Chapter (37) Amarah Belum Surut

725 57 18
                                    

Pagi ini Katarina mengunjungi kembali suaminya, setelah beberapa hari dia tidak datang, tentu karena pekerjaan juga larangan dari ayahnya. Katarina datang karena mendapatkan kabar dari mertuanya yang mengatakan kalau Jeevans sudah siuman. Katarina cukup bahagia, tentu. Namun rasanya terganti begitu saja kala kedatangannya disambut dengan pertengkaran dua orang yang tidak ingin dia lihat dalam ruang lingkup yang sama.

Katarina yang memang mudah terpancing emosi, lalu pengaruh hormon kehamilannya, membuat dia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih. Mata indahnya berkilat tajam seiring emosinya kian meningkat. Di sana, dibalik keributan yang kedua orang perbuat, seorang wanita paru baya yang merupakan mertuanya, menatapnya dengan pandangan cemas. Jelas, situasi seperti ini tidak ada yang mengharapkannya.

Katarina memasuki ruang rawat dalam diam, hingga keduanya tidak merasakan kehadirannya. Sang mertua yang berniat untuk melerai kegaduhan yang sedang berlangsung, urung ketika suara tamparan bergema di ruang tersebut, berhasil menghentikan kegaduhan yang membuat siapa saja yang mendengarnya sakit kepala.

Lalu, siapa korban tamparan tersebut?

"Aku belum memberikan pelajaran padamu." Tutur Katarina enteng. Dia bahkan tidak perduli jikalau hal itu membuat keadaan suaminya kembali memburuk.

"Apa kau tidak melihat keadaan Jeevans? Kau menamparnya sekuat itu, Katarina." Yena menatap Katarina marah. Ada ya orang bersikap semenyeramkan Katarina?

"Apa kau juga tidak melihat? Kau sendiri cekcok dengan Jeevans. Kita ini sama saja, Yena. Jadi jangan sok mengingatkan ku. Dan, siapa yang menyeluruh kau ke sini?"

"Memangnya kenapa? Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk datang."

"Yena." Mama Jeevans yang sudah lelah dengan keluarganya. Bebal sekali kalau diberitahu.

"Aku," ucap Katarina dengan ekspresi marahnya, "aku yang melarang kau datang. Apa kau benar-benar ingin ku lenyapkan? Kau mau mati hari ini, hah?!"

"Kau tidak akan berani." Yena menantang Katarina. Di sini ada Jeevans dan bibinya, sebagai keluarga, mereka tidak akan membiarkannya meregang nyawa ditangan orang asing.

Katarina terkekeh geli melihat kepercayaan diri Yena. Kalau saja Katarina tidak mengetahui dibalik semua adalah Yena, Jihan pasti sudah lenyap dari dunia. Sekarang lihat, dalangnya sangat tidak menghargai yang namanya kesempatan. Lalu, untuk apa memberikan lagi kesempatan kepada orang yang tidak bisa menghargai?

Maka, dengan gerakan cepat Katarina mendorong Yena menjauh dari sisi Jeevans, dia mengambil pisau buah di nakas, tanpa bisa dicegah, pisau itu menggores lengan Yena, seketika darah mengalir deras hingga jatuh ke lantai. Baik Jeevans maupun mama Jeevans terkejut, sedangkan Yena jatuh terduduk mengerang kesakitan.

"Kau menantang ku, kan?! Kau salah Yena, aku sangat suka berlumuran darah kalau kau mau tahu." Dari sorot matanya, terlihat jelas bahwa sosok ini haus akan darah. Matanya menyorot tajam seolah tidak sabar untuk menyerang kembali.

"Jangan mendekatinya." Ucap Katarina menghentikan niat mertuanya.

"Katarina, biar Mama yang mengurusnya, akan Mama bawa dia menjauh hingga tidak akan menampakkan diri di depan kalian. Tapi biarkan dia hidup untuk kali ini, ya." Mama Jeevans berbicara selembut mungkin.

"Dia yang menantang ku. Dia harus tetap di sini." Katarina melirik mertuanya lewat ujung matanya, tidak ingin diajak untuk berkompromi.

"Ka-"

"Kau ingin membelanya?" Katarina tidak memberikan kesempatan Jeevans untuk berbicara. "Pilih anakmu atau dia, Jeevans Ferrero? Aku tidak akan melepaskan salah satunya untuk kedua kalinya kau memilih."

"Apa kau yakin kau masih hamil Katarina? Kau jangan tertipu olehnya. Wanita itu pasti sudah menipumu, Jeevans."

"Yena, tidak bisakah kau kunci mulut sialanmu itu?!" Marah mama Jeevans. Sudah tahu diujung tanduk, masih saja bermulut licin.

"Katarina tidak mungkin berbohong. Aku bisa merasakannya. Dia bahkan menggunakan kemejaku, itu pasti bukan keinginannya, tapi calon anak kami. Dan kau jangan mengharapkan calon anakku mati. Dasar sialan!"

"Jeev." Yena menatap Jeevans takut. Kalau Jeevans tidak membelanya bagaimana?

Katarina mengerjab pelan menatap Jeevans. Dia penasaran apakah Jeevans memang bisa merasakan kehadiran calon anak mereka? Sebegitu kuat kah ikatan mereka?

Jeevans menarik Katarina mendekat, memeluk Katarina hati-hati takut menyakiti keduanya. Memang Katarina menggunakan kemeja Jeevans saat ini, pun parfum Jeevans menutupi wangi khas Katarina. Bagaimana Jeevans tidak percaya, Katarina itu tidak suka menggunakan barang yang bukan miliknya. Lalu, dia merasa ada dorongan tak kasat mata yang membuatnya juga ingin berdekatan dengan Katarina, diluar rasa cintanya terhadap istrinya itu. Benar, Jeevans menyadari selama ini dia telah mencintai Katarina, temannya semasa kuliahnya yang selalu bersamanya.

"Tentu saja aku memilih anak kita. Aku sudah menunggunya cukup lama. Sayang, jangan biarkan dia pergi, dan kalian berdua tetaplah bersamaku."

Katarina membeku mendengar penuturan Jeevans. Tidak ada kata-kata romantis dalam kalimat tersebut, hanya saja rasanya seakan Jeevans tengah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

"Aku tidak cukup mengerti akan perasaanku. Tapi aku merasa sangat nyaman dan tidak ingin jauh darimu, Katarina." Jeevans ngedongak menatap Katarina yang ternyata juga menatap dirinya.

"Dasar, tidak romantis." Dumal Katarina.

"Aku kan memang tidak romantis dari dulu." Jeevans tidak ingin disalahkan.

Lalu, ketika dokter datang untuk kembali memeriksa keadaan Jeevans, perawat yang mengikuti sang dokter seketika jatuh terduduk diambang pintu, tanpa suara, dia diam membeku. Sedangkan sang dokter, menatap kosong pemandangan di depannya. Seorang wanita tengah menduduki wanita lain yang kini telah bermandikan darah. Bau anyir mengalahkan bau menyengat khas obat-obatan dalam ruangan tersebut.

"Ini masalah keluarga." Ucap pasien seolah mengingatkan untuk tidak ikut campur.

-^-

Kayaknya pengganti cerita ini, ini aja deh. Biar yang satunya nanti aja kalau udah mendekati ending.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Peran Antagonis ° JenRina Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang