17
Agatha..
Minggu ini Alasya datang ke rumahku. Ia berdiri di depan gerbang dengan wajah gelisah. Begitu aku membuka pintu, dia menoleh sambil tersenyum tipis. Aku menyambutnya masuk, dan baru beberapa detik duduk di ruang tamu, Alasya langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menangis sesenggukan.
Alasya, sudah berapa banyak air mata yang keluar? Sudah berapa kali dia disakiti. batinku.
Tidak hanya di sekolah, di rumahnya pun dia sering menangis. Dan sekarang, di rumahku dia menangis lagi. Aku benar-benar bingung harus memberi penghiburan seperti apa, pelukan? Atau kata-kata semangat? Yang kulakukan justru ikut menangis bersamanya. Entah kenapa aku memang tak sanggup melihat orang lain menangis, apalagi orang terdekatku sendiri.
Aku sudah tahu apa yang terjadi padanya. Hubungannya dengan Rey yang sudah berjalan, kini mulai goyah. Rey sering berubah, kadang dingin, kadang hangat lagi. Aku sendiri tidak mengerti kepribadiannya. Apa Rey sadar dengan sikapnya terhadap Alasya? Apa dia paham kalau dirinya salah? Yang aku lihat justru sebaliknya, Rey seolah tidak merasa bersalah saat bersama Keya dan seolah tak peduli pada Alasya. Padahal di depannya ada Alasya, pacarnya sendiri.
Tapi sebenarnya, aku tahu tangisan Alasya malam itu bukan hanya soal Rey. Hidupnya memang tidak pernah benar-benar tenang. Sejak SD, dulu ibunya pernah bercerita kalau ia menderita kanker ketika Alasya masih kecil. Ayahnya? Bukannya jadi sandaran, malah sibuk tenggelam dalam judi dan mabuk. Saat istrinya sakit parah, bukannya menolong, ia justru mengusir mereka dari rumah di tengah malam. Ibunya pergi tanpa membawa apa-apa, hanya beberapa helai baju dan Alasya kecil yang digandeng erat. Sementara itu, kakak Alasya, kak Asoka, baru saja pertama kali bekerja di Bogor, ia bahkan tidak tahu keadaan rumah seburuk itu. Maka, Alasya sudah terbiasa dengan rumah yang gaduh, setelah kedua orang tuanya bercerai. Ia tinggal bersama ibu dan kakak laki-lakinya, Kak Asoka, satu-satunya lelaki yang benar-benar jadi penopang keluarganya.
Tak selesai sampai situ, ayah Alasya tidak pernah benar-benar pergi. Ia sering kembali ke rumah, membuat keributan, menuntut uang pada Kak Asoka dengan berbagai alasan. Pernah suatu kali, ayahnya meminta uang dalam jumlah besar dengan dalih ingin menikah lagi. Kak Asoka yang terlalu baik akhirnya memberikannya, padahal itu hasil kerja kerasnya sendiri. Namun kenyataannya, wanita yang akan dinikahi ayahnya justru menipunya dan membawa kabur uang itu.
Seolah belum cukup, ayahnya membuat ulah lagi dengan menjual rumah dan motor yang dibelikan Kak Asoka. Alasannya entah apa, uangnya entah ke mana. Dan ketika habis, ia kembali lagi seakan-akan tidak pernah berbuat salah. Bayangkan, Alasya harus menyaksikan semua itu sejak kecil, rumah yang seharusnya jadi tempat pulang malah penuh drama dan luka.
Maka, saat Rey berubah dingin, dan tidak membalas pesannya, atau justru tampak lebih hangat dengan orang lain, Alasya merasa semuanya seperti luka lama yang kembali terbuka. Rey jadi bayangan dari sosok ayahnya, datang dan pergi sesuka hati, tanpa pernah memberi kepastian.
Aku tahu, tidak ada salahnya jika Rey dan Keya berteman. Tapi cara mereka berteman itulah yang menjadi masalah. Aku sering bilang pada Alasya kalau aku bingung harus berkata apa, takut salah menanggapi. Keya sendiri sering bercerita tentang Arif, bahkan mengaku masih menyukainya. Tapi di sisi lain, sikapnya ke Rey kadang terlalu dekat. Aku tidak ingin Alasya mengira aku menyalahkannya dengan menganggap terlalu posesif, atau malah membela Rey dan Keya.
***
Namun, setiap kali semua itu sudah dilewati dengan air mata dan sakit hati, Alasya tetap kembali memaafkan Rey. Kadang aku kesal melihat siklus itu berulang terus pada sahabatku. Tapi aku tahu, Alasya terlalu menyukai Rey. Setelah dua tahun lebih hanya berjuang sendirian, akhirnya mereka resmi bersama. Sayangnya, akhir-akhir ini bukan bahagia, tapi justru banyak air mata yang diperlihatkan Alasya, dan itu juga membuat hatiku sakit.
Padahal, aku masih ingat saat pertama mereka jadian, Alasya berkata sambil tersenyum penuh harapan,
“Ta, akhirnya aku gak bertepuk sebelah tamgan dan nggak bakal ngerasa sendirian lagi.”
Tapi kini, Alasya yang dulu ceria berubah menjadi seseorang yang lebih banyak diam. Aku tahu ia sedang dibebani masalah keluarga, ditambah hubungan asmaranya yang makin rumit. Mungkin, yang paling ia butuhkan saat ini hanyalah semangat dari Rey, sosok yang selama ini ia harapkan. Namun, lagi-lagi, Rey justru menambah beban pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
