15
Keya..
Sudah satu setengah bulan berlalu sejak Rey dan Alasya resmi bersama. Awalnya, aku mencoba menjaga jarak. Kupikir, mungkin itu yang terbaik. Tapi, ternyata tidak mudah. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun saat aku berhenti berbagi cerita dengannya.
Mungkin aku tindakan ini bisa dikatakan salah, karena aku mulai lagi mngirim pesan pada Rey, menanyakan tugas, lalu berlanjut ke obrolan ringan tentang film, keluarga, bahkan tentang kucing peliharaan yang dulu sering dia kirim fotonya padaku. Semuanya terasa biasa, terlalu biasa hingga aku lupa bahwa sekarang dia sudah bukan lagi sekadar "Rey sahabatku".
Tapi apakah benar-benar salah kalau aku hanya ingin jadi temannya seperti dulu? Kalau aku hanya ingin tempat berbagi yang nyaman, yang tak menghakimi, yang mendengarkan tanpa berpura-pura peduli kembali lagi padaku seperti sejak awal.
Karena itu, kami kembali sering berkabar. Kadang hanya beberapa pesan, kadang panjang. Kadang tentang hal remeh, kadang sampai lupa waktu. Dan dari semua itu, diam-diam membuat aku merasa.. utuh lagi.
Tapi, aku tahu. Seiring semua itu berjalan, ada yang berubah. Ada yang terasa ganjil. Alasya.
Aku mulai sadar dari tatapan-tatapannya, dari senyum yang tertahan saat aku datang ke kelas dan duduk di sebelah Rey untuk bertanya soal matematika. Dari cara dia berpaling cepat, atau dari hening yang tiba-tiba muncul saat aku bergabung di tengah mereka.
Pagi tadi contohnya. Aku dan Rey tiba lebih dulu. Kami masuk ke kelas bersama, duduk sambil membuka buku, lalu tertawa soal lelucon receh di soal kimia.
Lalu Alasya masuk. Wajahnya datar. Dia hanya meletakkan tas, menatap kami sepersekian detik, lalu keluar tanpa sepatah kata.
Aku menoleh ke Rey.
"Dia marah?"
"Enggak lah, paling ke air," katanya ringan.
Aku mengangguk, pura-pura percaya. Padahal aku tahu ada sesuatu yang tidak dikatakannya.
Aku tahu Alasya baik. Tapi dia juga bukan tipe yang bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman. Raut wajahnya selalu jujur. Dan pagi itu, wajah itu mengatakan banyak hal.
Kadang aku ingin menjelaskan. Bahwa aku bukan perusak hubungan orang. Bahwa aku hanya, kesepian. Bahwa aku hanya ingin mempertahankan satu-satunya teman yang benar-benar pernah membuatku merasa dimengerti.
Tapi mungkin semua penjelasan itu tak akan berarti. Karena bagaimana pun aku mengatakannya, aku tetap akan terlihat seperti orang ketiga dalam kisah yang bukan milikku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
Roman d'amourAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
