Chapter 46

1.1K 22 0
                                        

Masih dengan hari yang sama, Vellyn dan Varez kini berada di kamar milik Vellyn. Tak lupa dengan seorang bayi mungil yang berada di gendongan Varez.

Mereka memilih membawa bayi itu ke kamar Vellyn, karena Eksa sempat menangis. Varez memberi asi pada Eksa dengan dot yang sudah tadi Vellyn siapkan. Bayi mungil itu menatap Varez terus menerus seraya menikmati asi-nya.

Sedangkan Vellyn menyiapkan kasur bayi di atas ranjang tempat tidurnya, ia berpikir Eksa akan tertidur kembali saat sudah di beri Asi.

Namun dugaannya salah, bayi itu tidak tertidur melainkan menangis kembali. Varez yang bingung akan menenangkannya segera menghampiri Vellyn. "Vell, coba lo yang gendong, soalnya Asi udah habis" ucap Varez.

Vellyn pun beralih menggendong Eksa dan menidurkannya di kasur yang sudah ia siapkan tadi, sedangkan Varez juga ikut merentangkan tubuhnya di samping kanan Eksa.

Mereka berdua mengajak bayi mungil itu bermain dengan tangannya, meskipun belum terlalu mengerti tetapi sesekali bayi itu tersenyum. Ditengah-tengah keduanya asik membawa Eksa main, rasa mual menyerang perut Vellyn kembali.

Ia langsung beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Hal itu membuat Varez ikut beranjak, sedangkan Eksa di biarkan sendirian dengan dua guling mungil di samping kanan kirinya sebagai penahan.

"Vell, mual lagi?" tanya Varez seraya membantu memijat tekuk leher Vellyn agar mudah mengeluarkan isi perutnya.

Vellyn terus menerus mengeluarkan isi perutnya, namun hanya terlihat cairan saja. "ke dokter ya sayang? gua gak mau liat lo kaya gini terus" ucap Varez seraya menahan tubuh Vellyn agar tidak tersungkur ke belakang.

Vellyn menggeleng dengan pelan. Ia kembali mengeluarkan isi perutnya meskipun hanya ada cairan saja. Di saat Varez sedang menemani Vellyn, Bintang masuk ke dalam kamar adiknya untuk membawa Eksa.

Terlihat anaknya sedang mengigiti lengan dirinya sendiri, saat Bintang akan memangku Eksa, ia mendengar suara Vellyn yang sedang muntah-muntah.

Karena penasaran, Bintang memangku anaknya terlebih dahulu lalu menghampiri mereka yang sedang berdiri di wastafel kamar mandi. "ada apa? lo kenapa, Vell?" tanya Bintang saat melihat kondisi adeknya yang terlihat sedang lemah.

Vellyn menggelengkan kepalanya kembali dengan pelan. "gue gapapa bang, sorry Eksa jadi kita tinggal sendiri" ucapnya ditengah-tengah rasa mual yang menghadang.

Varez menganggukan kepalanya. "sorry bang," ucapnya yang dibalas gelengan oleh Bintang. "gapapa Rez, santai aja. Thanks ya kalian udah jagain Eksa, gua ke bawah dulu, nanti kalo ada apa-apa panggil kita di bawah" kata Bintang seraya menepuk pundak Adik iparnya.

Bintang pun segera pergi dari kamar Vellyn dengan Eksa yang ia gendong. Sementara Vellyn masih saja berusaha mengeluarkan isi perutnya.

"sayang jangan terus-terusan di keluarin," ucap Varez yang melihat tidak ada apa-apa di wastafel.

Vellyn menatap Varez setelah ia membasuh wajahnya, ia menangis. "mual Rezz, perut gue rasanya kaya di aduk-aduk lagii" katanya dengan menangis.

Varez mendekap istrinya seraya mengusap kepala Vellyn dengan lembut. Kemudian ia membawa istrinya ke atas ranjang untuk beristirahat.

"kamu tiduran dulu ya, aku mau bawa air anget dulu" kata Varez seraya mengusap kepala Vellyn yang dibasahi dengan keringat dingin.

Vellyn menggelengkan kepalanya, ia menahan tangan Varez agar tidak pergi. "disini aja Rez, jangan tinggalin gue, perut gue sakit banget rasanya" ucapnya dengan pelan.

Karena tidak tega melihat istrinya seperti itu, Varez mengangguk. Ia tidak jadi membawa air hangat di bawah. "oke gua disini, sini gua usap perutnya biar gak sakit lagi" kata Varez yang langsung duduk di samping Vellyn.

Valyn life's {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang