Chapter (19) Kunjungan Kim

444 60 3
                                    

"Kan sudah aku katakan, kamu hati-hati kalau mau bertindak, kamu malah terang-terangan dengan Katarina. Kamu belum kenal dia dengan baik, kalau terjadi apa-apa bagaimana?"

"Itu salah kamu kenapa menikah tanpa persetujuanku."

"Kalau kamu lupa, kamu yang pergi tanpa persetujuanku, dan sekarang menyalahkan aku. Katarina itu orang yang selalu menemaniku, dan tidak ada salahnya dengan aku ingin menikahinya atau tidak, dan tanpa persetujuanmu atau tidak. Kalau kamu egois, aku juga bisa egois, Jihan."

Jihan meremat tangannya erat melambiaskan rasa kesalnya. Memang dia cukup egois dulu, tapi dia memberitahukan kalau nanti dia akan pulang setelah urusannya selesai, dan mereka bisa memulai dari awal lagi, bahkan ke tahap serius. Tapi ternyata Jeevans memberikan kabar atas pernikahannya secara mendadak. Lalu sekarang, Jeevans bersikap seperti ini, seolah tidak ada lagi dia di hati pria itu.

"Ya sudah kalau begitu. Aku akan pura-pura melupakan kamu dan pergi menjauh, tapi kita bisa memulai lagi tanpa ada yang tahu."

Jeevans menghela napas lelah. Kenapa wanita ini sulit sekali diberitahu. Tidak semua orang mudah dikelabuhi, apalagi Katarina tipe wanita yang sering mengelabuhi lawannya, mana mungkin dia sendiri berhasil dikelabuhi. Dia bahkan sudah mendapatkan peringat dari Katarina. Jeevans sediri tidak masalah jika Ferero jatuh ke tangan Katarina sesuai isi pejanjian Pra Nikah.

Katarina sudah memberitahukannya kalau dalang dari hilangnya nyawa sang paman pelakunya adalah keluarga Ferero sendiri, bukan seperti dugaan selama ini. Katarina itu wanita yang sangat cerdas dan pemberani sejauh ini yang Jeevans kenal, dia tidak bisa mengabaikan Katarina begitu saja.

Sedangkan Jihan, dia hanya mengedepankan emosi semata. Bagaimana Jeevans tidak khawatir?

"Tuan, ada keluarga Kim di luar."Bisik kepala pelayan.

Jeevans yang tidak mendapat kabar sebelumnya tentu saja terkejut. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan, mana mungkin ia menolak. "Persilahkan masuk."

"Keluarga Kim siapa?" Jihan menyerengit bingung.

"Keluarga Katarina. Jaga sikap kamu." Peringat Jeevans.

"Lah?"

"Selamat sore, Tuan Ferrero." Sapa Lucy.

"Selamat sore, Nona Lucy." Sapa Jeevans balik.

"Oh ya, perkenalkan ini suamiku, Hwang Hyunjin. Dia tidak bisa hadir di pernikahan kalian karena sedang menjalani tugas. Jadi, mumpung ada di Indonesia sekarang, kami mampir ke sini." Jelas Lucy atas kedatangannya mendadak.

"Tidak apa-apa, saya mengerti seperti apa sibuknya."Timbal Jeevans, "silahkan duduk." Jeevans mempersilahkan duduk, lalu meminta kepala pelayan menyiapkan hidangan untuk makan sore.

"Padahal tidak perlu repot-repot." Ucap Lucy tak enak sudah merepotkan.

"Tidak repot kok, kitakan sudah menjadi keluarga."

"Oh ya, kamu siapa?" Tanya Lucy yang baru menyadari ada orang lain di samping adik iparnya itu.

Jihan yang tadi diam tersenyum canggung. "Saya Jihan, temannya Tuan Ferrero, Nona."

"Salam kenal, saya Lucy, kakaknya Katarina."

"Mana Katarina?" Hyunjin yang sedari tadi diam, membuka suara.

"Katarina sedang mengunjungi Venesia, mungkin sebentar lagi pulang." Jawab Jeno.

"Permisi." Seseorang datang dengan wajah datarnya.

"Oh, Gisel. Duduk sini." Lucy menyuruh Gisel duduk di sampingnya. "Ini Gisellia Anannda, sepupu suamiku." Lucy memperkenalkan Gisel kepada Jeevans dan Jihan.

Gisel menampilkan senyum manisnya, sebelum tatapannya beralih kepada Jihan. Kemudian senyum penuh arti itu terbit dari bibir tipisnya.

"Sepertinya aku pernah melihat Anda, Nona Jihan."Gisel menatap Jihan masih dengan senyum yang terpantri di bibirnya, dan itu menambah kesan bagi seseorang di seberang sana semakin was-was terhadap dirinya.

"Benarkah? Kamu baru ke Indonesia beberapa kali lho, Sel." Lucy menatap sepupu suaminya penasaran. Berhubungan bisnis dengan orang Korea juga tidak, bertemu di mana coba?

"Em, tetapi aku sepertinya baru melihat Anda." Jawab Jihan setenang mungkin. Dia tidak ingin wanita itu membicarakan pertemuan mereka. Lagipula, sepertinya kakak Katarina tidak tahu apa-apa permasalahan yang sedang dihadapi adiknya itu. Pun, Jeevans tidak diceritakannya soal pertemuan dengan wanita ini di hotel.

"Masa sih? Aku tipe orang pengingat jika sudah pernah bertemu. Aku melihat Anda dengan seorang pria waktu itu, dan sepertinnya situasinya agak tidak kondusif." Beber Gisel, tentu dengan sedikit perubahan situasi dan bumbu-bumbu.

"Bisa saja itu rekan kerjanya kan, Sel, namanya juga pembisnis. Iyakan, Nona Jihan?" Lucy melihat Jihan.

"A-ah, ya, tentu saja begitu."

Jeevans melirik Jihan lewat ujung matanya. Kenapa Jihan tampak tidak tenang? Bertemu dengan wanita maupun pria tentu saja bukan hal aneh. Yang membuat aneh itu respon seseorang ketika dia menyembunyikan sesuatu.

"Oh ya, Jeevans, appa memintaku untuk menanyakan perkembangan kalian. Dengan yang kalian maksud diawal itu, apa belum ada hasil? Sebenarnya ini hal pribadi, tetapi appa ngotot memintaku menanyakannya. Kalian berdua tidak apa-apa, kan? Jika ada sesuatu katakan saja, kami pasti mengerti kok."

"Soal itu, kami berdua agak sibuk dan jarang mengabiskan waktu bersama akhir-akhir ini. Kami juga baik-baik saja, mungkin memang belum waktunya saja."

"Ya, kami mengerti. Nanti akan kusampaikan pada appa."

"Apa kalian sedang membahas sesuatu sebelum kami datang?" Tanya Hyunjin kepada dua orang dihadapnnya.

"Tidak, kami hanya mengobrol biasa."Jawab Jihan.

"Hanya berdua?" Tanya Hyunjin lagi.

"Ya?" Jihan menatap Hyunjin bingung.

"Hanya berdua saja? Kalian memang berteman, tetapi kalian harus memiliki batasan, terlebih Jeevans sudah menikah. Wanita itu mudah curiga, jangan sampai Katarina berpikir yang tidak-tidak tentang kalian. Aku hanya mengingatkan."

Lucy menatap suaminya bingung, namun dia tidak ingin berkomentar apa pun. Sedangkan Gisellia tersenyum senang dalam hati, tidak perlu dia mengingatkan lagi.

---^

Peran Antagonis ° JenRina Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang