"Bunda~"

874 68 36
                                        

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

Tumpukan mainan lagi.

Senja berdiri di antara tumpukan mainan yang ia beli dari hasil merengek kepada Ayah dan Bunda. Sekarang, di pelukannya ada satu kotak mainan berisi peralatan medis yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Di kamarnya sudah penuh mainan, sudah banyak sekali jenis mainan yang dia beli.

"Bunda," panggil Senja, kebetulan Bunda Ayu masih berada di belakangnya. "Main dokter-dokteran sama Senja, yuk!"

Ayu menghembuskan napas panjang, ia melipat kedua tangan di bawah dada sembari menatap mata Si Anak Tengah.

"Kamu yang minta mainan itu, kamu mainkan saja sendiri," kata Ayu. "Janjinya apa tadi? Kalau habis beli mainannya, harus dimainkan."

Senja mengerucutkan bibirnya lucu, ia menaruh kotak mainan tersebut ke lantai dan meraih tangan Sang Bunda. Sorot matanya tampak berbinar, menunjukkan bahwa dirinya begitu membutuhkan teman bermain sekarang.

"Temani Senja main, Bun."

"Bunda harus masak, Ayah kamu minta diantarkan makan siang," ucap Ayu.

Bunda Ayu pergi. Senja seorang diri di kamarnya, bahkan ruang kecil ini sudah dipenuhi dengan kotak-kotak mainan yang sebagian belum Senja buka. Senja beli mainan untuk menarik perhatian Ayah sama Bunda, supaya bisa ditemani bermain. Bocah itu sudah banyak memilih mainan, tapi tidak ada satu pun yang bisa membuat Ayah atau Bunda menemani waktu bermainnya.

"Bunda~" rengek Senja.

Setelah berlarut dalam kesedihannya, Senja akhirnya memberanikan diri menyusul Sang Bunda. Di usianya yang terbilang masih belia, tentu ia membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya. Ketika perhatian tak ia dapatkan, ia akan mencarinya dan memperjuangkannya hingga dapat.

"Bunda, Bunda, Bunda!" panggil Senja. "Main sebentar sama Senja, yuk!"

"Senjani!" tukas Ayu bernada tegas. "Kamu tidak lihat? Bunda harus memasak, sebentar lagi jam makan siang akan tiba, Bunda harus antar makan siang untuk Ayah kamu."

"Setelah memasak, temani Senja?"

"Iya."

Senja tersenyum simpul, ia memeluk kaki jenjang Sang Bunda merasa senang mendengar jawaban singkat tersebut. Meskipun Bunda Ayu tidak menatapnya, tetapi mendengar jawaban Iya dari Bunda Ayu, tentu berhasil membuat Senja senang bukan main.

"Sudah sana, jangan ganggu Bunda," tegur Ayu. "Mending kamu tidur siang, belajar disiplin seperti Kakak sama Adik."

"Senja tidak mengantuk," katanya. "Senja mau menunggu Bunda selesai masak, mau main bareng!"

Ayu geleng-geleng kepala dibuatnya. Meskipun dia sudah beberapa kali mengucapkan kata dusta, tetapi Senja masih tetap mempercayainya. Jawaban Iya yang Ayu sebutkan tadi, bisa menjadi Tidak kapan saja. Mungkin saja Ayu dan Dirga menyetujui Senja membeli mainan supaya Senja bisa teralihkan dunianya pada mainan.

"Bunda, sudah selesai?"

"Belum."

Senja menghela napas pendek, ia naik ke kursi meja dan mulai melipat kedua tangan di atas meja yang kemudian ia jadikan sebagai bantalan. Pandangan mata Senja tidak pernah lepas dari Bunda Ayu, menatap punggung Sang Bunda yang terus bergerak ke sana ke mari untuk mencari bahan masakan.

"Sudah belum, Bun?"

"Belum."

Tanpa terasa ia mengantuk, setelah menguap, dengan sendirinya mata itu terpejam. Senja tidak suka tidur siang, tapi kalau dihadapkan dengan sesuatu yang membosankan dia akan mengantuk juga.

SenjaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang