— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
Senja menemukan harta karun. Dia kini mengangkat satu kardus berisi buku-buku dongeng yang tersimpan sempurna di gudang. Niat hati ingin mencari sepeda yang dahulu disimpan di gudang, berakhir menemukan satu kardus buku dongeng. Buku-bukunya juga kelihatan masih bagus, masih layak untuk diberikan pada Ayah atau Bunda agar dibacakan.
Senja menaruh kardus itu di lantai, dia menghampiri Ayah Dirga yang sedang duduk santai menyeduh kopi.
"Ayah!" seru Senja.
Dirga menatapnya sekilas, sebab selanjutnya Dirga memilih untuk melihat ke layar televisi yang tengah menayangkan siaran pemberitaan. Mumpung punya waktu luang, jarang-jarang Dirga duduk manis sambil minum kopi begini.
"Ayah, bacakan Senja dongeng juga."
"Malas."
"Satu saja!" pinta Senja. "Setelah itu, Senja akan tidur ke kamar."
Dirga berdecak kesal. "Kamu ini tidak tahu, ya? Jarang-jarang Ayah punya waktu santai begini, harusnya kamu jangan ganggu!"
"Senja ganggu Ayah?"
"Menurut kamu?!" Dirga menaikan sedikit nada bicaranya. "Sudah sana pergi, saya tidak mau melihat wajah kamu lebih lama."
"Ayah." Senja meraih tangan Dirga, alhasil pria itu menepisnya sampai tubuh mungil Senja satu langkah mundur dari tempatnya berdiri.
"Pergi dari sini, Senjani!" perintah Dirga tegas. "Pergi!"
"Bacakan Senja dongeng dulu, Senja janji akan pergi," pintanya bernada merengek. "Senja cuma mau dengar satu dongeng saja, setelah itu Senja akan tidur, Senja janji."
"Ah, berisik!" kesal Dirga. "Ayudia!"
Senja menoleh ke arah datangnya Bunda Ayu, ia berlari ke arah Ayu dan memeluk kaki jenjang Sang Bunda. Senja mengerucutkan bibirnya, ia memohon kepada Bunda Ayu untuk tidak ikut memarahi dirinya. Sudah cukup baginya menerima sentakan dari Dirga.
"Bunda, bacakan dongeng buat Senja," pintanya. "Satu saja."
"Senjani, berisik kamu!" sahut Dirga kesal. "Sana pergi ke kamar, lagipula apa-apaan dongeng itu? Tidur ya tidur!"
"Tidur, Senjani." Ayu berucap dingin.
"Bunda tidak mau bacakan dongeng juga?" tanya Senja.
"Masuk ke kamar kamu." Lagi, Ayu berucap dengan nada yang dingin. "Dan apa-apaan ini? Apa isinya kardus ini?"
"Dongeng!" jawab Senja. "Banyak buku dongeng di sana, jadi Senja bawa buat minta dibacakan ke Ayah sama Bunda."
"SENJANI!" bentak Dirga tak tertahan. "Beraninya kamu ambil semua itu tanpa seizin Ayah!"
"Bunda," adu Senja.
"Ayudia, bawa kardus itu kembali ke gudang, kalau perlu bakar saja!" perintah Dirga. "Senjani, berhenti minta dibacakan dongeng, itu sudah kuno!"
"Bunda, jangan!" Senja menahan tangan Bunda Ayu. "Jangan dibuang, Senja sudah belajar baca di sekolah, Senja bisa baca sedikit-sedikit."
"Anak sialan!" umpat Dirga.
Pria itu beranjak berdiri, ia mengambil paksa kardus tersebut dan segera membawanya pergi dari hadapan Senja. Senja tidak mau buku-buku itu dibuang begitu saja, Senja bahkan belum dengar satu pun dongeng dari Ayah Dirga. Dongeng yang kata Kak Tari dan Adik Bulan sangat menyenangkan agar tidur lebih tenang.
"Ayah!" Senja memeluk kaki Dirga. "Jangan dibuang, Senja mau baca dongengnya, Senja tidak akan minta dibacakan sama Ayah, Senja akan baca sendiri!"
"LEPASKAN, SIALAN!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
Fanfiction[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
