— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
"Ajay!!!"
"Nan!!!"
Senja berkacak pinggang, ia menatap marah pada kedua temannya yang kini sedang menggoda salah seorang murid perempuan. Hidung Senja sudah berasap sekarang, benar-benar marah atas tindakan kedua temannya.
"Senjani-ku," panggil Jinan.
Senja membuang muka ke sembarang arah. "Senja bukan Senjani-nya Nan!"
Jinan bergegas menghampiri Senja, ia kontan berdiri di sebelah Senja berharap tidak dibenci olehnya. Tak beberapa lama, Ajay juga beralih menghampiri Senja, bahkan sampai merangkul lengan Senja.
"Ih, kenapa tangan Senja kecil sekali?" tanya Ajay. "Perasaan terakhir Ajay pegang tangannya tidak kecil begini."
Senja memutar malas bola matanya, ia pun tidak lupa melepaskan rangkulan Ajay dari lengannya. Senja sendiri tidak sadar dengan bagaimana tubuhnya saat ini, sebab setiap berkaca rasanya sama saja.
"Mau main ayunan?" tawar Jinan.
"Tidak!" tolak Senja sembari melipat kedua tangan di bawah dada.
"Mau main perosotan?" tawar Jinan lagi.
"Tidak mau!" Senja menolak lagi.
"Senjani-ku, jangan cemburu," ucap Jinan lemah lembut, di sisi lain Ajay mengangguk menyetujui ucapan Jinan. "Nan tidak bermaksud menduakan Senjani-ku, Nan cuma ingin bicara saja sama dia."
"Kalau begitu, ayo main petak umpet!" ajak Senja.
"Ayo!!!" sahut Jinan dan Ajay serentak.
"Ayo hompimpa dulu, lihat siapa yang harus jaga," ucap Senja.
"Tidak perlu." Jinan menepuk dadanya sendiri. "Biar Nan yang jaga, kalian sekarang cari tempat bersembunyi."
"Nan hitung sampai sepuluh, ya!" seru Ajay.
"Gampang!"
Jinan segera mencari tiang, ia mulai berhitung sekencang mungkin sebab suasana di tempat bermain ini benar-benar ramai. Tahu sendiri bagaimana berisiknya anak-anak kalau sedang bermain, kan?
"Sepuluh!"
"Nan akan cari kalian~"
Jinan mulai mengedarkan pandangannya, di keramaian seperti ini dia harus mencari dua orang temannya. Tubuh mereka hampir sama dengan anak-anak di sekitaran, jelas karena banyak yang seumuran dengan mereka. Baru beberapa menit Jinan berusaha untuk mencari mereka, bel pertanda jam masuk kelas berbunyi. Alhasil, Senja dan Ajay yang bersembunyi pun langsung muncul dan berlari ke dalam kelas.
"Eh, tunggu!" seru Jinan, sadar dirinya ditinggalkan.
— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
"Bunda!!!"
Ayu sudah ada di area sekolah tepat sebelum bel pulang berbunyi, Senja langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. Senja merasa aman setiap pulang, sebab Bunda Ayu selalu hadir di waktu yang lebih cepat dibanding biasanya.
"Bunda, bantu Senja bikin PR."
Ayu menoleh sekilas, selanjutnya ia melepaskan Senja dari tubuhnya untuk segera pulang.
"Bunda tahu? Senja dapat jempol dua dari Ibu Guru, katanya Senja hebat saat berani bernyanyi di depan yang lain," celoteh Senja.
Ayu tak sedikit pun berkeinginan membuka suaranya, bahkan kini sorot matanya begitu lurus dan hanya fokus pada jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
أدب الهواة[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
