Bagian 30

16 8 4
                                        

30

"Kau Abadi dalam Karyaku"

Alasya..

2023

Aku sudah benar-benar lulus. Tidak ada lagi rutinitas sekolah, tidak ada lagi hal-hal yang mengikatku dengan masa lalu, kecuali sahabat-sahabat dekatku. Namun, jujur saja, aku masih belum bisa benar-benar melupakannya. Sesekali, jika ingatan itu datang, aku masih menetaskan air mata. Hingga kini, aku masih mengingat dengan jelas suasana hari itu, baju yang ia kenakan, raut wajahnya saat menatapku, bahkan aroma parfum yang melekat di udara. Hari pertama sekaligus terakhir kami tertawa bersama.

Aku masih ingat betapa naifnya diriku. Betapa aku berpikir kepergiannya adalah sesuatu yang biasa. Bahwa dalam cerita ini, dialah yang jahat. Ia menyakitiku begitu pedih hingga ketika ia berpamitan pun, aku hanya bisa menangis. Namun anehnya, aku tidak terkejut. Aku hanya banyak melamun, bingung, lalu air mata jatuh begitu saja. Aku tahu semua orang memang akan pergi, tapi aku tidak menyangka akan sedrastis itu.

“Kamu pasti baik-baik aja,” katanya pelan.

“Kamu pantas dapat yang lebih baik,” sambungnya lagi di ujung telepon terakhir kami.

Sungguh ironis. Selama tiga tahun aku mengenalnya, ia yang dulu ceria dan hangat tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang asing. Namun, bukankah memang haknya? Hak untuk datang, juga hak untuk pergi. Hak untuk mampir dalam hidupku, lalu melanjutkan jalannya meski bukan denganku.

Aku meringkas semua pertanyaan yang ingin kutanyakan hanya menjadi satu, “Kenapa?”

“I just don’t love you anymore,” jawabnya tegas, tanpa ragu.

Dan selama tiga tahun bersama, aku tidak pernah melihatnya setegas itu. Bukankah itu menyedihkan? Bahwa hal yang paling ia yakini justru adalah kepergian dariku?

Setiap kali mengingat itu, dadaku terasa sesak. Tapi pada akhirnya, aku tahu: tidak ada yang bisa kulakukan. Jika keinginannya adalah pergi, maka satu-satunya cara untuk mengabulkan adalah dengan membiarkannya pergi.

“Take care, ya,” katanya lagi. “Kamu pasti baik-baik aja tanpa aku.”

Ia mengulang kalimat itu sampai dua kali. Dan kini, setahun setelahnya, aku sadar: aku tidak benar-benar baik-baik saja.

Tiga tahun memang bukan lima, sepuluh, atau tiga puluh tahun. Tapi ingatan manusia bekerja lebih lama daripada logika bisa memahami. Jadi ketika orang bertanya padaku, “Kenapa masih sendiri?” Aku hanya tersenyum. Kalau boleh menjawab jujur, alasannya sederhana, aku tidak bisa lagi membayangkan hidupku yang berdua. Aku tidak bisa lagi begitu saja percaya pada cinta.

Namun di antara luka yang ia tinggalkan, aku gagal membencinya. Bahkan setelah semua kecewa itu, aku tetap tidak menyesal. Kalau waktu bisa kuputar ulang, aku akan tetap memilih jatuh padanya. Karena meski berakhir menyakitkan, tiga tahun itu adalah kisah yang indah, sebuah cerita pendek dengan sad ending yang akan selalu hidup dalam ingatanku.

***

Masa Sekarang - 2025

Dua tahun lebih sudah berlalu.

Kisah cinta masa SMA itu, indah sekaligus kacau. Semua tawa, semua air mata, semua salah paham, dan semua bahagia yang pernah kita rasakan, itu utuh. Utuh karena saat itu kita masih belasan, masih belajar memahami diri sendiri, masih belajar memahami perasaan orang lain, masih belum sepenuhnya dewasa.

Aku sadar, setiap canggung, setiap pertengkaran kecil, setiap momen manis yang membuat dada berdebar, semua itu nyata. Perasaanku tidak main-main, meski kadang aku sendiri tidak tahu bagaimana mengekspresikannya dengan benar.

Dan meski waktu memisahkan kita, meski dunia terus bergerak maju, aku tidak menyesal. Karena pernah mencintai dengan sepenuh hati, bahkan di usia yang belum sepenuhnya siap untuk cinta, itu adalah sebuah pengalaman yang akan selalu hidup dalam diriku.

Kisah ini bukan hanya tentang kehilangan atau sedih. Ini tentang belajar, tentang merasakan, dan tentang menyadari bahwa cinta pertama, walau belum sempurna selalu pantas untuk dikenang. Karena di dalamnya, aku benar-benar hidup, benar-benar merasakan, dan benar-benar mencintai.

Aku selalu sadar, aku memang tidak pernah benar-benar melupakan Rey. Yang aku lakukan hanyalah  berdoa yang terbaik untuknya. Dimanapun ia berada sekarang, aku hanya berharap ia bahagia, sehat, dan mendapatkan kehidupan yang ia inginkan. Selalu sama seperti itu.

Mungkin kami tidak pernah mendapat penjelasan yang jelas tentang alasan berakhirnya kisah ini. Mungkin tidak pernah ada kata pamit yang benar-benar menutup semuanya. Tapi entah bagaimana, setelah dua tahun lebih, aku menemukan keberanian untuk akhirnya membuat dia memberiku closure yang pantas.

 Tapi entah bagaimana, setelah dua tahun lebih, aku menemukan keberanian untuk akhirnya membuat dia memberiku closure yang pantas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam itu, aku baru saja turun dari kereta, langkahku ringan menapaki jalanan kota yang mulai sepi. Udara malam terasa dingin tapi menenangkan. Aku pulang dengan hati yang berbeda, lebih tenang, lebih lega.

Sesampainya di rumah, saat membuka kamar mataku tertuju pada laptop yang menunjukkan satu foto, fotoku dan Rey. Satu-satunya yang belum pernah benar-benar bisa kuhapus.

Aku duduk, menatap foto itu lama sekali. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum tanpa rasa sesak. Senyum yang penuh rasa syukur, bukan lagi air mata.

Dulu, setiap mengingat Rey, dadaku sesak. Sekarang, aku bisa tersenyum. Bukan karena rasa itu hilang, tapi karena aku bangga. Bangga pernah mencintai seseorang seindah dirinya, dan bangga karena cinta itu pernah nyata.

Aku mengusap foto itu perlahan. Lalu, dengan satu tarikan napas panjang, aku menghapusnya melalui ponselku, aku menghapus semua hal tentangnya yang pernah ku abadikan dalam sebuah foti. Bukan karena aku membencinya, bukan juga karena aku sudah melupakannya. Tapi karena aku ingin melangkah dengan ringan. Aku ingin kami berdua sama-sama punya jalan untuk menemukan kebahagiaan di depan sana.

Dan malam itu, dengan udara yang begitu bebas, aku menatap langit gelap. Penuh bintang-bintang, seolah semesta ikut merayakan makna dari 'mengikhlaskan'.

Rey Zea Alamsyah, kau abadi dalam karyaku.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang