"Kenapa Senja Ditinggalkan?"

412 52 30
                                        

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

"Senjani!"

"Abang?"

Bintang memegang tangan Senja, ia memeluk jemari mereka yang saling bertaut akibat dari rasa khawatir. Bintang masih ingat bagaimana mobil itu menabrak tubuh Bulan terlebih dahulu, dilanjut mengenai Tari dan terakhir Senja, Bintang juga masih ingat bagaimana darah berceceran di aspal akibat dari kecelakaan itu. Tiga bocah menjadi korban sekaligus.

"Abang tahu di mana Kakak sama Adik?" tanya Senja. "Senja mau ketemu."

Bintang menggelengkan kepalanya.

"Abang tahu di mana Ayah sama Bunda?" tanya Senja lagi. "Kenapa Senja dibiarkan sendirian di sini?"

Bintang menggelengkan kepalanya lagi, meski dia sudah tahu kalau Mentari dan Rembulan itu sedang diantar ke rumah duka. Bahkan, Ibu Naila dan Ayah Haidar sedang membantu prosesnya saat ini, dan meminta pada Bintang agar menemui Senja.

"Kakak sama Adik, bagaimana?" tanya Senja. "Senja mau lihat mereka, tadi mereka kesakitan."

Bintang menahan Senja yang hendak beranjak, tentu saja keputusan Bintang menahannya merupakan keputusan yang tepat. Senja harus beristirahat terlebih dahulu, agar siap menghadapi kenyataan bahwa kedua saudarinya tak tertolong.

"Kakak sama Adik, baik-baik saja, kan?" tanya Senja lagi. "Jawab Senja, Abang."

"Bos kecil yang lucu," panggil Bintang lemah lembut. "Jangan banyak bergerak dulu, istirahat sampai sama Suster disuruh melihat Adik sama Kakak."

Senja menggelengkan kepalanya. "Senja tidak apa-apa, Senja bisa berdiri, Senja mau melihat Adik sama Kakak, sekarang. Abang jangan halangi Senja, Abang minggir, Senja mau ketemu sama Adik sama Kakak."

"Adik Lucu!" pekik Bintang, ia spontan mendekap Senja yang sudah beranjak duduk. "Tunggu dulu, Adik Lucu, Bos Kecil yang lucu, jangan banyak gerak dulu, ya? Istirahat."

"Tapi Kakak sama Adik, bagaimana?"

"Kuatkan dulu."

"Kenapa, Abang?"

"Kuatkan dulu hatinya Adik Lucu," ucap Bintang. "Tari sama Bulan sudah pergi, katanya tidak bisa ditolong lagi."

Senja terpaku membisu, rasanya ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk melawan atau memaksakan diri. Jadi, maksud dari perkataan Bintang ialah Mentari dan Rembulan sudah tidak ada?

"Abang jangan bercanda." Senja berucap gemetar. "Abang jangan bicara begitu, Senja tidak punya siapa-siapa kalau bukan Adik sama Kakak."

Bintang terdorong selangkah ke belakang, tenaga Senja yang hilang mendadak terkumpul kembali. Bocah itu memaksa turun dari ranjangnya, alhasil ia jatuh karena energinya belum terkumpul sempurna.

Senja meronta-ronta sembari menangis histeris, dengan Bintang yang mendekapnya serta berusaha menenangkan tangisnya. Senja mengetahui apa itu artinya tidak tertolong, Senja tahu apa itu artinya ditinggalkan, dan Senja tahu hidupnya akan seperti apa setelah ditinggalkan.

"Kenapa Senja ditinggalkan?" tanya Senja lirih.

Pintu ruangan terbuka, dr. Galih masuk dan segera membantu Senja untuk naik kembali ke ranjangnya. Senja masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Bintang.

"Dokter, Kakak sama Adik di mana?" tanya Senja. "Katanya tidak tertolong. Itu bohong, kan?"

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

Senja datang ke pemakaman kedua saudarinya, ia duduk di kursi roda karena belum begitu sanggup berdiri lebih lama. Dia juga terluka, bahkan perban di kepalanya itu masih basah sekarang, sama basahnya dengan dua gundukan tanah milik Kak Tari dan Adik Bulan.

Ayah Dirga menangis tanpa suara sembari mendekap Bunda Ayu di sampingnya, isak tangis Bunda Ayu sedikit kedengaran. Senja ingin peluk mereka berdua, atau mungkin Senja ingin dipeluk mereka berdua. Senja juga rapuh di sini, butuh pelukan untuk menghilangkan rasa takut akan kecelakaan itu.

Dari belakang, Senja dapat merasakan usapan lembut. Ibunya Abang yang mendorong kursi roda Senja hingga sampai di sini, Ibunya Abang Bintang yang berbaik hati meminta kepada dr. Galih agar Senja hadir di pemakaman kedua saudarinya ini.

"Kalau Adik sama Kakak pergi, terus Senja main sama siapa?" tanya Senja pelan.

Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipinya. Buru-buru Senja menyeka air mata itu, tak membiarkan kedua pipinya dibasahi oleh air mata.

Pandangan Senja dan Bunda Ayu bertemu, terlihat jelas betapa Bunda Ayu terpukul atas kehilangan Mentari dan Rembulan. Dua anak sekaligus, jadi tidak terpukul bagaimana? Kemudian, Bunda Ayu tiba-tiba saja memalingkan pandangannya dari Senja, seperti enggan menatap Senja lebih lama lagi.

Bunga-bunga bertaburan di atas tanah basah milik Mentari dan Rembulan, keduanya pergi bersamaan meski di waktu yang berbeda. Mungkin Mentari disuruh menjaga Rembulan, maka Mentari ikut tidak terselamatkan saat berusaha diselamatkan. Rembulan sendiri sudah tidak tertolong dari awal kecelakaan, ia yang paling parah.

"Ibunya Abang," panggil Senja. "Kalau Senja dimarahi sama Ayah sama Bunda, bagaimana?"

Naila menggelengkan kepalanya. "Tidak, mana mungkin mereka begitu, mereka itukan menyayangi kamu."

"Senja?" tanya Senja. "Disayang?"

"Ya," balas Naila. "Setiap anak itukan disayang sama orang tuanya, apalagi kalau masih kecil begini."

Senja menatap ke arah kedua orang tuanya. Apakah kepergian Mentari dan Rembulan akan mengubah seluruh perhatian mereka jadi sepenuhnya kepada Senjani?

"Tidak!" pekik Senja.

Tiba-tiba saja Senja meronta, ia menutup kedua telinganya mendengar bagaimana Ayah Dirga membentak, ia pun sampai berkeringat kala mengingat bagaimana Ayah Dirga memukul dirinya. Juga, Bunda Ayu yang hanya diam ketika Senja dilukai.

"Senja, kamu kenapa?"

"Senjani, sadarlah."

"Astagfirullah, ada apa dengan kamu, Senja?"

Di saat Naila cemas dan khawatir melihat kondisi Senja yang tiba-tiba saja bergerak gelisah, Dirga dan Ayu sama sekali tidak teralihkan atensinya dari dua makam milik Mentari dan Rembulan. Ternyata masih sama, Senja diabaikan.

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

"Kamu sudah berjanji di depan alm. Anggun, Yu," ucap Naila. "Kamu berjanji akan menjaga kedua Putrinya, Mentari dan Senjani."

Ayu hanya bergeming, pandangannya benar-benar kosong sekarang.

"Sekarang, tetaplah hidup untuk menjaga Senjani, meski Rembulan sudah tiada," tutur Naila.

"Bulan anak aku, Nai," ucap Ayu pelan. "Cuma Bulan anak aku."

Ayu memiliki kembaran, yakni Anggun. Nahasnya, wanita itu wafat ketika melahirkan Senjani. Anggun memperjuangkan kehidupan Senjani ketika hidupnya dinyatakan tidak akan lama lagi. Kanker paru-paru, Anggun memaksakan diri mengandung serta melahirkan ketika keadaannya tidak bisa disebut baik-baik saja. Yah, sampai akhirnya ia meninggal karena tak sanggup lagi, penyakitnya menggerogoti tubuh Anggun dengan begitu ganas.

Mentari dan Senjani adalah anak kandung Anggun dengan Dirga. Sementara Rembulan sendiri, merupakan anak kandung Ayu dengan Dirga. Pernikahan Ayu dan Dirga juga terjadi karena keinginan Dirga agar Mentari tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu, ditambah wajah Ayu yang seratus persen mirip alm. Anggun.

Di awal pernikahan, keberadaan Ayu masih samar, tetapi Dirga yang kala itu terhasut oleh teman-temannya untuk minum, berakhir menghabiskan waktu semalaman dengan Ayu. Ya, Rembulan hadir setelah Senja berusia satu tahun. Dan, jadilah Mentari, Senjani, dan Rembulan sebagai kakak-beradik yang tidak tahu menahu.

"Senjani masih terlalu kecil," ucap Naila. "Jangan abaikan dia, tepati janji kamu pada alm. Anggun tentang kamu yang akan menjaga anak-anaknya."

— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —

SenjaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang