- 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 -
"Senjani-ku."
"Apa Nan?"
Jinan menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya. Bocah itu mengulurkan sebatang cokelat masih terbungkus sempurna kepada Senja, tentu sambil mengulas senyum tipis yang benar-benar kelihatan cocok dengannya. Jinan ini memang jarang senyum, sekalinya senyum hanya tipis-tipis.
"Ayahku bilang, perempuan suka cokelat," ucap Jinan. "Lalu, Nan bawa saja cokelat punya Ibu di kulkas, buat Senjani-ku."
"Wah, terima kasih, Nan!" ungkap Senja senang. "Kalau Ibu kamu marah?"
Jinan menggelengkan kepalanya. "Ibu tidak pernah marah sama Nan, Nan anak kesayangan."
"Beneran, Nan?"
"Iya!" yakin Jinan. "Ibu selalu bilang kalau anak kecil itu tidak boleh dimarahi, anak kecil itu disayang."
Senja memeluk cokelat pemberian Jinan dengan senang hati, jarang baginya mendapat cokelat seperti ini. Minta pada Ayah atau Bunda pasti dilarang, katanya cokelat bisa membuat gigi berlubang. Senja akui benar, tapi masa setiap Senja minta cokelat selalu dilarang.
"Sudah sembuh, kah?" tanya Jinan. "Bang Bintang bilang Senjani-ku sakit."
"Sudah," jawab Senja. "Buktinya Senja di sini."
"Besok bisa ikut renang, dong?"
"Renang?"
"Iya, kata Ibu guru, besok kita akan renang, sama kelas A juga," beber Jinan. "Hari ini Ibu guru pasti kasih tahu lagi, deh. Senjani-ku ikut, kan?"
"Mau!!!"
Senja mau ikut. Senja mau pergi ke kolam renang bersama teman-teman, dan Senja pun mau pergi ke sana bersama dengan Bunda Ayu. Seperti saat kelas A saja tahun lalu, Senja diantar Bunda Ayu saat ada acara pergi ke kolam renang, makan disuapi dengan kondisi basah kuyup.
"Senja bakalan ikut, Senja mau berenang lagi, seperti tahun lalu," kata Senja antusias.
Jinan menepuk pucuk kepala Senja dua kali, sebab di tepukan berikutnya tangan Senja bergerak cepat menangkisnya. Tidak seharusnya juga Jinan main-main sama Senja, apalagi memperlakukan Senja dengan sentuhan begitu. Senja itu anti-romantis anaknya.
"Kenapa Ajay belum datang?"
"Ajay sakit," ucap Jinan sedih. "Kemarin muntah-muntah, katanya kebanyakan makan."
"Ish, Ajay kalau makan memang susah diatur!"
"Pulang sekolah jenguk Ajay, yuk!"
"Ayo!"
- 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 -
"Kak Senja habis jenguk Bang Ajay, Bun," ucap Bulan. "Jadi Bulan ikut, deh."
Senja cengengesan, ia berjalan di sebelah kiri Bunda Ayu yang sedang menggenggam Bulan.
"Ajay sakit, Ajay muntah-muntah, katanya kebanyakan makan," tutur Senja. "Tadinya Senja mau berangkat sama Nan, tapi Adik mau ikut, ya sudah Senja bawa saja."
"Senja kamu tahu tidak?" tanya Ayu. "Bunda khawatir."
"Bunda khawatir?!" sahut Senja senang.
"Takut Adik kenapa-kenapa," ucap Ayu terus terang. "Kamu tahu? Jarak dari sekolah ke rumah Ajay itu jauh, kamu tidak bisa pergi tanpa orang tua, bahaya!"
Senja mengerucutkan bibirnya.
"Bunda tidak akan memaafkan kamu jika sampai Adik kenapa-kenapa," kata Ayu. "Beneran, Bunda akan marah sama kamu, Senja."
