Disclaimer : plot milik author, if you don't like, just leave peacefully. Love youuu 💚
.
"Minum ini Hyuck.. setidaknya dapat mengurangi rasa mual di perutmu."
Donghyuck yang sedang melamun sembari menatap pada langit senja di hadapannya, menoleh dan menerima secangkir teh hangat dengan sebuah irisan lemon di dalamnya. Donghyuck meminumnya dan mendesah pelan kala kerongkongannya merasakan hangat yang terus mengalir ke dada hingga perutnya. Membiaskan rasa mual yang sejak tadi cukup mengganggu Donghyuck.
"Terimakasih, Xiaojun hyung.. maafkan aku.."
Xiaojun duduk di samping Donghyuck, kini keduanya berdampingan memandangi langit melalui jendela balkon dari unit apartemen Xiaojun.
"Kenapa meminta maaf, Hyuck?"
"Karena kau jadi harus cuti hanya karena menemaniku. Mulai besok tinggalkan aku saja, aku tidak apa, sungguh. Lagipula aku akan ke Rumah Sakit lagi besok. Semoga Chenle segera sadar.. aku merindukannya hyung."
Donghyuck menyenderkan kepalanya di bahu Xiaojun, berdekatan dengan Xiaojun terasa memiliki kenyamanan yang sama dengan Hendery. Donghyuck merasa terlindungi dan disayangi. Mata Donghyuck terpejam, memutus pandangan dari indahnya langit sore. Pikirannya melayang mengingat permintaan dari Taeyong.
"Donghyuck.. Bubu mohon padamu untuk tidak bercerai dari Mark."
Taeyong menggenggam jemari Donghyuck, meminta suatu hal yang terdengar sangat mustahil untuk saat ini.
"Bubu, maafkan aku... aku sudah menyerah, rasanya begitu melelahkan dan aku benci menjadi lemah. Setelah kupikirkan semuanya dengan matang, rasanya aku tidak membutuhkan Mark di sisiku. Bahkan selama ini aku selalu sendirian, terikat bersama dengan seseorang yang tidak menghargai dan menginginkanku rasanya sangat menyakitkan, Bubu..."
"Hyuck-ah..."
Donghyuck melepaskan genggaman tangan Taeyong, lalu meremat jemari lentik dan kurus milik Taeyong. Donghyuck yang kini menangkup kedua tangan sang mertua.
"Bubu.. aku.. aku juga ingin.. memiliki seseorang seperti Daddy Jae, aku iri padamu.. Daddy Jae selalu menunjukkan rasa cintanya untukmu.. matanya penuh dengan cinta ketika memandangmu. Jung Jaehyun benar-benar mencerminkan seorang pria yang menjadi idaman bagi seluruh wanita dan submissive di dunia ini..."
Donghyuck terdiam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak pernah mendapatkan setitik saja rasa cinta dari suamiku sendiri. Aku selalu berpikir dosakah aku jika bercerai? Tapi, Bubu... bukankah jika aku tetap bersama Mark pun sama saja kami berdosa? Hidup berdampingan dengan segala sesuatu yang tidak kita harapkan. Pernikahan kami seperti bom waktu. Dan aku tidak mau menjadi korban yang terkena percikkannya, aku harus pergi sebelum bom itu meledak..."
"...Aku... aku hanya ingin.. merasa dicintai seperti Daddy Jae mencintaimu, Bubu.."
"Donghyuck.. tapi bagaimana dengan Chenle? Dia masih terlalu kecil dan membutuhkan sosok ayah..."
"Selama ini Mark bahkan tidak pernah berusaha untuk sekedar dekat dengan Chenle, jadi kurasa bukan sesuatu yang sulit bagi Chenle. Bubu jangan khawatir, aku akan sering berkunjung ke kediaman Jung bersama Chenle..."
Taeyong sedih sekali, jangan pernah tanyakan perasaan Taeyong saat ini. Taeyong menyayangi Donghyuck seperti anaknya sendiri, tidak rela jika pada akhirnya perceraian menjadi jalan akhir dari pernikahan anak tunggalnya.
---
Kantor kepolisian kota Seoul tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa petugas polisi yang sedang menginterogasi ataupun mencari informasi. Salah satunya adalah Yeri. Yeri duduk sebagai pesakitan di sana. Menunduk dan tidak membuka mulutnya sepatah katapun mendengar setiap pertanyaan yang keluar dari polisi yang duduk di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HEAVEN [END]
FanfictionHaechan Suh tidak pernah meminta untuk dilahirkan tanpa diberikan kasih sayang, tidak pernah meminta untuk menikah tanpa dicintai. Bagaimana jika hati yang begitu kuat telah mencapai batasnya? Bukankah benar yang dikatakan bahwa seseorang tidak aka...
![HEAVEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/355391789-64-k908308.jpg)