Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Lorong-lorong istana Zhu sepi, hanya suara langkah para pelayan yang terdengar tergesa. Mereka tetap menunduk setiap kali Liu Ri lewat, tetapi tidak ada senyum hormat. Tidak ada kehangatan. Tundukan mereka hanyalah kewajiban agar tetap hidup.
Liu Ri merasakannya.
Ia tahu para pelayan menata wajah hati-hati ketika dirinya muncul. Ia tahu tatapan mereka berubah ketika ia sudah melewati tikungan. Ia tahu bisik-bisik mereka berjalan pelan di balik pilar.
"Aku tidak mengerti kenapa kita harus melayaninya? Dia bahkan bukan bangsawan Zhu."
"Aku dengar di kekaisaran Feng dia tidak dipedulikan oleh Kaisar."
"Jika bukan karena ayahnya yang bersekutu dengan Kaisar Zhu, kita tidak perlu repot-repot seperti ini. Kedua kekaisaran juga tidak akan berperang dan kita tidak kehilangan anggota keluarga kita."
Liu Ri hanya melirik sekilas ketika desas-desus itu terdengar. Tidak ada reaksi marah. Tidak ada bentakan. Ia hanya mengencangkan langkah, dingin seperti udara yang merayap ke lorong-lorong batu.
Hari itu, seorang pelayan membawakan makanan. Saat mangkuk diletakkan, Liu Ri menatapnya tanpa bicara.
Pelayan itu bergidik. "M-makanan Anda, Nona."
"Letakkan di sana," jawab Liu Ri tanpa emosi.
Pelayan mematuhi. Tidak ada makian. Tidak ada piring yang dilempar.
Liu Ri hanya bersikap biasa, tetapi tatapannya selalu membuat siapa pun ingin cepat keluar dari ruangan.
Namun rasa kesalnya tidak hilang. Ia berdiri perlahan. "Antarkan aku ke tempat Ibu Suri."
Pelayan itu menahan nafas, lalu mengangguk.
"Baik, Nona."
Ruangan Ibu Suri gelap, hanya diterangi lampu minyak kecil. Bau lembab memenuhi udara. Ketika pintu dibuka, Ibu Suri mengangkat kepala, tubuhnya tampak lemah.
Liu Ri masuk. Ia duduk di bangku rendah di depan Ibu Suri, memandangi wanita tua itu dengan mata yang sunyi.
"Anda terlihat semakin pucat," ucapnya tanpa nada. "Lihat, saya membawakan bubur hangat untuk, Ibu."
Ibu Suri tidak menyentuh mangkuk itu. Ia hanya menatap bubur yang mengepul tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tangannya yang lemah bergerak sedikit, seakan menolak dengan halus.
Liu Ri memperhatikan gerakan kecil itu. Lama. Tanpa bicara.
Lalu, perlahan, Ibu Suri mendorong mangkuk itu menjauh menggunakan ujung jarinya. Gerakannya pelan, tapi cukup jelas untuk menunjukkan penolakan.
Senyum tipis muncul di bibir Liu Ri, bukan senyum bahagia tentunya..
"Lagi?" suaranya lirih, hampir terdengar seperti gumaman. "Anda benar-benar suka membuang makanan, ya?"