Chapter. 73

566 47 3
                                        

_o0o_

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_o0o_

Masih terlalu dini ketika bunyi genderang perang menggema dari halaman timur istana. Udara pagi menggigit kulit, kabut menutupi seluruh pelataran, dan panji-panji naga emas perang Kekaisaran Feng berkibar pelan diterpa angin dingin. Di bawah langit yang kelabu, ribuan prajurit sudah berbaris, senjata mereka berkilat tertimpa cahaya obor.

Feng Wu Lan berdiri di depan barisan, mengenakan zirah hitam dengan lambang naga emas di dada. Di sisi kanan berdiri Huang Ji dan Huo Li, sementara beberapa jenderal serta komandan lapangan siap dengan pasukan masing-masing.

"Setiap langkah kita hari ini adalah untuk melindungi rumah kita," suara Feng Wu Lan terdengar berat namun tegas. "Kekaisaran Zhu mungkin memiliki lebih banyak prajurit, tapi mereka tak memiliki alasan sekuat kita untuk berjuang. Kita bertempur bukan demi kejayaan, tapi demi mereka yang menunggu di belakang tembok istana ini."

Prajurit menjawab dengan pekik semangat yang bergema hingga ke langit.

Di depan tangga batu istana, Li Yue berdiri bersama Lu Si dan Jenderal Zhao yang masih mengenakan seragam penjaga dalam. Pria itu tidak ikut dalam peperangan kali ini. Ia ditugaskan untuk menjaga keamanan ibu kota dan istana Kekaisaran Feng.

"Paman!" seru Lin Meng dan Lin Jiang pada Huo Li.

Kedua kakak beradik berlari menuju Huo Li yang sudah berdiri di samping kudanya.

"Kami membuat ini untuk paman," ujar Lin Meng seraya memberikan sebuah Zhongguo Jie dengan bentuk simpul sederhana.

Huo Li berjongkok mensejajarkan tinggi badan, tangannya meraih Zhongguo Jie itu dan mengikatnya di gagang pedang. "Terima kasih," ujarnya.

Hati Huo Li menghangat menerima pemberian kedua saudara Lin yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu.

Sejak kemarin, Hampir semua prajurit Kekaisaran Feng yang ikut dalam peperangan mendapat Zhongguo Jie dari orang tersayangnya. Simpul yang terbuat dari tali itu diberikan sebagai doa perlindungan dan harapan agar mereka pulang dengan selamat.

"Huang Ji."

Pangeran Kekaisaran Feng itu memutar tubuh menghadap adik kembarnya yang sudah beberapa hari tidak saling bersuara.

"Susah sekali ya memanggil aku kakak?" ujar Huang Ji berniat menggoda adiknya.

Lu Si memandang Huang Ji datar, bahkan di situasi ini kakaknya menggodanya? Lu Si merasa jengkel namun di saat bersamaan ia juga senang karena dalam hati ia merindukan perdebatan yang biasa mereka lakukan.

"Ambil," ucap Lu Si seraya melemparkan Zhongguo Jie pada kakaknya.

"Aku membuatnya dengan tali sutra kesayanganku, jadi cepat kembali untuk menebusnya."

Huang Ji menarik kedua sudut bibirnya. "Aku akan cepat kembali, membawa ibu dan mengadu bahwa kau masih tidak mau memanggilku kakak. Siap-siap saja untuk dihukum."

Rebirth of the Phoenix [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang