04
Teman-temanku
Young friends will know you better
In the finish minute you meet.
Hari Senin selalu membawa letih sejak pagi. Saat semua orang masih ingin sembunyi di balik selimut dan menukar dunia nyata dengan lima menit tidur tambahan, kami sudah harus berdiri kaku di lapangan sekolah, disinari matahari pukul tujuh yang tak pernah berkompromi.
Senin itu seperti siklus kutukan, upacara pagi yang panjang, pelajaran seni budaya yang membosankan karena materinya hanya itu-itu saja, lalu ditutup dengan kumpul OSIS yang menyedot sisa tenaga.
Tanpa pengecualian, wajahku selalu terlipat muram di hari Senin. Dan itu, entah mengapa sudah jadi bahan godaan rutin dari Nada, salah satu sahabatku.
Aku punya tiga sahabat selama SMA.
Agatha, si pintar yang tenang, baik hati, dan tak pernah peduli soal urusan cinta meski banyak yang berusaha mendekatinya.
Lalu Nada, awalnya aku tidak menyukainya. Wajahnya jutek, galak, dan nyaris tak pernah tersenyum. Rasanya, dia tipe orang yang sulit di dekati. Tapi setelah mengenalnya, ternyata dia orang yang hangat, perhatian, dan diam-diam sangat peduli, walau tetap menyebalkan karena hobi mengusikku. Ia juga sangat heboh, apalagi kalau sudah disandingkan dengan Safira.
Dan, Safira. Bagiku dia orang yang paling apa adanya. Bebas mengekspresikan dirinya, jarang bicara tapi bisa jadi paling ribut saat suasana mendukung. Namun, di balik semua itu, ia juga sensitif. Kami tahu betul kapan harus bercanda, kapan harus diam agar tak melukai hatinya.
Hari-hari kami di SMA terasa seperti mozaik dari berbagai rasa, tawa, tangis, kesal, bingung, cinta, dan kehilangan. Semua bercampur jadi satu dalam kotak kenangan di kepala.
Sebelum aku dekat dengan Nada dan Safira, aku dan Agatha lebih dulu bersahabat dengan seseorang bernama Renata.
Renata adalah pribadi yang pendiam dan sulit membuka diri. Tapi begitu ia percaya, ia bisa jadi orang paling baik yang pernah kau temui. Kami bertiga sangat dekat waktu kelas satu. Kami sering menghabiskan waktu bersama di rumah Renata.
Suasana di rumah itu nyaman. Tenang. Dan kedua orang tuanya selalu menyambut kami dengan hangat, seolah aku dan Agatha bagian dari keluarga mereka.
Waktu itu, pertemuan kami dipenuhi cerita tentang boyband Korea kesukaan Renata. Ya, begitulah kalau punya sahabat seorang Kpopers. Tak ada yang bisa menghentikannya saat sudah membicarakan idolanya.
Sementara aku, seperti biasa, membawa cerita tentang dia. Sosok yang selalu membuatku lupa waktu.
"Dia lagi, dia lagi," celetuk Renata waktu itu, tertawa.
Agatha hanya tersenyum. Dia pendengar terbaik. Jarang bercerita tentang dirinya, tapi selalu hadir penuh untuk mendengarkan cerita kami.
Lalu, semuanya berubah.
Persahabatan yang hangat itu memudar, hanya karena satu kesalahan.
Kesalahan yang entah bagaimana terus mengganggu, meski sudah kami coba perbaiki berkali-kali.
Kesalahan yang tak bisa kuceritakan di sini.
Kesalahan yang memisahkan kami dari Renata.
Kini, hubungan kami baik-baik saja, secara formal. Tapi kami tak pernah lagi berkumpul bertiga. Tak pernah lagi duduk bersama dan saling bercerita.
Dan di antara tawa yang terus berlanjut, diam-diam, aku merindukan masa itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomanceAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
