Bagian 25

10 7 0
                                        

25

Kau, Sejenis Adiksi Berbahan
Atom yang Ilegal

Alasya..

Hari-hari terasa berjalan begitu cepat. Kini aku disibukkan dengan tugas-tugas akhir sekolah, juga ujian praktik yang tak kalah menyita tenaga dan pikiran.

Untuk kali ini, kami mendapat tugas membuat kerajinan gips. Keya menyarankan agar kami semua mengerjakannya bersama-sama. Katanya, “Cewek-cewek mana bisa ngolah gips sendiri? Nanti bubuknya aja bikin pusing. Lebih baik bareng, biar ada bantuan cowok-cowok.”

Maka hari Minggu, rumah Agatha jadi markas kecil kami. Di halaman depan, para lelaki sibuk mencampur gips, tangan dan baju mereka berantakan oleh bubuk putih yang menempel di mana-mana. Sementara aku dan teman-teman perempuan menghabiskan waktu di dapur, menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk semua.

Setelah selesai membantu, aku diam di dekat jendela, menatap ke arah halaman. Mataku langsung menangkap sosok itu. Rey.

Dia sedang menuang gips ke cetakan, dengan tangan yang belepotan tapi tetap sigap. Seolah merasakan tatapanku, dia mendongak, tersenyum, lalu menghampiriku.

“Hey, lagi apa?” tanyanya.

Aku mengedikkan bahu. “Lagi lihat.”

“Lihat aku?” suaranya merendah, nyaris seperti bisikan yang malu-malu.

Aku mengangguk, bibirku melengkungkan senyum kecil.

Dia terkekeh, lalu menunjuk beberapa cetakan yang sudah mengeras. “Tinggal dua lagi, udah beres deh. Punya kamu juga udah aku jemur di sana.”

“Makasih ya.”

“Sama-sama, cantik,” balasnya cepat, seolah tanpa pikir panjang.

Pipi panas. Aku hanya bisa menunduk, tersenyum malu. Dia kembali jongkok, sibuk dengan gipsnya. Aku refleks mengulurkan tangan, merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin. Rey menoleh sekilas, matanya menatapku dengan cara yang membuatku sulit bernapas. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia kembali fokus pada pekerjaannya, hanya menyisakan senyum samar di wajahnya.

Sederhana. Tapi momen itu cukup membuatku merasa seolah dunia berhenti sebentar.

***

Semua berjalan lancar sampai tiba-tiba Rey menerima telepon dari ibunya. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Tak butuh waktu lama, ia buru-buru berkemas.

“Guys, gue duluan ya dipanggil nyokap.”

Semua mengangguk paham.

Dia pergi tanpa sempat menyentuh makanan dan minuman yang sudah kusiapkan.

Aku berlari kecil menyusulnya sampai depan rumah. “Rey, hati-hati ya.”

Dia mengangguk cepat, wajahnya masih menegang. “Nanti aku kabarin kalau udah sampai rumah.”

Aku hanya bisa mengiyakan. Motor itu melaju kencang, meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab.

Sekitar lima puluh menit kemudian, hujan deras mengguyur. Masih belum ada kabar darinya. Aku ingin mengirim pesan lebih dulu, tapi takut terlihat cerewet, takut dianggap merepotkan. Jadi, seperti biasa, aku memilih diam.

Di ruang tengah, semua orang berkumpul. Ragil mengambil gitar, melantunkan lagu-lagu lawas. Suasana riuh, penuh tawa. Tapi aku hanya diam, bersandar di bahu Agatha.

“Pasti Alasya mikirin Rey.” Suara Fadil menyentakku. “Tenang aja, dia nggak kehujanan kok. Udah nyampe rumahnya.”

Aku menoleh cepat. “Udah? Kapan?”

“Lima puluh lima menit lalu.”

Aku menarik napas lega. “Ah… gitu. Syukurlah.”

Tapi di balik rasa lega, ada yang mengganjal. Kenapa dia nggak langsung mengabariku? Padahal aku menunggu dengan cemas, membayangkan banyak hal buruk. Ya, mungkin saja dia lupa. Mungkin.

Beberapa detik kemudian, ponselku berbunyi.

Rey: Aku udah sampai.

Alasya: Iya, alhamdulillah.

Rey: Fadil bilang kamu diem aja nggak ikut nyanyi. Kenapa?

Alasya: Gapapa. Aku kan emang nggak bisa nyanyi.

Rey: Gara-gara aku kah? Nggak apa-apa kok, di rumah baik-baik aja. Cuma tadi emang agak panik di telepon ibu karena nadanya tinggi.

Alasya: Ohh gituu, okeelah kalo gak ada apa-apa.

Rey: Iya, sayang. Jadi jangan diem aja ya. Udah tenang kan pikirannya sekarang, nikmatin waktu sama temen-temen ya.

Alasya: Iya, Rey.

Aku menatap layar ponsel lebih lama dari seharusnya. Kata-katanya manis, perhatian, tapi entah kenapa aku bisa merasakan getar yang aneh di antara kalimatnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Tiba-tiba..

“Eh, Fadil. Ragil,” suara Nada tiba-tiba pecah di tengah tawa. “Kalian berdua mau klarifikasi hubungan kalian nggak? Jadi gimana nih?”

Semua orang langsung ribut. Bercandaan khas kelas kami, tentang Fadil dan Ragil yang digoda habis-habisan karena kedekatan mereka. Nada menambahkan bumbu, Agatha ikut menimpali. Gelak tawa memenuhi ruangan.

Aku ikut tersenyum kecil, tapi hatiku masih tersangkut pada satu hal.

Rey.

Senyumnya yang hangat, ucapannya yang lembut, genggaman tangannya yang selalu membuatku merasa aman. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar dia bagi.

Sebuah rahasia.
Sebuah beban.

Mungkin sama seperti yang ku sembunyikan sendirian. Tapi entah kenapa, aku mulai takut rahasia itu suatu hari akan merenggutnya jauh dariku.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang