Kejutan~
— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
"Senjani!"
Seruan Kak Tari berhasil mengalihkan atensi dua bocah di sana, binar di mata Senja dan Bulan muncul begitu melihat keberadaan Kak Tari. Mereka menunggu dijemput oleh Bunda Ayu, kebetulan saja Kak Tari pulang lebih cepat hingga ia bisa datang ke sekolah adik-adiknya.
"Adik, ayo ke sana!" ajak Senja.
"Eh, tunggu Kakak yang ke sini saja," kata Bulan.
Senja menggelengkan kepalanya. "Ayo ke sana saja, di sana ada yang jualan es krim, tuh!"
"Tapi uangnya?"
"Minta sama Kak Tari, ayo!"
Bulan sih ikut-ikut saja, apalagi saat dikatakan ada es krim di sana. Mana mungkin Bulan menolak dibelikan es krim, secara es krim itukan makanan kesukaannya setelah cokelat.
"Abang!" seru Senja, sadar akan keberadaan Bintang yang baru muncul. "Adik, ayo buruan sedikit larinya!"
Tari mengerutkan dahinya melihat kedua adiknya melangkah menghampiri dirinya. Masalahnya, mereka terhalang oleh jalan yang ramai, harus menunggu lampu merah dulu baru bisa melintas.
"Adik-adik, tunggu saja di sana!" seru Tari. "Jangan ke sini!"
"Senja mau es krim!" balas Senja, ia sudah berdiri di dekat tiang lampu lalu lintas menunggu waktu melintas tiba. "Adik mau juga, kan?"
"Mau!" balas Bulan antusias, ia berpegangan pada tangan Senja.
Lampu merah sudah muncul, saat itu juga Senja menarik Bulan untuk segera melintasi jalanan. Mereka menahan Tari agar tak melintas juga, sebab ada yang mereka tuju sekarang.
"ADIK!" teriak Tari, ia reflek berlari menghampiri kedua adiknya.
BRAK!
Hanya dalam hitungan detik saja tiga tubuh itu tergeletak di aspal, Bintang ternganga dan dia menutup matanya sendiri begitu melihat mereka tergeletak. Mobil yang kehilangan kendali itu kini menabrak lampu lalu lintas, agaknya telah terjadi kesalahan pada mobil tersebut, hingga tak mampu berhenti ketika lampu merah tiba.
"Kakak, Adik!"
Senjani masih bisa beranjak, meski dia sudah berdarah-darah dia tetap memaksakan dirinya menghampiri kedua saudarinya. Bulan paling parah sepertinya, ia sampai tak bergerak sama sekali dengan darah yang mengalir di sekitaran kepalanya.
Bintang berteriak meminta tolong, ketika hendak menghampiri ada orang tua yang malah menahan dirinya agar tidak mendekat. Sebab bahaya jika Bintang sampai ke sana, harus ada orang tua dulu.
Senja batuk-batuk ketika berhasil menggapai Tari, Tari masih tersadar walau ia kelihatan lemah tidak berdaya.
"Kakak!" panggil Senja. "Kakak, bangun dulu, jangan tidur!"
Tari menelan ludahnya dengan susah payah. "A-dik, b-ba-ga-gai-ma-na?"
Senja menoleh ke arah Bulan, maka ia beralih menghampiri Bulan dan menepuk-nepuk pipi Sang Adik. Ia menyeka jejak darah di hidungnya dengan kasar, pendengarannya mulai berdengung yang membuatnya tak bisa lanjut menyadarkan Adik Bulan. Samar-samar Senja melihat banyak orang menghampiri, ia menolak saat dibantu dan mengatakan bahwa adiknya jauh lebih membutuhkan bantuan.
"Jangan tinggalkan Senja."
Ucapan terakhir Senja sebelum matanya terpejam dan ia jatuh juga.
— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
Fanfiction[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
