Eric berpapasan dengan Jeevans, ia hendak mengambil barang-barang pentingnya yang tertinggal di kediaman utama Ferrero. Kalau bukan karena itu, dia malas sekali harus datang ke sini. Saudaranya ini sangat payah dimatanya saat ini. Tidak jelas sekali sebagai kepala keluarga. Apa dia mau membuat harem seperti ketua Ferrero sebelumnya? Ha .... Kenapa orang-orang suka sekali mengkoleksi wanita.
"Sudah saya katakan, Anda harus tegas, Tuan Ferrero. Jihan hanya bagian dari masa lalu, fokus saja dengan masa depan. Tidak bagus kalau nanti Anda menjadi musuh pewaris."
Jeevans hanya menggidikkan bahunya acuh. "Cari saja pasangan dari pada mengurusi urusan saya."
"Tentu saja. Bahkan akan sangat bagus bahwa dia nanti akan menjadi ancaman untuk Jihan dan Yena." Ucap Eric santai. Seolah dia sudah memiliki calon saja.
Jeevans menyerengit menatap Eric heran. "Anda seperti memiliki dendam dengan mereka?"
"Jelas, dua wanita perusuh. Kalau saja posisi Anda itu milik saya, sudah saya depak mereka dari awal." Beber Eric atas niatnya terang-terangan. Tidak perduli dia sekarang sedang berbicara dengan siapa. "Ngomong-ngomong, apa Anda tahu kenapa kedua orang tua saya serta bibi dan paman jarang ke kediaman utama?"
"Harusnya Anda tahu kalau nyonya Ferrero yang sengaja mendepak mereka." Heran juga Jeevans lama-lama. Bukankah Eric ini sering terlibat pekerjaan dengan Katarina, masa tidak tahu?
"Benarkah? Hebat juga. Tidak salah Anda memilihnya, Tuan Ferrero. Nyonya Ferrero sebelumnya saja tidak bisa mengusik mereka." Eric berbicara dengan bangganya.
"Seperti tidak mencintai orang tua saja." Cibir Jeevans.
"Lho, memang." Jawab Eric tanpa pikir panjang.
"Oh." Jeevans mengedipkan matanya perlahan.
"Memangnya bisa ya saudara berbincang dengan kaku begitu?"Gumam Katarina yang berdiri di ujung tangga.
--^
"Jeevans!"
"Tetap berhenti di sana, duduk di tempatmu semula."Perintah Jeevans membuat wanita itu terdiam. Rasa bahagia di hatinya sedikit berkurang. Jeevans mendudukkan dirinya di sofa berseberangan dengan wanita itu.
"Lihatkan, aku tidak mencari masalah dengannya, tapi dia sengaja mencari masalah denganku." Dia mulai menumpahkan keluhannya.
Jeevans tidak memberikan responya, dalam diam memandang wanita dihadapanya yang kian menatapnya sedih.
"Sepertinya Katarina tidak akan berhenti sebelum menghabisiku. Dia seperti psikopat berdarah dingin." Lanjutnya. Dia mengataknya dengan menggebu-gebu.
"Sebaiknya kamu jauhi Katarina mulai saat ini. Kalau bisa jangan sampai bersinggungan dengannya kecuali masalah pekerjaan." Atas ucapan Jeevans menampilan raut terkejut di wajah lawan bicaranya.
"Kamu bercandakan?" Dia tidak percaya ini.
"Aku serius. Katarina bukan tandinganmu. Sudah berapa kali aku mengatakan hal itu padamu."
"Aku bisa menandinginya." Dia menolak keras dengan alasan itu.
"Menandingin dengan apa? Kekuatan keluarga Hannan? Dari situ saja kamu sudah kalah telak, Jihan."
"Kamu, aku punya kamu, kan?" Jihan menatap Jeevans penuh harapan.
"Kamu pikir yang membuat kamu masih hidup sekarang karena siapa? Kamu tahu tidak kalau setiap jam nyawa kamu terancam?" Jeevans menatap lamat-lamat wajah itu yang terlihat bingung. "Kalau bukan aku mengirim orang-orangku, kamu sudah tinggal nama. Jadi, jangan keras kepala. Turuti saja apa kataku."
Apa yang dikatakan Katarina benar adanya? Kalau bukan karena Jeevans melindungiku, aku sudah lama lenyap. Sungguh Jihan tidak menyangka kalau Katarina akan semenyeramkan itu. Tapi, harusnya Jeevans bisa mengalahkannya, kan? Jeevans juga punya kekuasaan. Dia tidak bisa menyerah karena cintanya.
"Tidak, aku tetap akan pada tujuanku." Ucapnya penuh keyakinan. "Nikahi saja aku. Setidaknya aku tinggal selangkah darinya."
"Apa aku salah dengar?" Jeevans merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
"Kenapa? Bukankah kita saling cinta?" Jihan menatap Jeevans was-was.
"Katarina tidak suka dimadu." Jawab Jeevans cepat tanpa berpikir lagi. Jihan hampir menjatuhkan rahang mendengarnya.
"Kamu bisa menikah lagi tanpa persetujuannya. Bukankah kebanyakan orang begitu. Kalau dia tidak mau dimadu, ceraikan saja."
"Maka Ferrero akan jatuh ke tangan Katarina."
"Ha?"
"Itu tertulis jelas di perjanjian Pra Nikah."
Sungguh! Jihan kehilangan kata-kata. Kepalanya rasanya akan pecah. Jeevans, kenapa kamu ceroboh sekali.
"Jalan satu-satunya adalah membunuhnya. Kita harus membuat rencana, Jeev."
Jeevans memutar bola matanya malas. Mulai lagi. "Tidak." Tolak Jeevans.
"Kenapa?" Jihan memicingkan matanya, "jangan bilang kalau kamu mulai mencintainya?"
"Dia sexy." Gumam Jeevans tanpa sadar.
"Hah?"
"Tidak." Jeevans hampir saja mukul mulutnya sendiri. "Sudah aku katakan, kesalahanmu adalah meninggalkan aku. Jadi, aku tidak akan menjanjikan kedudukan apa pun padamu disampingku. Percuma kamu berusaha untuk menyingkirkan Katarina. Aku sudah cukup mengkhawatirkan keselamatanmu. Jangan sampai aku abai jika kamu sampai berulah lagi." Setelah mengatakan itu Jeevans berdiri, dia harus segera pergi ke kantor.
Jihan menatap kepergian Jeevans dengan perasaan campur aduk. Jeevans jelas sudah menolaknya. Ini semua gara-gara Katarina! Dia tidak bisa membiarkan Katarina tersenyum puas. Tunggu, tunggu aku akan membuat Katarina bertekuk lutut memohon ampun padanya.
--^

KAMU SEDANG MEMBACA
Peran Antagonis ° JenRina
Romance(Belum revisi) Katarina yang terkenal akan pribadi lemah lembut membuat dirinya disukai banyak orang. Tetapi sejatinya manusia tidak ada yang sempurna, meski begitu Katarina adalah tipe orang yang sekali bicara langsung ngena ke jantung apabila dia...