— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
"Kalau Senja mau apa-apa, bilang, ya?"
Senja menatap bingung pada kedua orang tuanya, bocah kecil itu benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya bisa terbangun dengan kondisi yang disayang seperti ini. Setelah nyawanya hampir melayang, kehebatan dr. Galih berhasil menyelamatkan Senja dari ambang kematiannya.
Sadarlah bocah kecil itu saat ini, ia menyandar pada ranjang rumah sakit yang dibuat terangkat guna memberi kenyamanan pada pasien. Senja berada di ruangan yang sangat luas, bahkan terdapat hiasan dinding juga, di sebelahnya penuh bunga-bunga yang cantik.
Ada apa gerangan?
"Waktunya makan~"
Dirga duduk di kursi samping ranjang tersebut, ia mengaduk bubur yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Sementara Ayu sedang sibuk mengupas buah di sofa, wanita itu tersenyum ketika tatapannya beradu dengan Senja.
"Ayah," panggil Senja. "Ini Senja."
"Iya," jawab Dirga. "Kamu memang Senja."
"Bukan Kakak, bukan juga Adik," kata Senja.
"Iya Senjani." Dirga hendak mengusap pucuk kepala Senja, tapi bocah itu begitu reflek menghindar darinya.
"Jangan pukul Senja, Ayah," pinta Senja dengan mata yang terpejam. "Tubuhnya Senja sudah sakit, jangan pukul."
Tangan Dirga yang sudah terlanjur terangkat melanjutkan aksinya, ia mengusap surai hitam Senja dengan penuh kasih sayang. Tuhan itu baik, memberi kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki keburukannya. Jadi sebenarnya, pasti selalu ada kesempatan untuk memperbaiki sebelum benar-benar menyesali.
"Buahnya sudah siap, nih!" sahut Ayu. "Habiskan dulu buburnya, baru setelah itu kamu makan buah, ya?"
Senja membuka matanya, ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Ada senyum di bibir mereka saat menatapnya, ada pandangan lembut yang mereka berikan ketika memandang Senja, dan ada ketulusan yang dapat Senja rasakan saat ini.
"Senja mau cepat sembuh, kan?" tanya Dirga. "Makan dulu, Ayah suapi."
"Nanti biar cepat pulang, terus main sama teman-teman kamu," timpal Ayu.
"Senja tidak akan dimarahi lagi?" tanya Senja.
Dirga dan Ayu menggelengkan kepala mereka, meyakinkan Senja bahwa mereka sudah berubah saat ini.
"Kalau Senja minta peluk, dikasih?"
"Pasti." Dirga menjawab dengan cepat, ia beranjak berdiri dan memeluk Senja. "Ayah minta maaf, Senjani. Kamu adalah anugerah yang Tuhan berikan untuk Ayah, kamu bukan kesalahan, kamu adalah anak Ayah."
"Hangat, Ayah," ucap Senja, ia balas memeluk Sang Ayah. "Senja suka pelukan Ayah, Senja mau juga dipeluk sama Bunda."
Dirga melepas pelukannya, kini bergantian Ayu yang memeluk Senja.
"Maafin Bunda, ya," bisik Ayu. "Maaf kalau Bunda sudah berbuat kasar sama kamu, sudah bicara yang tidak-tidak sama kamu, Bunda di sini sama kamu sekarang, akan menemani kamu, Senjani."
"Pelukan Bunda juga hangat, Senja suka," balas Senja.
Setelah pelukan itu merenggang, Senja baru mau makan bubur yang disuapi oleh Ayah Dirga. Meski rasanya benar-benar hambar, bahkan ada rasa pahit bagi Senja, bubur itu Senja paksakan untuk masuk karena ia disuapi oleh Ayah Dirga.
"Kenapa Senja?" tanya Dirga, sebab di suapan terakhir Senja tiba-tiba saja menolak.
"Kenyang."
"Ya sudah, biar Ayah habiskan," kata Dirga sambil terkekeh. "Kamu mau makan buah sekarang?"
Senja menelan ludahnya dengan susah payah, ia menolak suapan terakhir pun karena rasa mual yang tiba-tiba saja muncul. Agaknya ini akan sering terjadi apabila ia selesai melakukan kemoterapi. Sebab kankernya yang makin menyebar, Senja harus mengikuti serangkaian pengobatan yang dianjurkan untuk penderita kanker seperti dirinya.
"Ada apa, Senja?" tanya Ayu yang peka.
"Senja mau muntah," jawab Senja.
