Bagian 19

15 7 0
                                        

19

Kembali Mengalah


Kita hanyalah dua manusia gagal.
Kamu gagal memahami caraku mencintai.
Dan aku gagal memahami caramu ingin dicintai.

Reyy..

Udah beberapa hari ini Alasya nggak masuk sekolah. Padahal gue nunggu dia, karena beberapa hari lalu dia bilang kalau dia bakal jelasin semuanya di sekolah. Tapi sampai sekarang semua pesan gue nggak dibaca, panggilan juga nggak dijawab. Gue masih kaget dengan pesannya malam itu, singkat, dingin, tiba-tiba minta berhenti. Alasya bukan tipe cewek yang gampang menyerah, bukan juga tipe yang suka nuntut. Kecuali satu kali, waktu dia bilang gue harus bisa bedain mana teman, mana pacar. Saat itu juga gue langsung mikir, Keya. Apa dia lagi cemburu sama Keya? Apa selama ini dia curiga gue kebablasan? Apa gue terlalu berlebihan?

Tapi dia nggak pernah benar-benar ngomong. Setiap gue tanya, jawabannya selalu, “nggak apa-apa.” Dan gue bego, gue kira itu tandanya memang nggak ada masalah. Gue kira dia baik-baik aja.

Pagi ini gue nekat. Gue mutusin buat jemput dia ke sekolah. Deg-degan, karena gue tahu pasti ada sesuatu yang dia sembunyiin. Gue nunggu lama di depan rumahnya, sampai akhirnya dia keluar. Wajahnya datar, bahkan gak kaget lihat gue yang tiba-tiba udah ada di depan rumahnya. Gue coba senyum, tapi nggak dibalas. Gue tarik napas, coba buka pembicaraan.

“Sya, kamu kenapa?”

“Gak apa-apa kok.”

“Please, stop bilang ‘gak apa-apa’ terus! Aku beneran nggak suka kamu nutupin semuanya.”

Dia diam sebentar, lalu lirih, “Terus kalau aku cerita.. apa yang bakal berubah, Rey?”

“Ya jelas berubah. Aku jadi ngerti kamu kenapa, aku jadi tahu salah aku apa.”

“Aku cuma pengen udahan. Itu aja.”

Jantung gue langsung kayak diremuk.

“Alasannya?”

Dia menatap gue, tajam sekaligus berkaca-kaca. “Bagi kamu.. aku ini apa, Rey?”

Pertanyaan itu nyeret semua keberanian gue. Gue terdiam. Bibir gue kaku, otak gue berisik, tapi nggak ada jawaban keluar. Karena gue tahu, dari semua sikap gue selama ini, Alasya punya hak buat ngerasa kayak gitu.

“Setiap hari kamu sibuk ngobrol sama Keya. Pesan aku dibalas setelah percakapan kalian selesai. Di kelas, kalian kayak pacaran, Rey. Nyanyi bareng, ketawa, saling ngasih hadiah. Sementara aku? Aku duduk sendiri, nonton kalian dari jauh, ngerasa jadi orang asing. Dan yang paling bikin sakit, kamu tiba-tiba ilang, nggak ada kabar. Tapi begitu balik, kamu ramah lagi ke semua orang, kecuali aku.”

Suaranya pecah. “Aku nggak ngerti, kenapa aku yang selalu harus dihindari. Aku pengen tahu kenapa kamu bahkan gak pernah mencoba menjelaskan apa-apa.”

Gue buru-buru meraih tangannya, suara gue nyaris panik.

“Maafin aku, Sya. Aku salah. Aku janji aku bakal berubah. Aku bakal jaga jarak sama Keya, aku bakal bedain mana teman mana pacar. Aku janji nggak akan ngilang lagi. Aku janji nggak bikin kamu ngerasa sendirian lagi.”

Dia menarik tangannya pelan, matanya nyalang penuh luka.

“Rey, aku nggak minta kamu berubah. Aku cuma pengen jujur. Pengen penjelasan. Tapi kamu bahkan nggak berusaha kasih itu. Kalau kamu lebih bahagia saat sama dia, aku harus mempertahankan apa?”

Gue hampir kehabisan kata.

“Aku sayang kamu, Sya. Aku sayang kamu.  Cara aku salah, iya. Tapi aku nggak pernah lihat Keya lebih dari teman. Aku cuma, bego, nggak ngerti kalau sikap aku bisa nyakitin kamu.”

Dia terdiam. Air matanya jatuh, tapi dia nggak mengusapnya. Gue merasa makin kepepet, takut kehilangan.

“Aku minta kesempatan sekali lagi. Satu kali aja. Kalau aku ulangin lagi, kalau aku bikin kamu nangis lagi, aku janji aku yang pergi duluan. Aku nggak akan nunggu kamu mutusin aku. Aku janji, Sya.”

Alasya menghela napas panjang. Gue lihat dia berusaha kuat, tapi tatapannya udah retak. Akhirnya, dia mengangguk pelan.

Gue memeluknya, gue tahu, sekali lagi dia memilih mengalah. Bukan karena gue pantas. Tapi karena dia terlalu sayang buat benar-benar pergi.

***

Alasya..

Air mataku terus jatuh, aku membiarkan diriku larut dalam pelukan Rey. Hangat tubuhnya seolah jadi satu-satunya tempat aku bisa pecah tanpa takut dipandang lemah. Tapi meski bibirku hanya menyebut soal Keya, sesungguhnya bukan itu saja yang menyesakkan dadaku.

Aku ingin bilang bahwa ada ribuan hal lain yang menumpuk. Aku ingin jujur, ingin melonggarkan beban yang selama ini kubawa sendirian. Tapi bagaimana bisa, jika setiap kali aku ingin bercerita, ada suara di kepalaku yang berbisik, bahwa aku belum cukup berani membebani dan membiarkan Rey ikut jatuh hanya karena aku tak sanggup menahan luka sendiri.

Jadi aku diam. Aku biarkan tangisku menjelaskan apa yang tak sanggup terucap. Aku biarkan kekecewaan tentang Keya jadi satu-satunya alasan yang terlihat, meski di balik itu, ada lautan kegelisahan yang tak seorang pun tahu.

Dan anehnya, meski aku tahu aku menyembunyikan banyak hal darinya, pelukan Rey tetap terasa cukup. Setidaknya hari ini, aku bisa percaya kalau meski aku rapuh, aku tidak benar-benar sendirian.

Never Be The SameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang