Given

12.6K 806 95
                                        

Disclaimer : Part ini mungkin ada pro dan kontra, tapu gpp karena itu bagian dari alur. Inget ya darling, beda pendapat boleh tapi menghargai itu harus. Asekkkk ~~~





.




Bocah kecil berkulit seputih susu itu tampak tertidur lelap, lengan mungilnya memeluk sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru. Pipi sang bocah menempel di permukaan boneka miliknya. Sebelah kaki menaut di paha yang ukurannya jauh lebih besar darinya, menganggapnya seakan guling.

Donghyuck mengusap pelan rambut Chenle, Chenle menggeliat kecil lalu Donghyuck dengan lembut menepuk-nepuk bokong Chenle sehingga tubuhnya kembali jatuh dalam tidur nyenyak.

Sebelah tangan Donghyuck yang lain memegang dua lembar tiket pesawat dengan tujuan Seoul. Mark yang memberikannya, pria jangkung itu pergi meninggalkan Donghyuck setelah mendapat telepon yang mengabari jika Ten harus segera di operasi. Mark kembali tidak lama setelahnya, menyerahkan dua lembar tiket.

"Pesawatnya akan take off dua jam dari sekarang. Kumohon padamu, Haechan.. kembali bersamaku ke Seoul, Ten mom membutuhkanmu..."

Donghyuck menghela nafas kasar, kembali menyandarkan kepala di dashboard ranjang dan menengadahkan kepalanya berat sekali. Matanya terpejam. Perlahan, jemari yang awalnya mengusap rambut Chenle, berpindah ke dada. Donghyuck berdoa. Hanya dengan berdoa-lah dirinya dapat berkeluh kesah selama ini. Setidaknya, hal baik yang didapat Donghyuck dari Johnny adalah ketaatan Johnny dalam beribadah. Donghyuck sejak kecil selalu mengingat perkataan dari pemimpin ibadahnya.

"Serahkanlah segala kuatir dan masalahmu pada Tuhan. Dia hanyalah sejauh doa."

Ucapan yang selalu terngiang sejak dirinya masih belia, dan Donghyuck memang melakukannya. Berkeluh kesah pada Tuhan ternyata tidak buruk, hatinya seringkali merasa lega setelah berdoa. Maka, kali ini pun Donghyuck berdoa.

Sebulir air mata menetes dari sudut mata Donghyuck, mengaliri pipi dan terus meluncur hingga dagu, kemudian bulir air asin tersebut jatuh tepat di atas mata Chenle yang terpejam. Mengusik dan membuat mata kecil yang tadinya terpejam menjadi mengerjap.

"Mom Chan.. napa?? Uhh"

Chenle mengusak matanya yang basah sebelah. Kantuknya mulai menguap, tadi Chenle tertidur selama hampir 40 menit. Donghyuck sendiri terkesiap dari doa-nya ketika mendengar suara Chenle. Dengan segera mengusap wajah menggunakan punggung tangan.

"Hhks,, ah tidak apa, Chenle..."

Donghyuck kembali menatap wajah Chenle. Chenle kecil yang begitu dicintainya. Dan anehnya, saat ini orang yang mencintai Chenle semakin bertambah. Mulai dari Ten, Johnny hingga Mark. Donghyuck mengelus pipi Chenle yang terasa begitu lembut. Manik mata Donghyuck bergulir melihat jam.

Masih ada waktu untuk memutuskan.

"Lele.. sayangnya mom... apa Lele mencintai mom?"

Chenle memiringkan kepalanya lucu. Lalu mengedip-ngedipkan kedua mata dan mengangguk ribut.

"Lele cintaaaaa mommy.. ehee.."

Sudut bibir Donghyuck naik, membentuk lengkungan menjadi senyum.

"Chenle... mmm, how about Daddy? Lele sayang tidak?"

Chenle tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab, otak kecilnya memang tidak terlalu memiliki memori kebersamaan bersama sang ayah, malah terkadang Chenle kecil takut karena sang ayah jarang menunjukkan sikap ramah padanya, hanya beberapa saat terakhir saja Chenle sedikit lebih dekat dengan sang ayah. Membutuhkan waktu yang agak lama memang, namun Chenle tetap mengangguk.

HEAVEN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang