Chapter. 74

612 52 1
                                        

Note: 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Note: 

Kavaleri: Pasukan berkuda

Infateri : pasukan berjalan

_o0o_

Salju pertama yang turun pada hari ketujuh menjadi pertanda bahwa musim dingin akhirnya tiba. Pada awalnya, butiran tipis itu jatuh perlahan, nyaris seperti abu yang ditiup angin. Namun pada malam harinya, udara mengeras, suhu turun drastis, dan lapangan luas di kaki Pegunungan Huashan itu berubah dari tanah coklat dingin menjadi hamparan putih licin yang menusuk tulang.

Di pagi hari pertama minggu kedua, pasukan Feng dan Zhu sama-sama membuka mata pada dunia yang berbeda dari dunia yang mereka tinggali seminggu sebelumnya. Langkah kaki kuda meninggalkan jejak berlubang yang cepat terisi air. Beberapa tenda prajurit Feng bahkan roboh semalam terdorong angin beku dari arah utara.

Di sisi barat lapangan, Feng Wu Lan berdiri di luar tendanya, nafasnya berubah menjadi uap yang langsung hilang diterpa angin. Zirah peraknya sudah ia lapisi minyak agar tidak mudah membeku. Huo Li berdiri tak jauh di belakangnya, bahu berselimut salju tipis.

"Tanahnya licin," laporan Huo Li. "Pasukan kavaleri harus bergerak lebih hati-hati atau mereka bisa jatuh sebelum mencapai garis musuh."

"Tombak pun akan sulit menembus bila tangannya beku," tambah Zian Lin yang baru bergabung, menggosok tangan dengan kain wol. "Perang di musim dingin selalu brutal."

Feng Wu Lan memandangi lapangan putih yang membentang. Tidak ada kabut pagi kali ini. Udara terlalu dingin untuk menahan uap air. "Dari sekarang perang tidak akan sama dengan minggu pertama," ucapnya. "Dan salju ini akan menguji siapa yang lebih siap menghadapi perubahan."

Dengan tekad kuat, Feng Wu Lan memulai peperangan dengan serangan dadakan, bukan serangan besar, melainkan pukulan cepat yang bertujuan mencuri posisi strategis di sisi timur lapangan, tanah datar yang sedikit lebih tinggi dan tidak terlalu licin. Pemanah Feng dari bukit kecil mengalirkan hujan panah terkoordinasi, sementara pasukan tombak Huo Li menekan maju dalam formasi segitiga.

Zhu Weishan yang terbiasa menyerang tidak menduga Feng akan maju sejauh itu, terlebih setelah seminggu hanya bertahan. Serangan itu memaksa barisan Zhu mundur, meninggalkan puluhan senjata patah dan rusak di tanah.

Pada sore hari, salju kembali turun ringan. Barisan Zhu semakin kacau karena licinnya permukaan tanah. Dua kali kavaleri mereka jatuh sebelum mencapai garis depan. Sebaliknya, pasukan Feng yang sudah berlatih mengikat tapal kuda khusus untuk musim dingin justru bergerak lebih stabil.

Hari itu Kekaisaran Feng menang telak, meskipun tidak menyerang markas utama Zhu. Kemenangan ini mengangkat semangat pasukan yang sebelumnya berat karena penculikan Ibu Suri. Feng Wu Lan memerintahkan pasukan untuk tetap waspada.

Kedua pihak saling menyerang tanpa henti, tetapi pola pertempuran berubah. Tidak ada lagi strategi. Semua terjadi di lapangan seluas beberapa meter, terbuka, penuh lumpur es dan jejak darah.

Rebirth of the Phoenix [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang