"Senja Mau Main."

372 55 24
                                        

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

"Bunda!!!"

Senja berseru cukup kencang, hal itu mengundang Ayu yang memang sedang sibuk menjahit pakaian. Raut wajah Ayu nampak begitu cemas, sebab teriakan Senja yang begitu tiba-tiba.

"Ada apa, Senja?"

"Senja mau main."

"Bunda selesaikan dulu menjahit, nanti Bunda temani."

Senja menggelengkan kepalanya. "Mau main sekarang."

Ayu terpaku membisu. Apakah dia akan mengulang sifatnya di masa lalu terhadap Senjani? Ia lantas menghembuskan napas panjang, Ayu melangkah lebih maju hingga mendekati beberapa mainan yang tertata rapi di tepian kamar Senja.

"Mau main yang mana?" tanya Ayu.

"Senja mau main di luar," jawab Senja. "Ajay sama Nan pasti kangen sama Senja, Abang Bintang juga pasti kangen sama Senja."

"Di rumah saja, Senja."

"Tidak mau, Senja mau main di luar, Bunda." Senja bersikeras.

Sejak pulang dari rumah sakit, Senja hanya berada di kamarnya saja. Pergi keluar paling hanya untuk menonton tv dan makan bersama Ayah dan Bunda. Sungguh, Senja bosan dengan rutinitas tersebut. Senja rindu bagaimana dirinya berlarian aktif bersama teman-teman.

"Senja sering dengar suara Ajay panggil nama Senja, tapi kenapa Ajay ngga disuruh masuk ke sini?" tanya Senja. "Senja rindu sama Ajay, Senja mau main sama Nan, Senja mau main bola sama mereka."

Ayu menjatuhkan salah satu mainan yang sudah ia pilih sebelumnya, hal itu tentu membuat Senja sedikit terkejut. Senja menunduk, ia memandangi jemarinya yang bertaut satu sama lain.

"Senja bosan di sini terus," ucap Senja. "Senja mau main di luar."

"Senja, dengar Bunda."

Suara Ayu berubah menjadi sangat lembut, ia lantas duduk di tepian ranjang Senja dan mengusap pucuk kepala Si kecil. Senja sedikit menengadah, memandangi Sang Bunda yang saat ini sedang menatapnya teduh.

"Bunda," panggil Senja. "Boleh, ya? Senja kangen main di luar, Senja bosan di rumah terus."

"Tapi kamu harus pakai kursi roda," ucap Ayu. "Kamu tahu, kan? Sekarang ke mana-mana kamu harus pakai kursi roda."

"Tidak apa," kata Senja. "Senja mau main di luar pokoknya, Senja mau bertemu Ajay sama Nan."

"Benar?"

"Ayo, Bunda~"

Tidak ada pilihan lain selain menurutinya, Ayu bergegas mengambil kursi roda milik Senja yang tersimpan rapi di pojokan. Setelah siap, Ayu memangku tubuh Senja yang mungil ke kursi rodanya.

"Bunda, besok Senja mulai sekolah lagi, kan?" tanya Senja.

"Kamu mau main ke mana sekarang?" Ayu kontan mengalihkan pembicaraan. "Mainnya jangan sampai sore, ya? Bunda ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan."

"Senja bisa sendiri, nanti Senja minta dibantu sama Abang saja," balas Senja.

"Tidak bisa, Senja hanya boleh pergi bersama Ayah atau Bunda," kata Ayu. "Bisa orang lain, tapi harus orang dewasa dan orang yang dikenal."

"Abang Bintang itukan orang dewasa, lebih tinggi dari Senja," bela Senja.

"Tidak boleh, Bintang masih belum bisa dipanggil orang dewasa."

"Yah, Bunda~"

Ayu mengusap pucuk kepala Senja, lalu mendaratkan satu kecupan lamat di sana guna memberi Senja semangat. Senja menatap sepasang kakinya yang sudah kaku, dia bahkan lupa bagaimana rasanya menapak ke lantai.

SenjaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang