Chapter 38

1.3K 24 2
                                        

Happy Reading All🤍

Hari sudah berganti, selama dua hari kemarin Vellyn rawat inap di Rumah Sakit, di karenakan kondisi tubuhnya yang sangat lemas.

Kini, Vellyn sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, selama dua hari Vellyn dirawat, Varez tidak masuk sekolah, katanya Ingin merawat Istrinya yang sedang sakit itu.

ceklek Suara pintu ruangan terbuka, menampakkan Varez yang baru saja menghampiri Vellyn.

"gue kan udah bilang, jangan beresin barangnya, biar gue aja yang beresin,"

"bandel banget jadi cewe" ujar Varez seraya mengambil alih tas yang sedang Vellyn rapikan.

Vellyn menghela napasnya sebelum ia berbicara. "lagian lo lama, gue kesel diem terus, mau cepet pulang tau gak?"

Varez mengangguk. "iya tau, sabar dikit Vell, tadi gue cek kondisi Raffa dulu kan," jawabnya.

"hm iya-iya, bye the way gimana kondisi Raffa?" tanya Vellyn sembari menatap Varez.

"semalem dia udah sadar, cuman belum pulih bener" jawab Varez padanya.

"syukurlah kalo gitu," ujar Vellyn, lalu dibalas anggukan oleh Varez.

"ya udah ayo, gue mau pulang, kangen rumah" ajak Vellyn dengan semangat.

Varez meloloskan napasnya dengan satu hembusan. "nanti di rumah juga rebahan lagi, lagian dokter nyuruh lo pulang nanti sore, dan ini masih pagi, Vellyn."

Mendengar itu, Vellyn memasang wajah kesalnya. "kenapa gak bilang sih? kan gue mau pulang sekarang, Varezzz, gamau soree" ucap Vellyn dengan merengek selayaknya anak kecil.

"(sialan, gak bisa gue kalo liat Vellyn udah ngerengek)"

Varez melangkahkan kakinya dan mengajak Vellyn untuk duduk kembali di sofa ruangan tersebut.

"duduk dulu disini, nanti gue bilang sama dokternya, sabar ya sayang?" ucap Varez dengan mengecup pucuk kepala Vellyn.

Vellyn hanya membalas ucapan Varez dengan anggukan saja, ia menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki tersebut.

Varez tidak berhenti mengecup dan mengusap pucuk kepala Vellyn, sampai-sampai ia tidak tahu bahwa Vellyn kembali tertidur.

"Vell, kalo nanti kita punya anak gimana ya? gue gak tega ngeliatnya, waktu kemarin-kemarin aja gue gak tega, gimana kalo nanti?" ujar Varez bermonolog.

Karna merasa tidak ada jawaban setelah beberapa menit Varez terdiam, ia melihat wajah Vellyn yang sedang tertidur dengan pulas.

"tidur, pantesan gue ngomong gak dijawab." ucapnya.

Varez pun membiarkan gadisnya untuk tidur dibahunya seraya dia rangkul, ia tidak tega jika harus memindahkannya.

Saat Varez hendak mengambil ponselnya, suara pintu ruangan terbuka lebar, terdapat teman-temannya yang berdiri disana dengan heboh.

"jangan berisik, Istri gue lagi tidur." peringat Varez yang tidak ingin gadis cantiknya terganggu.

Ketiga pria itu tersenyum seraya mengangkat jarinya dan membentukan seperti huruf V. Mereka mulai menutup kembali pintu ruangan tepat dimana Vellyn dirawat.

Valyn life's {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang