Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
"Kenapa! Kenapa! Kenapa!"
Liu Ri menjerit, suaranya melengking, pecah oleh amarah dan kecewa. Kotak kecil itu terlempar ke lantai, terbuka, memperlihatkan isinya yaitu hiasan rambut yang seharusnya menjadi hadiah.
Lagi dan lagi, hadiah yang ia kirimkan ditolak oleh Yang Mulia Kaisar. Tak terhitung berapa kali ia berusaha, namun tidak pernah Liu Ri rasakan hasil dari usahanya itu.
"Mengapa aku selalu diabaikan?!" Ia melempar bantal ke arah jendela, suaranya serak oleh tangis yang tertahan terlalu lama. "Bertahun-tahun aku menunggu... berusaha... tapi tak pernah cukup!"
Ia terhuyung, tubuhnya bergetar hebat. Napas memburu, dada naik turun dengan liar.
"Aku wanita pertama yang kau nikahi. Aku yang selama ini berusaha," bisiknya, nyaris seperti ratapan. Tapi kemudian suaranya naik, meledak dalam amarah, "Tapi kenapa perhatianmu tertuju pada perempuan lain seolah aku tak pernah ada, Kenapa?!"
Para pelayan membisu, saling menatap cemas karena melihat kondisi tuan mereka. Satu persatu mengundurkan diri, takut menjadi sasaran kemarahan Liu Ri, yang tersisa hanya Pelayan pribadinya.
"Selir Utama, jika Yang Mulia Kaisar masih tidak merespon, bagaimana jika Selir Utama menjebak Yang Mulia Kaisar?"
Liu Ri menghentikan tangisannya, kini ia terkekeh mendengar saran yang diberikan Pelayan barunya itu.
"Kau pikir aku tidak pernah melakukannya?"
Pelayan pribadi Liu Ri terdiam, tentu saja tuannya itu sudah melakukan berbagai macam cara agar menarik perhatian Kaisar Feng. Tidak hanya tuannya, melainkan seluruh wanita di istana harem pasti sudah melakukannya.
"Selir Utama, saya mempunyai kenalan yang hebat dalam meracik ramuan, dia baru saja kembali dari wilayah utara. Disana dia menemukan ramuan afrodisiak yang sangat efektif. Ramuan ini tidak memiliki bau dan warna," ujar Pelayan itu.
Liu Ri mengusap air matanya yang mengalir. "Sudah kukatakan, aku sudah melakukan semua hal termasuk itu!" ujar Liu Ri putus asa. Masih teringat jelas bagaimana lehernya dicekik oleh Kaisar Feng ketika mengetahui apa yang ia lakukan.
Pelayan itu menunduk, tapi suaranya tetap lembut dan yakin. "Tapi ramuan ini berbeda, Selir Utama. Kenalan saya baru kembali dari wilayah timur dan menawarkan ini pada saya. Ini bukan seperti afrodisiak pada umumnya. Satu tetes saja bisa membuat seorang pria kehilangan kendali. Apalagi jika dia sudah lelah dan tidak waspada."
Liu Ri terdiam. Ia memandangi kekacauan di sekelilingnya, vas yang pecah, hiasan yang berserakan, dan kotak hadiah yang terbuka begitu saja di lantai. Hatinya terasa seperti ruangan itu: berantakan, kosong, dan tak ada yang peduli. Tapi perlahan, dari antara amarah dan kepedihan, muncul satu pikiran... pelan, namun menusuk.
"Tapi, bagaimana jika Yang Mulia mengetahuinya dan bagaimana jika wanita sialan itu menghalangi rencana ini?" Liu Ri sudah berada di tahap putus asanya.