Surrender

16K 1K 79
                                        

Disclaimer : Nama tokoh, visualisasi hanya meminjam karena ini fanfic, don't like please don't read. Simple, okay?






.






Klik, cklik, klik, cklik.

Mata pisau yang begitu pipih dan tipis itu keluar masuk dari cangkangnya yang berupa pulpen. Yeri terus menerus menekan puncak pulpen yang diberikan oleh Donghyuck. Beberapa kali kepala Yeri menggeleng, berusaha untuk meyangkal semua yang terjadi di hidupnya. Namun, ribuan kali jugalah kenyataan menyadarkannya.

"Apa kau sungguh-sungguh ingin menghabiskan waktumu di lapas? Simpan baik-baik dan gunakan kapanpun kau merasa ingin menyerah. Pesanku hanya satu, menyerahlah jika memang batasmu sudah kau langkahi."

"10 tahun? Tapi aku tidak membunuh bocah kecil itu.. aku tidak membunuhnya... dia masih hidup bukan? Kenapa hukumanku seberat ini?"

"Apa dunia akan berubah setelah sepuluh tahun nanti berlalu? Siapa yang mau menerimaku kelak? Apa aku akan sendirian? Mark. Mark ... kenapa kau meninggalkanku... huks.."

Yeri meneteskan air matanya dengan posisi tidur menyamping di ranjang besi dengan busa yang tipis. Kakinya meringkuk karena udara dingin yang menusuk namun lapas tidak menyediakan selimut bagi pada tahanan sepertinya. Jemarinya masih memainkan pulpen yang diberikan oleh Donghyuck. Yeri mempercepat pencetannya di pulpen tersebut sambil memejamkan mata. Telinganya terasa masih berdengung dan mengingat semua yang Mark ucapkan padanya sore tadi.

Mark mengunjungi Yeri. Menatap miris dan sinis pada wanita yang tampak begitu kacau. Wajahnya yang terlihat pucat namun masih menyiratkan kecantikan alami, paras yang pernah mengisi hati dan pikiran Mark cukup lama. Mark dapat melihat binar mata Yeri yang menyiratkan harapan ketika melihat bahwa akhirnya Mark mengunjunginya.

Sayangnya, bukan harapan yang akan Mark berikan pada Yeri saat ini.

"Mark.. aku tahu kau pasti akan datang dan menyelamatkanku. Tolong bebaskan aku Mark.. aku tidak bersalah.. aku mencintaimu, sungguh aku hanya ingin bersamamu... tolong aku ya?"

"Yeri..."

"Di sini dingin sekali, aku bahkan tidak memiliki alas kakiku sendiri. Tubuhku sakit, makanannya juga mengerikan... kumohon bebaskan aku Mark.. bawa aku pergi dari sini... kau datang untuk itu bukan?"

"Let's break up."

"Hhh? A—apa?"

"Yeri.. hubungan kita sampai di sini, aku ingin mengakhirinya. Aku sadar jika aku egois, tidak ingin kau pergi dari sisiku di saat aku sudah menikah dengan Haechan. Namun, perbuatanmu pada anakku, Chenle.. aku tidak bisa memaafkanmu sampai kapanpun.. bayangkan jika malam itu aku tidak terbangun dan tidak berinisiatif untuk melihat Chenle di kamarnya.. ahh gila, anakku pasti sudah meninggal.."

"Mark.. Ma—"

"Rasa cintaku padamu hilang tidak berbekas setiap kali mengingat perbuatan kejimu. Bahkan kini, setiap aku melihat Chenle, aku selalu melihat kembali bayang-bayang Chenle yang meregang nyawa karenamu. Karena itu, jalanilah masa hukumanmu di sini, Yeri. Aku tidak akan pernah kembali kemari. Ini kunjunganku yang pertama dan terakhir. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Kim Yeri, we're done."

Yeri masih tampak mencerna semua ucapan yang terlontar dari bibir Mark. Sejurus kemudian Yeri menggelengkan kepalanya berkali-kali, menangis histeris dan memukul-mukul pembatas kaca yang memisahkan dirinya dengan Mark saat ini.

"Tidak! KAU BILANG AKAN MENIKAHIKU! MARK!"

"Tidak lagi, Yeri-ya... aku tidak akan menceraikan Haechan, dia sedang mengandung sekarang."

HEAVEN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang