Happy Reading
– "Simulasi dulu katanya"
Masih dengan hari yang sama, Vano dan Kaisya datang ke rumah bersama kedua anaknya. Yang tadinya Varez dan Vellyn ingin menghabiskan waktu seharian berdua, namun mereka di titipi dua anak sekaligus.
"nanti gua jemput mereka maleman ya, sorry banget ngerepotin Vell." ucap Vano dan dibalas gelengan oleh Vellyn.
"gapapa bang santai aja, mau aku bangunin Var-"
"ah gak usah Vell, kasian kalo lagi tidur. Kita juga buru-buru ini" ucap Kaisya yang dengan cepat memotong ucapan Vellyn.
Lalu mereka pergi meninggalkan rumah Vellyn, sementara Vellyn kembali memasuki rumahnya dan menemui Rafael yang sedang bermain game di ponsel mililnya, dan adiknya Rania yang sedang tertidur.
"Ael sayang, tante ke atas dulu ya mau bangunin om kamu dulu" ucap Vellyn yang diangguki oleh Rafael. "oke aunty"
ceklek– pintu kamar terbuka oleh Vellyn, terlihat Varez yang sudah terbangun dan sedang bermain ponsel.
"Rez, gue kira lo masih tidur, kenapa gak langsung ke bawah? ada anak-anak di bawah" ucap Vellyn berbicara pada suaminya dengan mendudukan dirinya di tepi ranjang.
Varez mematikan ponselnya lalu mengerutkan kening. "anak-anak siapa sayang? emangnya anak kita udah lahir? ini gua masih tidur kayanya Vell"
Vellyn terkekeh dengan menggelengkan kepalanya. "maksud gue itu di bawah ada Ael sama Rania, tadi bang Vano sama kak Kaisya kesini, katanya nitip mereka berdua dulu disini, nanti malem di jemput"
"emangnya mau pada kemana? tumben gak dititipin ke Bunda, mereka kan tau sayang kamu lagi hamil gak boleh kecapean" ucap Varez dengan menghela napasnya.
"gapapa kan ada kamu yang bantu jaga mereka juga, itung-itung simulasi lah Rez."
"bunda juga lagi ada arisan kan hari ini?" ujarnya kembali. Varez menganggukan kepalanya, ia mengecup kedua pipi dan bibir Vellyn. Lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Vellyn yang sudah biasa dengan sikap Varez lakukan padanya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Selang beberapa menit saja, Varez sudah kembali dengan wajah yang terlihat segar.
"mau ke bawah? apa mau bawa anak-anak ke sini aja?" tanya Varez seraya bercermin.
Vellyn menghela napasnya sebelum ia akan menjawab. "bawa ke sini aja deh Rez, tadi gue mau bawa Rania gak kuat, dia di tidurin di ruang keluarga sama Bang Vano tadi"
Varez mengerti akan hal itu dan mengangguk. "gapapa sayang lagian mana boleh lo angkat yang berat-berat, gua pindahin Rania dulu kesini, sekalian Ael suruh tidur" katanya dan dibalas anggukan oleh Vellyn.
Tanpa berlama-lama, Varez pun segera pergi ke bawah untuk memindahkan Rania agar tertidur nyaman. Begitupun dengan Rafael yang di ajak untuk ikut ke atas.
Suara tangisan Rania membuat Varez mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga. Ia langsung memangku keponakannya.
"hei cantik, kamu udah bangun sayang" kata Varez seraya merapikan rambut Rania yang berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Valyn life's {End}
Novela Juvenilperjodohan yang Vellyn duga itu kesengsaraan ini malah sebaliknya, yaitu munculnya KEBAHAGIAAN. ⚠️BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ Bijaklah dalam membaca. DILARANG KERAS MENJIPLAK CERITA SAYA. "Vell gua kira perjodohan yang berasal dari keluarga...
