Bagian 3

35 9 2
                                        

03

Dia

Footsteps echo in memory

Down a passage we cannot repeat.

"Ngeliatin dia lagi?"

Sebuah suara mengusik lamunanku. Aku menoleh malas ke arah Agatha. Ah, perempuan itu, memang tak bisa dibohongi. Sejak awal, dia selalu tahu apa yang sedang kupikirkan, bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya.

Agatha Romunda, perempuan yang sedikit tinggi dari ku dengan kulit sawo matang terang dan memiliki ekspresi tenang. Dia bukan sekadar sahabat. Dia, rumah. Kami bertemu di awal masa orientasi, saat semuanya serba virtual. Dan hingga kini, di tahun terakhir putih abu-abu kami, dia tetap berada di sisiku.

“Bukan suka lagi ini mah,” gumamnya, masih menatap ke lapangan, “Udah jatuh cinta kayaknya.”

Aku tak menjawab. Hanya mengikuti arah pandangnya. Di sana, seorang lelaki tengah bermain basket, tubuhnya tinggi, rambutnya hitam rapi, dan sorot matanya teduh, meski sedikit sipit. Seragamnya bersih, bahkan tampak terlalu rapi untuk anak SMA kebanyakan.

Rey.

Lelaki itu, yang dulu hanya kuperhatikan dari jauh. Yang membuatku ingin merebut ponselnya dan menyuruhnya memperhatikan sekitar, bukan layar datar itu.

Dulu, waktu pertama kali kami masuk sekolah, Rey hanyalah sosok yang tak tertarik pada dunia sekitarnya. Kami bahkan tak saling bicara. Tapi entah bagaimana, semesta mendekatkan kami lewat chat WhatsApp.

Awalnya dia hanya memintaku menyimpan nomornya, katanya supaya bisa tanya soal tugas karena aku wakil ketua kelas. Tapi dari percakapan soal pelajaran, beralih ke cerita SMP, lalu hal-hal acak yang tak penting tapi entah kenapa membuat kami semakin dekat.

Dan saat aku akhirnya tahu siapa dia..

“Jadi ini orangnya?” batinku waktu itu.
Ia sedang duduk sendiri di kelas, dan kesan pertama yang terlintas di kepalaku hanya satu kata: rapi.

Rapi cara duduknya. Rapi penampilannya. Rapi.. caranya diam. Entah bagaimana bisa, diamnya saja sudah membuatku kagum.

Minggu-minggu pertama sekolah berjalan biasa saja. Kami jarang berbicara langsung. Hanya saling lempar senyum sesekali. Sisanya? Sibuk dengan teman masing-masing.

Sampai suatu hari, dia menghampiriku. Bukan untuk bicara soal tugas. Tapi..

“Username game kamu yang kemarin apa?” tanyanya.

“Yang semalam kita bahas.” sambungnya lagi.

Suasana di sekitarku mendadak riuh. Agatha, Nada, dan Safira yang tahu betul perasaanku pada Rey, langsung tersenyum-senyum geli. Rey melihat mereka, lalu ikut tersenyum.

Dan aku? Terdiam.
Wajahku memanas.
Malu.
Seketika ingin menghilang.

Tapi dalam diam itu, aku tahu:
Langkah kecil kami mulai menuju arah yang sama.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang