Chapter (29) Tragedi Berdarah

635 60 17
                                    

Acara telah dibubarkan karena aparat kepolisian telah meringkus keempat anggota keluarga Ferrero, dengan bukti lain yang tidak ditampilkan, atas tuduhan pembunuhan berencana serta pemalsuan identitas.

Kediaman Ferrero terasa lenggang, namun Jihan yang bukan seorang Ferrero tetap memilih diam di sana. Pikirannya terus berputar mengartikan maksud dari perkataan Jeevans kemarin. Lalu, sedekat itukah Yena dan Jeevans? Walaupun saling melindungi karena mereka keluarga memang sudah sepatutnya seperti itu. Namun ada hal janggal di sini.

Jihan memutuskan untuk mencari keberadaan Yena, dia pasti tidak akan mengkhawatirkan keadaan kedua orangtuanya, karena Yena memang tidak akur sedari dulu. Kalau memang yang dikatakan Deviana tadi benar, berarti Yena telah mengkhianatinya selama ini. Berpura-pura mendukungnya, namu kenyataannya adalah kebalikannya.

"Sudahku duga, kau tampak bahagia." Jihan menemukan Yena di kamar yang seharusnya tidak boleh dimasukinya. Kamar yang duluan adalah miliknya, kini sudah menjadi milik Katarina.

"Untuk apa aku merasa sedih? Buang-buang waktu saja." Yena memperhatikan Jihan yang menatapnya tajam. Kenapa lagi dengan wanita ini?

"Kau ada hubungan apa dengan Jeevans, Yena Ferrero?" Jihan bertanya dengan menekankan marga Yena, mengingatkan bahwa hubungan darah mereka terlalu kental untuk kemungkinan menjalin hubungan.

Yena terdiam sejenak, lalu senyumnya terbit membuat mata Jihan mendelik. "Memang kau mau apa? Mau menyingkirkan aku kalau aku bilang aku memilih hubungan spesial dengan Jeevans, hm?" Yena menantang Jihan.

"Berarti kau mengkhianatiku."

"Lalu apa perduliku? Dengar, sebelum kau datang, aku sudah berperan penting dalam kehidupan Jeevans."

"Kalian masih keluarga kalau kau lupa!" Teriak Jihan.

"Memangnya kenapa? Kau tidak punya hak untuk melarang!"

"Jadi itu memang benar, kau berniat menjebakku dengan dalih obat perangsang?" Jihan bergumam pelan. "Aku pikir kau memang mendukungku."

"Oh, sudah ketahuan rupanya, hahaha ...." Yena tertawa kencang mengekpresikan rasa senangnya. "Kau memang pantas menjadi tameng untukku. Disaat kau berusaha menyingkirkan orang yang kau anggap mengganggu Jeevans, maka aku yang akan menikmati hasilnya. Bukankah ini menyenangkan, Jihan?"

"Dasar penghianat rendahan." Jihan bergerak cepat menggapai Yena. Dengan meluapkan emosinya Jihan menampar Yena sepuas hatinya. Hingga perkelahian itu membuat keduanya mengalami memar cukup serius.

Yena menendang Jihan hingga tersungkur ke lantai. Dia menduduki perut Jihan, tanpa pikir panjang dia berniat untuk melenyapkan Jihan hari ini juga. Maka dari itu, dia tidak segan mencekik leher Jihan sekuat-kuatnya. Wajah Jihan sudah merah padam kesusahan menghirup oksigen. Bahkan Jihan sudah tidak bisa memberikan perlawanan untuk menyingkirkan Yena dari atasnya.

"Ah, siapa yang mengizinkan kalian berkelahi di dalam rumahku." Katarina berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka dengan tampang tidak terkejut sama sekali.

Katarina melangkah maju mendekati keduanya, dan tanpa berucap apa pun dia dengan spontan menarik rambut Yena membuat wanita itu berteriak kencang. Katarina menyeret Yena menjauh memaksa cekikikan di leher Jihan terlepas paksa.

"Yak! Katarina!" Yena meronta-ronta berusaha melepaskan cengkraman Katarina pada rambutnya.

"Kau yang sumber masalah! Jangan banyak tingkah karena Jeevans tidak akan memaafkanmu kalau kau menyentuhku!"

"Oh ya?"

Bug!

"Akh!"

Yena merintih mendapatkan tendangan pada perutnya.

Peran Antagonis ° JenRina Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang