Bagian 23

19 7 0
                                        

23

Abadi dalam Foto Tahunan


Agatha..

Rabu ini kelas kami punya acara foto buku tahunan. Malam sebelumnya, Alasya menginap di rumahku. Alasan utamanya sih jelas karena aku butuh dia buat dandanin aku. Kakakku sedang pergi nonton konser NCT kesayangannya, jadi aku nggak punya pilihan selain minta bantuan Alasya.

Malam itu kami sibuk. Mulai dari beli snack di minimarket, milih-milih baju (lagi-lagi Alasya yang lebih banyak ambil keputusan), sampai pakai masker wajah dan ngecat kuku bareng. Rasanya kayak sleepover ala drama Korea. Bedanya, di tengah semua keributan itu, aku ketiduran duluan sementara Alasya masih terjaga sampai hampir jam dua pagi, katanya sih memang susah tidur kalau lagi nginep di rumah orang.

Jam tiga pagi, aku malah yang bangunin dia untuk mandi lebih dulu. “Bangun Sya, jangan sampe telat, entar kita diledek sekelas.” Alasya mendengus, tapi tetap bangun.

Pukul 6:15, Rey dan Fadil sudah nongkrong di depan rumah, padahal kami berdua masih sibuk dengan make up dan outfit. Aku sempat nyuruh Alasya keluar dulu buat ajak mereka masuk, tapi Fadil menolak, “Nggak usah, kita tunggu di sini aja, kalian juga bentar lagi juga kelar kan?”

Fadil gak tahu aja bentar lagi versi kami ternyata hampir satu jam. Karena pukul 6:59 baru kami selesai dandan.

Dari luar, tiba-tiba suara Rey terdengar nyaring.

“Sayang, cepet dong sayang!”

Alasya yang sedang merapikan rambutnya langsung membeku, sementara aku ngakak nggak berhenti. Gila, bisa-bisanya Rey teriak begitu keras di depan rumahku yang notabene deket pasar pagi! Orang-orang lagi belanja, ibu-ibu bawa sayuran, bapak-bapak dorong gerobak.

Belum sempat Alasya merespons, Rey malah teriak lagi, “Sayang, ayo keluar!”

Dan yang lebih parah, bapak tukang sayur yang mangkal di depan rumah malah ikutan nyaut, “Sayang, keluar dooong!”

Suasana langsung pecah. Aku dan Alasya sampai jongkok di lantai karena nggak kuat nahan tawa.

Akhirnya kami keluar juga. Aku cukup puas dengan hasil make up Alasya, dia memang punya tangan ajaib. Tapi anehnya, justru dia sendiri yang minder, bilang kalau make up-nya nggak cocok. Padahal, jujur aja, dia kelihatan cantik banget.

Kami berangkat berempat. Harusnya kita berangkat barengan. Tapi dasar nasib, malah jadi adegan konyol. Aku dan Fadil keluar lewat gang kiri, sedangkan Rey dan Alasya dengan santainya nungguin kami di gang kanan.

Telepon masuk dari Alasya. “Gath, kok kamu belum kelihatan? Aku sama Rey udah nunggu dari tadi.”

Aku dan Fadil langsung ngakak. “Lah, aku udah jalan duluan, Sya! Lewat gang kiri.”

Alasya cuma bisa menghela napas pas sadar. Tapi aku tahu, dalam hati dia juga ketawa sendiri.

Perjalanan menuju lokasi pun jadi rusuh. Fadil sempat salah bawa tas, dia ngambil tas adiknya yang isinya boneka dan pita rambut. Kami semua ngakak setengah mati pas dia baru sadar dijalan. Rey malah dengan santainya pasang pita warna pink itu di tangannya sambil bilang, “Cocok kan? Style baru gue.”

Aku nggak tahu bagaimana hasil foto tahunan nanti, tapi satu hal yang pasti, hari ini sudah penuh dengan kenangan. Heboh, rusuh, tapi juga manis. Dan aku yakin, ini akan jadi salah satu hari yang paling aku ingat sepanjang masa SMA.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang