— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
Evakuasi dua raga tak bernyawa itu berlangsung dramatis, isak tangis seorang anak yang harus ditinggal oleh kedua orang tuanya benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya menangis. Ditambah dengan kondisi Si Kecil yang begitu memilukan, menambah rasa sakit bagi yang melihat takdirnya.
Senjani.
Ditinggal kedua saudarinya di waktu yang bersamaan, kemudian ia pun harus ditinggal kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan pula. Nahasnya, Senja tidak mendengar sepatah kata terakhir dari mereka. Mereka sama-sama pergi tanpa mengucap selamat tinggal terlebih dahulu.
"Ayah~"
"Bunda~"
"Kenapa tinggalkan Senja~"
"Kenapa Senja ditinggal sendirian~"
Suaranya bahkan sudah hampir habis saat ini. Senja sudah terlalu banyak berteriak, memohon, bahkan sempat pingsan beberapa kali karena menghadapi takdir menyedihkan malam ini.
"Ayah sama Bunda kenapa tidak tidur di kamar Senja~"
"Kenapa Ayah sama Bunda tidak menemani Senja sampai besok~"
"Kenapa Ayah sama Bunda tidak menepati janji untuk menjaga Senja~"
"Senja sama siapa setelah ini~"
Dalam pangkuan salah seorang petugas, Senjani menangis histeris. Ia berada di mobil ambulans bersama Sang Ayah, tidak ada yang bisa diharapkan lagi sebab kini kedua orang tuanya telah tiada. Hanya saja, akan dilakukan visum terlebih dahulu. Barangkali ada bukti yang menunjuk pada Si Pelaku.
Tidak mungkin mereka melakukan bunuh diri, sebab tak ada satu pun benda tajam di dekat tubuh mereka. Tetapi, yang lebih jelasnya beberapa barang berharga di rumah habis, mobil juga raib diambil orang tak dikenal. Dugaan sementara, mereka dibunuh oleh perampok kejam yang memang bisa datang di waktu yang tidak terduga.
"Paman," panggil Senja pada lelaki yang memangku nya. "Sembuhkan Ayah sama Bunda, Senja tidak punya siapa-siapa."
Lelaki itu hanya bisa mengusap surai hitam Senja yang sedikit menghalangi wajah cantiknya.
"Paman, Ayah sama Bunda itu kakinya Senja, Ayah sama Bunda sudah sayang sama Senja, Ayah sama Bunda berjanji akan menjaga Senja terus," tuturnya dengan nada yang gemetar.
"Iya, iya nanti, ya."
"Ayah sama Bunda sembuh, kan?"
"Iya, nanti, ya."
Senja menggelengkan kepalanya. "Ayah sama Bunda akan sembuh. Ayah sama Bunda harus sembuh!"
Bagaimana cara menyembuhkan keduanya? Sedang mereka saja sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Terlambat untuk mengembalikan nyawa mereka sekarang. Tidak ada harapan lagi.
Dirgantara dan Ayudia tewas dalam peristiwa nahas yang menimpa keduanya. Maka di malam itu pula, beberapa artikel bermunculan hingga memanas di media sosial.
MIRIS, SEPASANG SUAMI ISTRI TEWAS DALAM PERAMPOKAN DI RUMAH MEREKA SENDIRI
SUAMI DAN ISTRI DITEMUKAN TEWAS BERSIMBAH DARAH DI KEDIAMAN MEREKA SENDIRI
TEGA, SEPASANG SUAMI ISTRI DIBUNUH PERAMPOK YANG BELUM DIKETAHUI IDENTITASNYA
PILU, SEORANG ANAK KETERBELAKANGAN BERJALAN MENJADI ORANG PERTAMA YANG MELIHAT KEDUA ORANG TUANYA TEWAS
MALANG, NASIB TIDAK ADA YANG TAHU, BOCAH KECIL KETERBELAKANGAN BERJALAN ITU HARUS KEHILANGAN KEDUA ORANG TUANYA
Dan masih banyak lagi artikel yang membahas tentang peristiwa mengenaskan malam ini. Semua yang terjadi saat ini benar adanya, bukan sekadar mimpi Senjani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
Fanfiction[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
