Nina memasuki dapur rumah Ghyan yang luas dan modern, disusul Gaza. Nina kini mengenakan jaket Gaza. Kerah jaket Gaza yang tegak dan kaku menggesek rahang Nina.
Ghyan dan Mula sedang sibuk di dapur; Ghyan sibuk mengiris bawang bombay sementara Mula sibuk mengomentari cara Ghyan mengiris.
Ghyan dan Mula hanya menoleh Nina sekilas yang duduk di kursi bar tinggi dekat mereka. Wajah Nina sedikit sembab tapi mungkin tidak terlalu terlihat karena secara keseluruhan penampilan Nina lembab dan lecek karena kena hujan.
Gaza menyusul duduk di samping Nina. Rambut Gaza yang biasanya tersisir rapi turun ke dahi. Beberapa titik air menggantung di ujung rambutnya. Nina tidak sebasah Gaza karena tertutupi jaket milik lelaki itu. Sementara Gaza sampai bisa memeras kausnya sebelum masuk tadi.
Setelah duduk di samping Nina, Gaza melepas kacamatanya dan berusaha mengeringkannya dengan mengibaskannya beberapa kali, lalu membiarkannya terlipat di meja di hadapannya.
Ghyan yang kebetulan menoleh ke arah Gaza langsung berhenti mengiris bawang. "Pak Gaza kalau nggak pakai kacamata kelihatan lebih muda ya...."
Mula menimpali, "Pakai kacamata juga tetap muda. Umur segitu sih belum ada pusing mikirin UKT anak kuliah."
Ghyan menoleh ke arah Mula. "Kamu juga nggak ada pusingnya mikirin UKT, kan.... tinggal jual satu kontener bunga juga beres."
Mula dan Ghyan sama-sama tertawa sebelum kembali meneruskan kegiatan memotong bawang lagi.
Nina dan Gaza masih duduk sebelahan diam-diaman.
Mula menoleh pada mereka dan bertanya, "Tadi di luar ngapain aja, kok baru masuk sekarang? Berenang dulu?"
"Haish," sambar Ghyan. "Nina kan nggak bisa berenang."
"Rindang masih belum pulang juga dan belum bisa dipastikan dia kapan tiba... Tapi aku sudah dari pagi nggak ketemu Aisha," Nina turun dari bangkunya dan berdiri. "Kalau butuh apa-apa dariku, nanti telepon saja.... aku akan datang. Sekarang aku mau pulang dulu..."
Ghyan dan Mula seketika menatap Nina bingung.
Sementara itu, Gaza ikut turun dari bangkunya dan berjalan dua langkah mendekati Nina, tapi tidak lebih jauh lagi. "Aku antar pulang."
Nina menolak menatap Gaza. "Aku akan panggil taksi, kamu pulangnya sama Tante Mula nggak apa-apa barangkali beliau masih butuh kamu di sini..."
Kini Ghyan dan Mula saling berpandangan.
Ghyan berkata, "Tadi Rayhan memang telepon... katanya Aisha agak rewel tanya soal Mama Nina. Tapi Rayhan bilang karena besok libur boleh nggak sekalian mereka nginap di sini. Jadi ini Mbak Titi, Mbak Uci, Rehyan sama Aisha lagi diantar Pak Timur ke sini, sekalian bawa baju kamu juga."
Mula lalu ikut menimpali, "Pak Gaza nginap di sini aja sekalian, repot juga Bapak baliknya kan tadi bawa motor. Lagian hujannya malah makin deras nih...."
***
Pada akhirnya, ketika Rindang dan Jasmyn pulang, mereka mendapati ruang tengah sudah penuh dengan dua anak berbaju berpiama, dua tante paruh baya yang sudah pakai daster batik Solo, satu suster dan satu art mengenakan one set baju tidur, lalu ada Nina dan Gaza duduk masing-masing di ujung sofa, mengenakan baju kembar bertuliskan "12 tahun Arum Tanjungflora" dan mengenakan celana training warna hitam garis abu-abu.
Aroma minyak telon bercampur aroma minyak pijat bercampur wangi saus pasta daging sisa makan malam tercium di udara, bercampur dengan aroma lembut sedap malam dari pewangi ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Sick
RomanceNina tahu betapa keras kakeknya, H. Rahmat Rasyidin. Pria tua itu hampir bisa menoleransi semua kebrengsekan anak dan cucunya, tapi ada satu pantangan yang tidak bisa ditawar; pasangan mereka--sekadar pacar apalagi calon suami dan istri--harus mele...
