Galvin berdengus kesal setelah membaca pesan chat dari kekasihnya. Rencananya, Galvin ingin mengajak Lea jalan-jalan sebelum Galvin disibukan oleh Ospek yang akan di laksanakan beberapa hari lagi.
Rencana mengajak Lea jalan harus batal karena Lea yang tiba-tiba saja harus membantu temannya yang sedang kesulitan.
Jika seperti ini, Galvin tidak bisa apa-apa kecuali memahami Lea. Mau bagaimana juga, sebelum Lea mengenalnya Lea lebih dulu mengenal teman-temannya, tentu saja teman yang Lea maksud.
Itu lah mengapa Galvin tidak mau egois, karena kunci hubungan langgeng itu saling percaya dan saling memahami satu sama lain.
"Terus gua kemana, ya? Please gabut banget," gerutu Galvin.
"Apa gua beres-beresin kamar yang akan di tempati Septian? Kan lumayan pas Septian datang ke rumah dia gak perlu beres-beres lagi," tukas Galvin.
Setelah memantapkan aktivitas yang akan ia lakukan, Galvin turun menuruni anak tangga untuk menemui Lisna yang sedang beristirahat di rumah dan kemungkinan Lisna akan kembali ke kantor untuk bekerja.
Dan terlihat lah Lisna yang sedang duduk si sopa ruang tengah dengan mangkuk berisi potongan varian buah-buahan yang sedang Lisna konsumsi.
"Bunda.." panggil Galvin duduk di samping Lisna sambil tersenyum.
"Kalau kamu sudah senyum-senyum seperti ini pasti ada maunya," tebak Lisna.
Galvin terkekeh. "Bun, aku mau minta kunci kamar Septian. Kan nanti Septian mau tinggal di sini, nah aku mau bersih-bersih sedikit biar kamarnya layak buat di tempati lagi nantinya," tukas Galvin menjelaskan maksudnya.
"Kamu serius ngajak dia pulang ke rumah?" Galvin menganggukan kepalanya dengan semangat.
"Boleh ya, Bun? Bunda kan suka sibuk. Aku suka kesepian, kalau ada Septian nanti kan aku gak sendirian lagi."
Lisna menatap putranya dengan sendu, Lisna paham anak nya itu pasti kesepian hanya saja membawa Septian pulang Lisna tidak bisa menerimanya dengan baik, karena Septian lukanya bisa terbuka kembali.
"Ya, Bun? Aku anggap itu kado ulang tahun aku loh, masa Bunda tega gak nurutin."
"Terserah kamu saja, Kak."
Galvin berseru bahagia. "Kuncinya dimana, Bun?"
"Tanya saja Mang Asep." Galvin menganggukan kepalanya.
"Siap, Bun!"
***
Dengan tergesa-gesa Rafka dan Lea berlarian dari gerbang rumah Septian menuju kamar Septian yang ada di lantai dua, ternyata mereka tidak melihat Septian berada di kamar itu membuat Rafka dan Lea kocar-kacir mencari keberadaan Septian.
"Mungkin di kamar bawah, Raf," ucap Lea.
"Ayo dilihat!" Lea mengangguk. Keduanya pun turun kembali ke bawah menuju kamar yang ada di lantai bawah, mereka berharap Septian berada di kamar itu.
Ceklek
"Sep!" seru keduanya.
Helaan nafas panjang keluar dari mulut mereka, merasa lega karena Septian memang ada di kamar lantai bawah.
"Sep... astaga separah ini?" pekik Lea kaget melihat wajah Septian yang babak belur.
"Gak papa, Le. Sini duduk!" Septian menarik lengan Lea untuk duduk di sampingnya.
Rafka berdecak kesal melihat luka-luka yang menghiasi wajah Septian. "Gimana ceritanya lo bisa kayak gini, Sep?" tanya Rafka.
"Balik dari Coffe lo tiba-tiba ada orang yang nyerang gua dua motor kalau gak salah," tukas Septian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Septian In September || END
FanfictionIkut serta dalam project 30 day writing challenge with sassi & Semesta Rasi "Hubungan yang sesungguhnya adalah ketika sama-sama sudah tidak saling berada di rumah yang sama." Zelvanio Manuella Septian, harus menelan semua sakit yang di layangkan ked...
