01
Setelah kepergiannya, hidup terus berjalan. Tanda-tanda keberadaannya perlahan terhapus oleh kehidupan yang semakin sunyi. Jarak dan masa muda itu kini telah menjadi kenangan yang memudar, layu sedikit demi sedikit. Dalam perputaran waktu, kita berlari, mengingkari lingkaran yang pernah sama. Akankah dia masih menungguku di tempat semula? Tapi aku tahu, semua itu never be the same.
Aku duduk termangu di depan laptop yang menyala, melakukan kebiasaanku di akhir pekan: membuka kembali kenangan. Kali ini, aku sedang membongkar isi arsip Instagram milikku. Di antara ratusan foto, kutemukan satu yang membuat napasku tertahan. Foto jadul ku dan dia. Foto yang dulu pernah kuunggah saat masih SMA.
Kutelusuri layar laptop dengan ujung jemari, menyentuh bayangan masa lalu yang tak benar-benar bisa kuraih. Foto itu masih tersimpan rapi, seolah menunggu untuk diingat. Dua orang berdiri bersebelahan, tertawa, diabadikan oleh waktu yang kini enggan kembali.
Rey Zea Alamsyah. Dia tersenyum ceria, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung dua kali, gaya andalannya. Di sebelahnya, aku, dengan tangan menutup mulut menahan tawa. Malu. Itu kali pertama kami berfoto bersama. Di depan kami, Keya. Ia memotret kami secara mendadak, tanpa aba-aba, namun hasilnya bagus. Terlalu bagus untuk dihapus, bahkan hingga kini.
Itu masa-masa seragam putih abu-abu, hari-hari yang dimulai dengan kejamnya orientasi, lalu perkenalan, lalu persahabatan, lalu perpisahan, lalu... kenangan.
Aku biarkan foto itu tetap di dalam arsip. Biarlah ia menjadi ruang kecil untuk mengingat. Pikiran ku melayang pada hari-hari pahit manis itu, setahun silam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
