07
I had never spoken to her,
except for a few casuad words.
and yet her name was lika a summon
to all my foolish blood.
- James Joyce
Keyaa..
Hari ini, orientasi sekolah resmi berakhir.
Aku dan Alasya berpelukan erat, membiarkan air mata dan senyum tumpah bersama rasa bangga, dan juga sedikit sedih. Ini adalah pengalaman pertama sekaligus terakhir kami di kegiatan ini. Tak akan ada lagi hari-hari ketika kami harus datang lebih pagi dari biasanya, mempersiapkan materi, menjaga emosi, dan menyusun strategi agar semua berjalan lancar.
Dan yang lebih berat, tak akan ada lagi momen-momen itu, ketika aku diam-diam mencuri waktu untuk menatap seseorang yang membuat hari-hariku terasa rumit sekaligus bermakna.
Selama orientasi, aku lebih banyak diam. Bukan karena tak ingin terlibat, tapi tubuhku memang tak dalam kondisi terbaik. Rasa lelah mudah datang, kepala sering pening. Tapi bukan hanya itu. Ada alasan lain yang lebih sulit dijelaskan.
Aku ditugaskan untuk membimbing kelompok kuning. Bersama Arif.
Sosok yang sudah terlalu lama mengisi pikiranku tanpa pernah benar-benar menjadi milikku.
Arif, lelaki yang tampak tenang dan dingin di luar, tapi punya sisi perhatian yang tak selalu bisa kuterjemahkan. Ada banyak hal yang tak dia ucapkan, tapi bisa kurasakan. Dan mungkin itulah yang paling menyakitkan. Ketika dia tak mengatakan apa-apa, tapi aku tetap berharap pada sesuatu yang samar.
Sudah dua tahun berlalu. Tapi hubungan kami tak pernah bergerak ke mana pun.
Awalnya kami hanya teman. Tapi seiring berjalannya waktu, ada hal-hal yang berubah. Tatapan jadi lebih lama. Sentuhan jadi terasa. Perhatian-perhatian kecil menjadi penting. Tapi, semakin dekat kami mencoba melangkah, semakin jauh kami saling menjauh.
Dan ketika aku pikir semuanya akan menjadi jelas, dia malah berkata,
“Aku menyukaimu, tapi aku gak bisa lepasin mimpi aku. Sekarang aku harus fokus ke cita-cita dan impian. Aku gak punya waktu buat pacaran, atau mikirin hal-hal seperti itu. Begitu juga kamu, kamu pun harus kejar mimpi kamu, kan?”
Ucapan itu datang setelah sekian lama aku bertahan di ketidakpastian. Setelah semua tanda, semua perhatian, dan semua keyakinan yang kubangun diam-diam. Tapi dia selalu kembali ke titik yang sama. Menyatakan cinta, lalu menegaskan bahwa cinta itu tak punya tempat.
Hatiku bingung. Lelah. Tapi tetap mencintai.
Entah sudah berapa kali aku harus mendengar pengakuan yang dibungkus alasan. Pengakuan yang datang bersama dorongan untuk mundur. Setiap kalimatnya seperti pedang bermata dua, membuatku merasa berarti, sekaligus tak diinginkan.
Tiap kali dia berkata seperti itu, aku memilih diam. Aku menelan semuanya bulat-bulat, perasaan yang tak bisa diucap, amarah yang tak bisa disalahkan, harapan yang harus segera dikubur. Itulah caraku mencintainya.
Bukan karena aku tak bisa memintanya tinggal. Tapi karena aku tahu, dia tak akan pernah benar-benar datang.
Jadi, aku menjalani hari-hari seperti biasa. Tetap tersenyum saat bertemu. Tetap tertawa dalam canda yang hampa. Tetap mencintainya, dalam diam, dalam sabar, dalam harapan yang perlahan kupadamkan sendiri.
Ada masa di mana aku merasa kesal sekaligus bersyukur pada Alasya. Dia sering memberiku tugas bersama Arif. Entah itu kebetulan, atau niat tersembunyi. Tapi kurasa, di lubuk hatinya yang terdalam, dia hanya ingin mencoba menyatukan kami dengan caranya sendiri.
Meski kami tahu, semua usaha itu hanya akan berakhir pada hal yang sama.
Mengubur perasaan kami masing-masing, dalam-dalam, di tempat yang bahkan kami sendiri tak bisa menjangkaunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomansaAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
