— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
Dirga menemukan secarik kertas tergeletak di lantai, kertas tersebut jatuh dari dalam kardus yang akan Dirga buang. Dengan perlahan Dirga menaruh kardus tersebut, ia memungut kertas itu untuk dikembalikan ke dalam tempatnya. Namun, ketika membaliknya ia mendapati tulisan panjang yang indah.
Tulisan ini terlihat khas. Jelas seperti tulisan milik mantan istrinya—Anggun.
Di sana tertulis:
Untuk Suamiku, Mas Dirga
Kamu menemukan kertas ini kapan? Aku melipatnya di buku-buku dongeng kesukaan Mentari, tapi kalau kamu sering buka-buka buku, pasti ditemukan dengan cepat.
Mas Dirga,
Maaf jika aku tidak bisa menjadi teman hidup kamu, tidak bisa menua bersama kamu, tidak bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa.
Jika kelak Tuhan memanggilku, segera ikhlaskan. Jika kelak Tuhan memanggilku, sayangi Mentari dan anak yang saat ini masih berada di perutku. Aku pasti terpanggil lebih awal dari kamu, makanya aku minta banyak anak supaya kamu ada teman.
Mas Dirga,
Kalau disuruh menikah sama Ayu, menikah saja. Kamu tidak mungkin hidup tanpa seorang pendamping, karena sebanyak apapun anakmu, yang akan menemani kamu adalah pasangan kamu.
Mentari jelas kamu sayangi, dan untuk anak yang saat ini masih di perutku, sayangi dia juga. Bayi ini juga anak kamu, dia bahkan lebih mengenaskan jika lahir tanpa kehadiran seorang ibu. Aku tidak bermaksud berburuk sangka, tapi rasanya kematian itu semakin dekat.
Mas Dirga,
Aku yang penyakitan ini sangat merepotkan kamu, maaf. Tapi, sejauh ini aku sangat beruntung bisa dicintai oleh kamu. Maka jika kelak aku tidak lagi bersama kamu, cintai juga orang-orang terdekat kamu, terutama anak-anak.
Mas Dirga,
Kasih nama bayi ini yang cantik, dia perempuan. Sayangi dia seperti kamu menyayangi Mentari, nanti bayi ini akan menjadi anak yang hebat.
Jaga diri kamu, dari Istrimu, Anggun.
Satu tetes air mata jatuh tepat di tulisan nama Anggun, Dirga menarik napas dalam-dalam dan melipat kembali kertas tersebut. Hatinya terenyuh, kini dia menyadari betapa dirinya sudah terlalu jauh berlarut dalam duka. Bertahun-tahun lamanya Dirga belum bisa mengikhlaskan kepergiannya, selama itu pula Dirga bersikap kasar pada penyebab kematian Anggun.
Pendek pikirannya. Dirga masih tidak terima jika Senjani harus selamat sementara istrinya tiada. Namun, setelah membaca tulisan di secarik kertas usang tersebut, Dirga mulai menyadari.
"Mas!"
Seruan itu berasal dari Ayu, Dirga kontan membalik tubuhnya dan mendapati Ayu datang dengan raut wajah paniknya.
"Ada apa?" tanya Dirga. "Tenangkan diri kamu, bicara pelan-pelan."
"Senja pingsan, Mas!"
— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
Ayu tahu, diamnya Dirga bukan tanpa sebuah beban saat ini. Surat pernyataan tentang kondisi Senja sudah sampai di tangan Dirga sejak satu jam yang lalu, dan hal itu tentu membuat Dirga makin diam dengan penyesalan dalam dirinya.
"Mas," panggil Ayu.
"Sakitnya sama," ucap Dirga, ia menunduk sembari memijat pangkal hidungnya. "Saya tidak mau peristiwa masa lalu terulang kembali, tidak mau."
Ayu terpaku membisu.
"Saya menyesal, saya menyesal, dan saya takut, saya khawatir!"
Ayu meraih punggung Dirga, mengusapnya dengan perlahan berharap bisa menenangkan. Dirga menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika dia akan bersikap kasar pada anak kecil tak berdosa seperti Senjani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
Fanfiction[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
