Bagian 2

38 9 7
                                        

02

Hari-hari Perkenalan

Aku, Alasya.

Pagi itu aku tergesa-gesa menuju sekolah. Angin menyapu wajahku, dan langkahku terdengar terburu-buru di antara sepinya jalanan. Hari ini, hari pertama aku bertemu dengan teman-teman baruku.

Aku mengenakan rok hitam, atasan merah marun, dan sepatu abu-abu yang bersih mengilap. Aku sengaja tampil rapi, karena aku percaya, kesan pertama akan selalu diingat. Mungkin bukan oleh semua orang, tapi oleh satu atau dua pasang mata, dan itu sudah cukup. Bagi ku, kita tak pernah tahu akan seperti apa akhir dari cerita kita dengan orang-orang yang kita temui. Tapi, selama aku bisa memberikan kesan awal yang baik, maka aku rasa apapun akhir dari hubungan itu nanti, aku tak akan menyesal. Karena setidaknya aku pernah terlihat baik di mata mereka, walau hanya sekali.

Kala itu, kami diperbolehkan memakai pakaian bebas ke sekolah. Kegiatan belajar belum benar-benar dimulai, pandemi COVID-19 masih membayang. Virus yang memporak-porandakan dunia, merenggut jutaan nyawa, dan memaksa semua orang untuk hidup dalam diam. Sekolah pun tak lagi sama. Kami belajar dari rumah, melalui layar, sinyal, dan keheningan.

Sesekali, kami diminta datang ke sekolah, seperti hari ini. Hanya untuk pengenalan. Tidak lebih. Tahun pertama berseragam putih abu-abu pun terlewatkan begitu saja.

***

Aku membuka pintu kelas dengan perlahan. Di depan sana berdiri seorang perempuan dengan wajah teduh dan senyum tenang. Wali kelasku, pikirku. Aku mendekatinya, mengucap salam, meminta maaf karena terlambat, lalu memilih duduk di samping seorang perempuan berambut panjang.

Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya,

“Hai, aku Sara. Kamu siapa?”

“Saya Alasya,” jawabku, yang masih ngos-ngosan karena sempat berlari kecil dari gerbang sekolah.

“Kamu kenapa milih sekolah di sini?” tanyanya lagi.

Aku hanya menjawab sekenanya, sekadar menjaga sopan santun, apalagi Bu Nayla, wali kelas kami, sedang bicara di depan. Tapi Sara sepertinya tak terlalu peduli.

“Aku sekolah di sini karena pacar aku. Dia kakak kelas,” sambungnya sambil tersenyum bangga.

Aku mengangguk kecil, membalas senyumnya tanpa kata.

Tak lama setelah itu, perkenalan wali kelas selesai. Kini giliran memilih ketua kelas dan wakilnya.

“Siapa yang mau jadi ketua kelas?” tanya Bu Nayla sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

“Mau ibu tunjuk aja nih?”

Belum sempat hening menyelimuti ruangan, Sara mengangkat tangan,

“Alasya aja, Bu. Katanya dia mau, tadi ngomong ke aku.”

Aku menoleh ke arahnya, terkejut. Bu Nayla melirik ke arahku,

“Alasya mau?”

Belum sempat aku membuka suara, terdengar sahutan dari bangku belakang,

“Fredro aja, Bu! Dia waktu SMP juga jadi KM, Bu!”

Dan begitu saja, tanpa banyak perdebatan, keputusan dibuat. Fredro dipilih menjadi ketua kelas. Dan aku, wakilnya.

Kami maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Aku melangkah tenang, tanpa rasa malu atau gentar. Seperti diriku yang dulu, yang pernah begitu percaya diri saat masih duduk di bangku SMP.

Di ujung sana, pandanganku tertuju pada seorang laki-laki. Yang sedari tadi, dia hanya menunduk, sibuk menatap layar ponselnya, seolah dunia di sekitarnya tak penting. Dia tak tertarik dengan apapun. Tak ada rasa ingin tahu di matanya.

Aku memperhatikannya cukup lama. Diam-diam. Ada rasa gemas. Ingin rasanya aku hampiri dan ambil ponsel itu dari tangannya.

Tapi tentu saja, aku hanya menatap. Dalam diam. Dalam pikiran.

Hari itu berakhir. Kami pulang.
Dan esoknya, kami kembali ke layar,   kembali ke rumah, kembali pada rutinitas belajar dari kejauhan.

Seakan hari itu hanyalah sepotong kecil dari masa putih abu yang nyaris tak sempat kami miliki.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang