12
Bahagia atau Kecewa
Happy or disappointed?
I don’t know, I just want to experience
one of them. But I know, in the quietest corner of my heart. I'm disappointed.
Keyaa..
Hari ini, tidak ada pesan dari Rey. Tidak ada lelucon ringan di pagi hari, tidak ada keluhan acak tentang guru yang menyebalkan, bahkan tidak ada balasan atas stiker random yang ku kirimkan semalam. Hening. Seperti ruang kosong yang biasanya ia isi dengan celotehan hangatnya. Kini, ruang itu terasa dingin.
Aku menatap layar ponsel cukup lama untuk menyadari, aku sedang menunggu. Menunggu sesuatu yang sebenarnya tak pernah dijanjikan. Mengapa aku begini? Mengapa aku harus merasa kehilangan atas sesuatu yang sejak awal bukan untukku?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung, menggema dalam pikiranku seperti suara gema di ruangan kosong.
Aku dan Rey, kami hanya teman. Teman dekat, iya. Tapi hanya itu. Bukan pasangan, bukan juga kekasih rahasia yang menyembunyikan perasaan. Lantas mengapa aku merasa seperti seseorang yang ditinggalkan?
Perasaanku tak bisa kutentukan. Bukan karena Rey kini bersama Alasya, bukan hanya karena itu. Tapi lebih pada bagaimana tiba-tiba semuanya terasa berubah. Seperti ada ruang yang dulu aku anggap rumah, kini sudah dihuni orang lain. Masihkah aku berhak mengetuk pintu itu? Atau pintu itu telah terkunci rapat dengan gembok yang kuberikan sendiri?
Kemarin, aku membaca percakapan grup Alasya dan teman-temannya. Nama Alasya dan Rey muncul bersisian, diiringi pesan-pesan penuh tanda seru dan emotikon bahagia. Aku terdiam. Bukan karena kaget, aku sudah cukup mengenal dinamika di antara mereka. Tapi ada sesuatu yang menekan dadaku begitu kuat. Rasa yang tak bisa dinamai. Sakit yang tak bisa ditunjuk asalnya.
Tak lama kemudian, Alasya mengirimi pesan pribadi. Terima kasih, katanya, karena aku telah membantunya dan bersedia menjadi tempat curhatnya selama ini. Aku membalas, tentu saja. Dengan kata-kata yang manis dan senyuman tipis yang kusematkan lewat emoji. Aku bilang aku bahagia. Aku bilang aku ikut senang melihatnya tersenyum seperti itu. Tapi jari-jariku gemetar ketika mengetik, dan rasanya ada yang mencekat di tenggorokan.
Aku mencoba mengalihkan perasaan ini ke arah yang lebih bisa kumengerti. Mungkin aku hanya kehilangan teman cerita. Mungkin aku cemburu bukan karena cinta, tapi karena kenyamanan itu sekarang bukan untukku lagi. Tapi jika benar begitu, mengapa hati kecilku terus berbisik bahwa aku tidak jujur pada diriku sendiri?
***
Pagi-pagi di sekolah kini terasa berbeda. Aku sering melihat mereka datang bersama, tertawa, bertukar pandang, seperti dua tokoh utama dalam cerita romansa remaja. Mereka terlihat manis, cocok, dan seharusnya aku ikut senang, bukan?
Namun entah kenapa, aku memilih untuk duduk sendiri di pojok bangku taman sekolah, pura-pura membaca novel yang sama sekali tidak bisa kupahami jalan ceritanya. Saat yang lain berkumpul, tertawa, dan ikut berbahagia atas kisah cinta mereka, aku hanya diam. Mengamati dari jauh, seperti penonton yang datang ke bioskop tapi tidak benar-benar ingin tahu akhir ceritanya.
Aku ingin bisa berkata bahwa aku bahagia untuk mereka, dan sebagian dari diriku memang demikian. Tapi sebagian lainnya, yang lebih kecil, lebih sunyi, lebih tersembunyi.. ia merasa kecewa.
Entah kepada siapa. Alasya? Rey? Atau justru diriku sendiri?
Mungkin semua. Atau saja, hanya kepada harapan-harapan kecil yang diam-diam ku pelihara tanpa kusadari. Harapan yang sekarang harus aku kubur diam-diam, sendirian.
Aku tahu Rey memang orang yang ramah, terlalu ramah mungkin, dan sikap itu ia berikan kepada siapa pun. Tapi entah kenapa, ketika dia bersikap hangat padaku, itu terasa berbeda. Mungkin karena aku telah terlalu terbuka, terlalu jujur soal luka-luka hidupku, soal rasa lelah yang tak pernah benar-benar kutunjukkan ke orang lain. Ketika semua itu kutumpahkan padanya, aku merasa seolah sedang pulang. Dan kini, ketika perhatian itu tak lagi sepenuhnya tertuju padaku, aku merasa seperti kehilangan rumah.
Padahal awalnya aku hanya penasaran. Dulu, waktu kelas dua, saat masih aktif di OSIS, kami sering pulang larut karena rapat. Seusai rapat, Alasya dan Agatha kerap bisik-bisik di pojokan ruangan. Karena aku tak punya teman sebaya yang dekat, aku menghampiri mereka, sekadar ikut nimbrung. Dan di sanalah, aku pertama kali tahu bahwa yang mereka bicarakan adalah Rey.
Mereka membahasnya dengan mata berbinar, seolah menyebutkan nama seorang pahlawan dalam dongeng. Dari situlah rasa penasaranku muncul. Aku mulai memperhatikan Rey, mulai mencari tahu seperti apa sebenarnya orang yang bisa membuat dua gadis ini saling bertukar tawa hanya karena menyebut namanya.
Ternyata benar, Rey memang sosok yang bisa membuat siapa pun merasa nyaman. Sikapnya hangat, perhatiannya ringan, tapi cukup untuk membuatmu berpikir kamu istimewa. Aku bahkan sempat berpikir, jika Rey punya pacar, pasti pacarnya akan sangat bahagia. Betapa tidak, mempunyai seseorang seperti dia, pasti rasanya seperti selalu disambut pulang dengan pelukan hangat setelah hari yang panjang.
Dan saat aku tahu Alasya menyukai Rey, aku justru ikut senang. Aku suka menggoda mereka, melempar candaan, berharap mereka berdua saling menoleh dan tertawa. Aku membantu Alasya agar Rey lebih memperhatikannya, tanpa sadar, aku pun semakin dekat dengan mereka berdua.
Mungkin dari situlah semuanya mulai kabur. Batas antara membantu dan merasa nyaman. Antara menjadi sahabat dan berharap lebih. Antara berniat baik dan tanpa sadar menaruh harapan.
Dan seperti itulah hari-hari ini berlalu. Aku tetap menjadi Keya yang sama, ceria di luar, cerewet saat dibutuhkan, menjadi teman yang baik. Tapi kadang, saat malam datang, dan aku sendirian di kamar, aku hanya ingin tahu, sampai kapan aku harus berpura-pura baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
