Jeevans sebenarnya patut diapresiasi jika saja ada perlombaan suami siaga dan penuh kasih sayang selama menemani hari-hari istrinya semasa kehamilan. Selama itu Jeevans tidak ada keluhan sama sekali, dia malah menikmati perannya sekarang. Tetapi sebaik mana manusia berusaha, terkadang ada-ada saja kejadian yang tidak diinginkan.
Pagi itu Jeevans sedang berada di kantor, dan akan pulang pada jam makan siang, lalu akan kembali lagi ke kantor besok paginya lagi. Ya, Jeevans hanya setengah hari berada di kantor semenjak kandungan Katarina sudah masuk bulan ke-8. Dia begitu mengawasi pergerakan Katarina, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Juga Jeevans selalu ketakutan melihat perut Katarina yang terlalu besar.
Dan hari ini, sesuatu yang Jeevans takutkan terjadi. Rasanya jantung Jeevans berhenti sesaat mendengar kabar dari saudaranya kalau Katarina jatuh di kamar mandi, dan sekarang tengah di perjalanan ke rumah sakit ditemani Lucy yang kebetulan juga menginap dikediaman Ferrero. Jeevans pergi dengan terburu-buru membuat Hendery kebingungan.
Ketika Jeevans sampai di rumah sakit Katarina sudah masuk ruang operasi. "Mereka tidak akan kenapa-kenapa, kan?" Jeevans menatap kosong pintu ruang operasi.
"Katarina bahkan masih bisa tersenyum. Jangan khawatir, Katarina membutuhkan senyumanmu, bukan wajah khawatirmu." Lucy menarik adik iparnya itu untuk duduk di samping Eric.
Jeevans malah mendapati noda darah di lengan kakak iparnya, juga di lengan kemeja yang Eric kenakan. "Jangan berbohong padaku." Lirih Jeevans. Pikiran negatif lebih menguasai pikirannya. "Harusnya aku sudah mengambil cuti. Harusnya aku tetap menjaga mereka."
"Bukan hanya kau yang menjaga mereka, kita semua. Aku ada di rumah tadi, tapi yang namanya kecelakaan tidak bisa dihindari. Buang pikiran negatifmu itu, jangan jadikan sebagai sugesti yang membuat rasa bersalahmu menumpuk berlebihan." Lagi, Lucy memberikan nasehatnya walaupun itu terdengar cukup kejam, tampak seperti orang yang tidak punya rasa khawatir, bahkan terlalu santai melihat saudarinya tengah berjuang. Namun itulah Lucy, dia khawatir, tapi sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
Selebihnya tidak ada suara dari ketiganya. Mereka menunggu dalam diam, bahkan tidak punya keinginan untuk menghubungi pihak keluarga yang lain. Cukup lama mereka menunggu dalam keheningan, tiba-tiba saja pintu ruang operasi terbuka, sontak ketiganya mengarahkan pandangan ke satu tempat yang sama.
"Suaminya nyonya Katarina?"
"Saya, Dok." Jeevans mendekati sang dokter dengan harap-harap cemas.
"Mari ikut saya masuk."
--^
Kadang Jeevans berpikir Katarina adalah perempuan paling tangguh baik fisik maupun mentalnya. Dari awal Jeevans bertemu dengan perempuan berdarah Kim ini, hingga mereka terikat oleh janji pernikahan, Katarina selalu bisa menguasai dirinya, seperti apa yang diinginkannya. Mungkin Katarina menyerah apabila itu memang yang diinginkannya. Jeevans bersyukur karena hal itu, karena Jeevans tahu bahwa Katarina menyayangi anak-anak mereka, walaupun diawal sempat menolak kehadiran anak mereka, jelas, kerena kelakukan Jeevans sendiri.
Besok harinya pada waktu pagi menjelang siang hari, Katarina yang telah melewati masa kritisnya tadi malam, kini mata Katarina perlahan-lahan terbuka. Jeevans yang selalu berada di sisi Katarina tampak terkejut kala ada yang menyentuh lengannya, sontak Jeevans mengalihkan perhatiannya dari iPad-nya. Wajah terkejut Jeevans di balas dengan senyum tipis dari Katarina, Jeevans sampai lupa berkedip beberapa saat.