"Oh? Sebentar, Bunda ambilkan dulu wadahnya!"
"Senja mau ke toilet saja," katanya yang hampir menangis. "Cepat, Ayah bantu Senja ke toilet!"
"Di sini saja, Bunda ambilkan dulu wadahnya," ucap Dirga, ia beranjak berdiri dan mengusap punggung Senja.
Senja tidak tahan lagi, alhasil dia muntah di sana yang membuat Dirga buru-buru menyediakan telapak tangannya. Demi apapun, telapak tangan besar milik Dirga bahkan tidak mampu menampung cairan yang keluar dari mulut Senja. Hingga Ayu datang, Senja masih saja muntah-muntah, bahkan berakhir batuk yang disertai gumpalan darah.
"Sudah selesai?" tanya Ayu.
Senja mengangguk pelan, maka Ayu menjauhkan wadah itu dari Senja dan segera memberinya minum. Berantakan di sana, Ayu lantas memangku tubuh Senja dan Dirga kembali untuk membantu Ayu mendorong tiang infusan Senja. Untuk sementara Senja rebahan dulu di sofa, sebab ranjangnya harus dibersihkan.
"Mas, tolong ambilkan baju baru buat Senja," ujar Ayu.
"Iya, tunggu sebentar."
"Bunda tidak marah?" tanya Senja.
"Masih mau muntah lagi, hm?" Ayu balik bertanya di sela membuka pakaian Senja. "Yang sakitnya di mana, Sayang?"
"Senja tidak sakit," jawabnya disertai gelengan kepala.
Dirga menyerahkan baju ganti untuk Senja, pria itu kini bergerak membersihkan kekacauan di ranjang rumah sakit Senja. Anggaplah situasi saat ini sebagai ujian ringan untuk mereka berdua, melihat apakah mereka akan bersikap sabar atau justru sebaliknya.
"Sakitnya di mana, Senja?" tanya Ayu sekali lagi.
"Di sini."
Dadanya yang Senja usap saat ini, tempat sakit yang sering dirasakan, apalagi kalau sudah sampai batuk-batuk. Ayu mengambil minyak kayu putih, mengusapkannya di dada Senja yang mungkin bisa membantu menghangatkan.
"Ayah, Bunda, terima kasih."
Ungkapan terima kasih itu tak pernah sulit Senja ucapkan. Bocah kecil yang kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya ini, justru bersikap lebih dewasa dari anak-anak pada umumnya. Ketika kebanyakan anak kurang kasih sayang akan bersikap sulit diatur, Senja malah sebaliknya.
"Senjani," panggil Dirga. "Mau dibacakan dongeng apa sama Ayah? Buku-buku yang kamu temukan ada di sana, tuh."
Senja menoleh ke arah satu kardus yang dimaksud oleh Sang Ayah.
"Banyak sekali dongengnya, mau Ayah pilihkan?" tawar Dirga.
"Ayah tidak lelah?" tanya Senja.
"Tidak!" yakin Dirga. "Ayah akan bacakan dongeng sebanyak mungkin untuk Senja, akan Ayah bacalan asal Senja sehat-sehat, ya?"
Senja mengangguk mantap, bocah itu haus akan kasih sayang, dan begitu mendapatnya ia langsung menerima.
Ranjang rumah sakitnya sudah beres.
"Senja mau jalan sendiri," kata Senja pada Ayu, ia merasa bahagia dan rasa sakitnya mulai berkurang.
Senyum Dirga dan Ayu mengembang melihatnya. Namun, senyuman itu memudar hanya dalam hitungan detik saja, sebab Senja terdiam ketika dia mengatakan akan berjalan sendiri.
"Senja," panggil Dirga. "Mau Ayah gendong?"
"Hei." Ayu menepuk pelan bahu Senja. "Kenapa diam saja? Mual, ya? Atau Senja pusing?"
Senja menatap sepasang kakinya yang menjulur di sofa itu, keningnya berkerut tidak habis pikir.
"Bunda, pegang kakinya Senja dulu," pinta Senja.
"Iya?" Ayu reflek menurutinya. "Ada apa?"
"Kenapa kakinya tidak bisa digerakkan? Kenapa kakinya tidak merasakan usapan Bunda?" tanya Senja. "Ayah, Bunda, kakinya Senja kenapa?"
— 𝙎𝙀𝙉𝙅𝘼𝙉𝙄 —
KAMU SEDANG MEMBACA
Senjani
Fiksi Penggemar[COMPLETED] "Ayah, Bunda, Senja masih kecil." [19-01-24] #2 Sinb
