Chapter (25) Mengganggu Sarang Lebah

603 52 3
                                    

"Bagaimana kalau aku mencintainya seperti orang gila? Ah tidak, maksudku mengganggunya seperti orang gila saja. Memangnya aku mencintainya? Sepertinya tidak juga." Katarina tiduran terlentang dengan pikiran melayang kemana-mana.

Katarina menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka, Jeevans masuk dengan tampang seperti biasa, tampaknya tidak ada kejadian yang membuatnya kerepotan hari ini. Apa aku ganggu saja dia? Batin Katarina. Ia tidak tahan melihat pria itu duduk santai dengan kemeja putih digulung hingga siku, lalu dirinya yang sibuk kembali dengan dokumen ditangannya.

"Ada yang ingin kamu katakan? Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Jeevans tanpa menoleh kepada Katarina yang asat melihat dirinya.

Katarina tidak menjawab, dia masih bergulat dengan pikirannya. Puas bergulat dengan pikirannya, Katarina beranjak mendekati Jeevans, lalu dia berdiri tepat dihadapan Jeevans.

Jeevans mendongak menatap Katarina dengan tampang kebingungan jelas terlihat diwajahnya. Tampang kebingungan itu berganti dengan kerutan di dahinya, membuat Jeevans kini berpikir yang tidak-tidak, pasalnya kini Katarina duduk bersimpuh di lantai dengan kepala di atas pahanya.

"Kamu membuat masalah apa hari ini?" Tanya Jeevans to the point. Mereka berdua jarang akur akhir-akhir ini, tentu saja merasa aneh dengan tingkah Katarina.

"Aku tidak." Jawab Katarina. Dia malah menyamankan posisinya. "Kamu lanjut saja dengan pekerjaanmu." Lanjutnya.

Jeevans mengidikkan bahunya, membiarkan Katarina menempel padanya. Hingga beberapa menit berlalu begitu saja, Jeevans menunduk merasakan remasan pada pahanya.

Katarina tersenyum menatap Jeevans balik. Ia menegaskan sedikit tubuhnya untuk memeluk pinggang Jeevans, menyembunyikan wajahnya di perut Jeevans, disambut dengan elusan di kepalanya.

"Jeevans."

"Hm?"

"Jangan ganggu aku."

"Hah?" Jeevans lagi menunduk, disambut dengan senyuman lebar dari wanita yang memeluknya.

"Boleh aku punya kegiatan sendiri? Tapi kamu jangan mengganggu aku." Katarina membuat pola abstrak di paha Jeevans, pun dengan mata yang memberikan kode maksud dari ucapannya.

Jeevans yang menangkap maksud itu sontak terkekeh pelan. "Oh, tumben?"

"Boleh tidak?" Katarina malah bertanya balik.

"Silahkan saja."

"Bagus!" Katarina semangat melakukan aksinya. Namun setelah itu dia menatap Jeevans seolah mengatai pria itu, "kamu juga bersemangat, eh? Aku baru menyentuh, lho ...."

Jeevans tidak merespon, dia hanya menepuk-nepuk kepala Katarina sebentar sebelum fokus kembali dengan pekerjaannya.

Katarina mendengus kesal. Ingin sekali rasanya dia meremas kuat hingga patah. Rasakan hidupmu akan impoten setelah ini!

Katarina yang merasakan akan ada sesuatu yang keluar, buru-buru berdiri dengan niat mengambil benda yang dia tinggalkan di atas kasur. Tetapi langkahnya terhenti karena Jeevans memegang lengannya.

"Selesaikan dulu kegiatanmu." Suruh Jeevans.

"Aku mau mengambil ponsel." Jawab Katarina dengan tampang tidak berdosa. Jeevans melepaskan pegangannya membiarkan Katarina dengan tingkah tidak normalnya.

Katarina kembali lagi, duduk bersimpuh ditempatnya semula, pun dengan kegiatannya yang sempat tertunda. Katarina memainkan ponselnya bergaya seperti orang sibuk yang tengah membahas suatu rencana strategi marketing, lengkap dengan cemilan yang wajib menemani waktu sibuknya.

"Bisa kamu bermain ponsel dengan mulut tersumpal penuh begini." Jeevans tidak bisa berkomentar lebih lagi.

Katarina melempar ponsel ke sofa samping, ia harus menyelesaikan kegiatannya sesuai rencananya. Merasa cukup, dia menjauhkan wajahnya menggantikan dengan tangannya hingga wajahnya menjadi sasaran, tepat setelah dia menutup matanya.

Jeevans yang berniat mengelap wajah Katarina ditahan oleh pemilik tubuh. "Aku sengaja ingin menjadikannya sebagai skin care. Lagipula makanan mu sehat, ya, walaupun kamu mengkonsumsi kafein lebih banyak, lalu sedikit alkohol."

Ceklek

Katarina sontak memanjat tubuh Jeevans, memperlihatkan wajahnya yang belum dibersihkan.

"Siapa itu?" Tanya Jeevans. Dia tidak bisa menoleh karena Katarina menghimpitnya.

"Aku sudah meletakkan cek di meja dekat pintu. Tolong kamu urus sisanya ya, Yena." Katarina tersenyum mendapatkan respon seperti apa yang dia harapkan. Ah, memastikan itu lebih baik.

"Tentu saja, serahkan padaku." Yena buru-buru keluar dari sana, sepertinya dia sedikit mengganggu.

Untuk melihat seberapa banyak lebah tersebut, maka ganggu sarangnya, bukan?

"Aku memberikan sebagian tanggung jawab acara tahunan Ferrero kepada Yena." Ucap Katarina seolah menjawab pertanyaan Jeevans. "Jeevans, mandilah, berhenti mengurusi pekerjaanmu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Katarina beranjak pergi masih dengan meratakan sesuatu di wajahnya.

Jeevans tidak bisa untuk tidak waspada. Apa yang tengah direncanakannya?

--^

Note

Aku sudah menentukan ending untuk cerita ini. Kalau mau marah dengan Jeevans ya marah saja. Pikiran tidak benar memang perlu di luruskan.

Untuk kalian yang pernah membeli salah satu chapter berbayar, silahkan chat aku di Wattpad untuk mendapatkan voucher untuk akses chapter berikut secara gratis. Oh ya, tolong sertakan bukti pembelian, ya ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Peran Antagonis ° JenRina Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang