Happy Reading All 🤍
Hari sudah berganti, hari ini pasangan suami istri muda sudah rapi memakai pakaian santai namun terlihat seperti elegan, hari ini ialah jadwal cek kandungannya. Kini mereka berdua sedang menikmati sarapannya di meja makan.
"nanti habis dari Rumah Sakit kita ke rumah bang Vano dulu ya" ujar Varez di tengah-tengah sarapannya. Vellyn mengerutkan keningnya, ia bertanya. "kenapa? emangnya bang Vano gak di rumah bunda?" tanyanya.
Varez menggelengkan kepalanya. "ngga, katanya udah hampir 2 minggu mereka gak ke rumah bunda"
"loh ada apa? baik-baik aja kan semuanya?" tanyanya dengan heran, sebab tak biasanya kakak Varez itu tidak mengunjungi rumah orang tuanya.
"berantem sama Ayah." kata Varez memberitahu istrinya. Sontak hal itu membuat Vellyn tersedak makanannya, Varez langsung memberikan Vellyn satu gelas air. "sayang... hati-hati, jangan buru-buru makan nya" peringatnya dengan nada yang sangat lembut.
Vellyn menganggukan kepala, ia menghela napasnya pelan. "habisnya gue kaget, bang Vano berantem apa emang sama Ayah? gak biasanya.."
Varez mengedikkan bahunya, ia tidak terlalu ikut campur dengan urusan Vano dan juga Ayahnya, sebab dari zaman ia belum menikah, mereka berdua memang sering berantem, bahkan Varez juga sering berantem dengan Ayahnya. Hanya saja sekarang ia sudah menikah dan jarang bertemu dengan Wijaya.
"gua gak mau ikut campur urusan mereka, gua sengaja jarang ngajak lo ke rumah Bunda karna biar gua gak sering ketemu sama Ayah," ucap Varez dengan senyuman tipisnya.
Vellyn terdiam mendengarkan ucapan suaminya, lalu Varez kembali berucap. "udah ya sayang, jangan dibahas. Kita berangkat sekarang?" tanyanya dengan tersenyum hangat tetapi Vellyn mengerti akan itu.
Vellyn pun menganggukan kepalanya seraya membalas senyuman Varez, mereka langsung beranjak dari duduknya dan menuju keluar rumah.
Kini, mereka berdua sudah berada di dalam mobilnya. Varez memasangkan seatbelt untuk dirinya, lalu memasangkannya untuk Vellyn. Tanpa menunggu waktu lama, ia menyalakan mesin mobilnya untuk bersiap menuju Rumah Sakit.
"Rez," panggil Vellyn, lalu dibalas dehaman saja oleh Varez. Ia tahu betul bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja, mendengar penjelasannya saat membahas Vano saja, sudah terdengar berbeda.
"kalo ada yang lagi lo pikirin, coba cerita sama gue, biar gue juga bisa bantu nenangin lo" kata Vellyn seraya menggenggam tangan kiri suaminya.
Varez menatap Vellyn dengan tersenyum, lalu ia kembali meluruskan pandangannya. "gua gapapa sayang, gua cuman tau rasanya diposisi bang Vano sekarang gimana" ujarnya dengan mengangguk.
Vellyn menatap Varez dengan air mata yang sudah menetes, entah mengapa melihat suaminya berbicara seperti itu terlihat sangat menyakitkan. Varez melirik Vellyn sekilas, lalu ia memberhentikan perjalanannya.
"hey kamu kenapa sayang?" tanya Varez dengan menangkup kedua pipi istrinya, tangis Vellyn pecah saat Varez bertanya padanya, Vellyn merentangkan kedua tangannya untuk memberi kode Varez.
Varez yang mengerti akan itu langsung membuka seatbelt dirinya dan istrinya agar Vellyn leluasa memeluknya. Ia langsung menerima pelukan dari istrinya. Varez mengusap lembut punggung Vellyn. "sayang jangan nangis... gua gapapa hey, nanti dada lo sesek Vell" ucap Varez menenangkan istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Valyn life's {End}
Novela Juvenilperjodohan yang Vellyn duga itu kesengsaraan ini malah sebaliknya, yaitu munculnya KEBAHAGIAAN. ⚠️BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ Bijaklah dalam membaca. DILARANG KERAS MENJIPLAK CERITA SAYA. "Vell gua kira perjodohan yang berasal dari keluarga...
