Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_o0o_
Ruang rapat istana kali ini lebih ramai dari biasanya. Beberapa wajah asing turut hadir di rapat yang diadakan di siang hari ini. Kaisar, Permaisuri, Ibu Suri serta Pangeran dan Putri kekaisaran Feng telah duduk di singgasana mereka masing-masing.
"Yang Mulia! Tolong berikan keadilan pada Putri saya!" seru Menteri Tang sejak rapat baru dimulai.
Peristiwa penyerangan yang terjadi di kediaman Selir Tang menjadi topik utama pada rapat hari ini.
"Yang Mulia tidak bisa diam saja terhadap penyerangan semalam!"
"Benar, banyak korban yang terluka karena penyerangan semalam, Yang Mulia harus menghukum berat pelakunya."
"Pelakunya pasti adalah orang yang membenci Selir Tang."
Para pejabat istana saling bergantian memberikan argumen, sebagian besar dari mereka adalah kubu Menteri Tang yang mana berulang kali menyiratkan bahwa pelakunya adalah Selir Utama Xi dengan alasan pertengkaran antara kedua selir itu.
Ruang rapat istana masih dipenuhi perkataan cemas sampai ketika seorang prajurit tiba-tiba masuk dengan tergesa. Ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Kaisar sebelum berbicara dengan suara tegas.
"Yang Mulia, Perdana Menteri telah tiba di istana bersama putrinya, Selir Utama Xi," lapornya.
Semua kepala menoleh, keheningan melanda ruangan. Menteri Tang yang duduk dengan wajah penuh amarah menatap Kaisar dengan tatapan meminta penjelasan.
"Perdana Menteri dan Selir Utama Xi dipersilakan masuk," perintah Kaisar dengan suara tegas.
Tak lama, Perdana Menteri muncul, mengenakan jubah resmi yang megah, sementara Liu Ri berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk. Wajahnya tampak pucat namun tetap menjaga ketenangan. Keduanya membungkuk hormat di hadapan Kaisar sebelum mengambil tempat yang telah disiapkan.
"Yang Mulia." Perdana Menteri memulai, suaranya lantang dan penuh otoritas. "Saya mendengar kabar bahwa nama keluarga kami dicemarkan dengan tuduhan tak berdasar. Saya mohon keadilan."
Sebelum Kaisar sempat merespons, prajurit yang tadi masuk kembali berbicara. "Yang Mulia, kami juga membawa mayat Selir Tang dari kediaman pelayan pribadi Selir Utama Xi."
Kata-kata itu membuat ruangan menjadi riuh. Liu Ri mendongak kaget, matanya melebar. "Apa?! Itu tidak mungkin!" serunya, suaranya bergetar.
Dua prajurit lainnya masuk membawa sebuah tandu yang ditutupi kain putih. Mereka menaruh tandu itu di tengah ruangan. Dengan isyarat dari Kaisar, salah satu prajurit membuka kain penutupnya.
Terdengar isak tangis dari Menteri Tang saat melihat tubuh putrinya yang dipenuhi luka lebam. Ia terjatuh berlutut di samping tandu, menangis penuh duka. "Anakku... siapa yang tega melakukan ini padamu?"