Happy Reading All 🤍
Hari libur telah berakhir bagi mereka yang masih sekolah. Kini saatnya Varez dan Vellyn kembali beraktivitas di sekolah. Jam baru saja menunjukkan pukul 06.36, mereka berdua sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
"pake jaketnya, jangan lo lepas kalo gak gerah" ucap Varez yang membantu Vellyn memakai jaket miliknya. Sedangkan perempuan itu mendengus kesal, Varez ini benar-benar posesif.
"nanti kalo gue disangka sakit gimana? lagian ya di kelas kan gak usah pake jaket!" ujar Vellyn mengomel ketika Varez sudah selesai memakaikan dirinya jaket.
Varez tidak mendengarkan ocehan istrinya, ia memilih untuk memakai sepatunya dan pergi ke bawah lebih dulu sebelum Vellyn kembali mengomel.
"gua tunggu di bawah, gak usah lo lari-lari kalo turun tangga." peringatnya pada Vellyn. Lalu ia pun turun ke bawah terlebih dahulu tanpa menunggu Vellyn yang masih mengurus rambutnya.
Tanpa menghabiskan waktu yang lama, Vellyn langsung menyusul Varez yang sudah menunggunya di depan rumah. Dengan mobil yang sudah siap untuk dikemudi. Ia tak mendengarkan ucapan Varez yang tadi, dengan entengnta dia berlari saat menuruni anak tangga.
Varez yang berniat menyusul Vellyn melihat perempuannya sedang berjalan dengan cepat saat menuruni anak tangga. "gua kan udah bilang, gak usah cepet-cepet kalo turun-naik tangga. Gak bisa apa dengerin ucapan gua?"
"gak usah ngomel, lagian gue gak akan ken-" Baru saja akan berbicara, Vellyn hampir terpeleset di tangga kedua sebelum ia benar-benar menginjak lantai bawah.
Untung saja Varez sigap menangkapnya. "gua bilang juga apa? gak usah banyak tingkah bisa? lo sekarang gak sendiri Vell" ucapnya dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
Hal itu membuat Vellyn menatapnya dengan berkaca-kaca, lalu ia berjalan lebih dulu ke dalam mobil. Sedangkan Varez yang melihat itu menghela napasnya.
"maaf, gua cuman gamau kalian kenapa-napa" ucap Varez yang sudah berada di dalam mobil juga. Ia memakaikan seltbelt pada Vellyn, lalu ie mengecup keningnya sekilas. "jangan nangis, gua gak marah. Gua cuman gamau kalian kenapa-napa"
Vellyn tidak menatap Varez sedikitpun, mereka berdua kini berada dalam perjalanan menuju sekolah. Hanya ada keheningan di mobil, sesekali Varez melirik Vellyn yang hanya diam menatap lurus perjalanan.
"kalo nanti ada mual, ada yang sakit, bilang sama gua. Jangan lo diem aja, gua disini Vellyn." kata Varez yang sedikit kesal karena Vellyn mendiamkannya.
Varez menghela napasnya dengan pelan. "lo belum sarapan, makan dulu sekarang. Tadi bibi udah buatin sarapan kesukaan lo"
"nanti di kantin" jawab Vellyn dengan singkat. Akhir-akhir suasana hatinya memang sering berubah-ubah, jadi Varez sudah terbiasa dan mengerti akan semuanya.
"nanti gak akan keburu sayang, makan aja sekarang di mobil" kata Varez kembali menjawab Vellyn. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa.
Karena tidak ingin memperkeruh semuanya, Vellyn pun membuka bekal makanannya dan mulai memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh art nya. Meskipun rasa mual menyerang kembali perutnya, ia menahan itu semua karena Varez menjalankan mobil dengan kecepatan yang tidak pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Valyn life's {End}
Novela Juvenilperjodohan yang Vellyn duga itu kesengsaraan ini malah sebaliknya, yaitu munculnya KEBAHAGIAAN. ⚠️BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ Bijaklah dalam membaca. DILARANG KERAS MENJIPLAK CERITA SAYA. "Vell gua kira perjodohan yang berasal dari keluarga...
