampaikan berita ini secepat mungkin."
Feng Wu Lan tidak menunda sedetik pun. "Pertemuan ini akan dilanjutkan nanti di istana." Ia menatap Zian Lin. "Kau pimpin sisa diskusi di sini dan selesaikan urusan perang. Aku pergi sekarang."
Zian Lin menunduk dalam. "Baik, Yang Mulia. Silahkan pergi."
Tanpa menunggu lagi, Feng Wu Lan keluar tenda dan langsung menaiki kudanya. Ketiga anggota sekte Fenghuang yang membawa kabar itu ikut memacu kuda di belakangnya.
Kecepatan mereka tidak berkurang sepanjang dua hari perjalanan pulang menuju istana Kekaisaran Zhu.
Setibanya di sana, Feng Wu Lan langsung masuk tanpa menunggu laporan. Begitu melihat Xia Yi keluar dari salah satu kamar dengan wajah suram, langkahnya otomatis terhenti.
Setibanya di sana, Feng Wu Lan langsung masuk tanpa menunggu laporan. Begitu melihat Xia Yi keluar dari salah satu kamar dengan wajah suram, langkahnya otomatis terhenti.
"Bagaimana Permaisuri?" tanya Feng Wu Lan dengan suara rendah.
Xia Yi mengangguk pelan, tetapi sorot matanya penuh duka. "Beliau selamat dari lukanya. Di dalam, tabib masih mengeluarkan sisa racun yang ada. Namun..." Ia menyerahkan belati yang menusuk Li Yue. "Bayi yang dikandung Permaisuri tidak bisa diselamatkan. Racun pada belati membunuhnya."
Tangan Feng Wu Lan gemetar mengambil belati itu. Kata-kata Xia Yi menghantam Feng Wu Lan seperti panah yang masuk ke dada. Pandangannya kosong beberapa detik.