"Kamu sudah selesai istirahat? Apa ada yang sakit atau membutuhkan sesuatu? Aku panggil dokter dulu untuk memeriksa keadaanmu, ya." Tutur Jeevans dengan suaranya yang terdengar lembut.
Katarina menggeleng mendengar rentetan pertanyaan Jeevans. "Haus." Satu kata keluar dari mulutnya dengan suara terdengar serak.
Jeevans mengambil minum yang tersedia di nakas, kemudian membatu Katarina untuk minum. Sedangkan matanya fokus menatap wajah Katarina sampai si pemilik wajah keheranan.
"Bagaimana keadaan dua printilanmu?" Tanya Katarina setelah kembali merebahkan dirinya.
"Hah?" Jeevans melongok tidak mengerti maksud Katarina.
"Si kembar, Jeevans." Gemas, Katarina menarik pipi Jeevans. "Masa begitu saja tidak mengerti." Dumalnya kemudian.
"O'oh ...." Jeevans meringis dengan panggilan yang Katarina sematkan untuk si kembar. "Mereka baik kok. Pipinya gembul seperti bakpao." Raut wajah Jeevans langsung cerah seketika membayangkan wajah menggemaskan bayi kembar mereka.
"Yang lain mana?" Katarina membelokkan topik. Tidak kuat dia melihat wajah Jeevans yang kelewat senang.
"Mama sama baba ada di kantin. Teman-teman kamu sudah datang tadi pagi, sekarang mereka kerja. Kalau kakakmu pulang dulu ke rumah." Beritahu Jeevans tentang urusan anggota keluarga mereka. "Nanti sore si kembar jika sudah memungkinkan sudah bisa dibawa keluar dari inkubator. Kamu lihat foto mereka saja, aku sudah memfotonya untukmu."
"Sini, lihat." Katarina mengambil ponsel Jeevans, dengan si pemilik ponsel ikutan mendekat.
"Lucu, kan. Mereka seperti bakpao." Tutur Jeevans.
"Iya sih." Katarina mengakui itu. "Tapi tidak terjadi masalahkan?"
Jeevans menggeleng, "mereka kuat, jadi mereka baik-baik saja."
"Baguslah."
Seperkian detik kegiatan menganggumi kedua orang tua baru ini terganggu karena ada yang masuk ke dalam ruang rawat Katarina dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh.
"Wajah keponakanku sekilas mirip Yena tidak sih? Heran, kenapa tidak mirip aku saja." Lucy berbicara kepada Eric dan Hyunjin yang berjalan dibelakangnya.
"Bisa saja itu efek Katarina benci dengan Yena. Kalau mirip kamu berarti Katarina membencimu." Eric menimpali rasa iri Lucy.
"Tahu dari mana kamu?" Lucy menolak percaya.
"Hanya perkataan orang-orang sih. Tapi kenyataannya benar, kan."
"Katarina." Hyunjin melenggang pergi melihat Katarina bingung atas keributan yang tercipta, meninggalkan keributan istrinya dan Eric. "Sudah dari tadi kamu sadar?"
"Belum terlalu lama." Jawabnya.
"Makan dulu sini, Jev, dari kemarin malam kamu belum makan makanan berat." Panggil Lucy membuat Jeevans kontan beralih dari sisi Katarina.
"Tumben." Katarina memandang aneh atas perhatian kakaknya.
"Ucapan terima kasih katanya." Timbal Hyunjin yang kini duduk di tempat Jeevans tadi.
"Konsistensi, ya."
"Memang begitu sifatnya."
"Baguslah. Tidak lucu kalau rebutan si kembar nanti."
--^
Note
2 chapter lagi kayaknya. Atau cuma 1 ku gabung saja.
Kalau ada typo, komen.

KAMU SEDANG MEMBACA
Peran Antagonis ° JenRina
Romance(Belum revisi) Katarina yang terkenal akan pribadi lemah lembut membuat dirinya disukai banyak orang. Tetapi sejatinya manusia tidak ada yang sempurna, meski begitu Katarina adalah tipe orang yang sekali bicara langsung ngena ke jantung apabila dia...