Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Bangunan persegi panjang dengan cat hijau sudah ada di depan mata mereka. Luye, nama restoran sederhana yang terkenal akan sajian lezatnya.
"Ayo masuk!"
Suasana ramai langsung menyambut keduanya saat tiba di dalam restoran, lebih ramai dari kunjungan Li Yue terakhir kali saat menolong Lin Meng.
Melarikan pandangan ke seluruh sudut ruangan, tidak banyak meja yang tersisa. Li Yue pun memilih untuk duduk di meja panjang yang bisa menampung lebih dari lima orang. Letaknya yang berada di sudut dan agak sulit terlihat menjadi faktor penting bagi Li Yue dalam memilih meja itu.
Kedatangan Li Yue yang diikuti para prajurit istana sedikit menarik perhatian para pelanggan. Benak mereka bertanya-tanya, orang istana mana yang mau makan di restoran sederhana ini?
Sebagian prajurit mengikuti Li Yue ke meja makan, sementara sebagian lainnya berjaga di luar pintu.
"Sajikan semua makanan yang ada di sini," ucap Li Yue pada pelayan yang menghampirinya.
"Baik, Nona."
Satu per satu hidangan mulai diletakkan di meja, mulai dari makanan kering hingga berkuah, dari makanan pembuka hingga makanan penutup, semuanya tersaji memenuhi meja besar itu.
"Kalian duduklah."
"Kalian siapa?" tanya Ye Lin. Jika Permaisuri menyebut 'kau', maka dia pasti akan langsung duduk. Namun, Permaisurinya menyebut 'kalian', yang berarti lebih dari satu orang.
"Kau dan para prajurit tentu saja, siapa lagi? Dan ya, panggil juga para prajurit yang berjaga di luar untuk makan bersama."
Perintah Li Yue langsung dilaksanakan oleh Ye Lin. Ia segera keluar untuk memanggil prajurit yang tersisa.
Sementara itu, dua orang prajurit yang ada di dalam terpaku mendengar kata-kata Li Yue. Mereka tak menyangka bahwa Permaisuri mereka akan semurah hati itu untuk mengajak mereka makan bersama.
"Permaisuri, maaf karena kami tidak bisa memenuhi permintaan Anda. Kami hanya prajurit rendahan, tidak pantas makan bersama Anda, Permaisuri," ujar salah seorang prajurit sembari berlutut pada Li Yue.
"Ini bukan permintaan, melainkan perintah. Jadi, kalian harus memenuhinya."
Kedua prajurit itu saling memandang, seakan berbagi pikiran. Prajurit yang sedari tadi diam akhirnya mengangguk, mengikuti perintah Li Yue untuk duduk di bangku.
Prajurit lainnya yang baru saja tiba bersama Ye Lin juga ikut duduk, meski kurang mengerti apa yang terjadi. Mereka lebih memilih mengikuti teman seperjuangan mereka yang sudah duduk terlebih dahulu.
Posisi Li Yue duduk membelakangi para pengunjung lain, membuat semua orang tak dapat melihatnya, kecuali punggungnya tentu saja. Jadi, ia bisa bebas membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya.