28
Perasaan Bisa Berubah!
Alasya..
Libur akhir tahun akhirnya tiba. Aku memutuskan menginap di rumah bibiku, menghabiskan hari-hari bersama adik-adik sepupu yang masih kecil. Kupikir, bermain bersama mereka bisa jadi pelarian terbaik, setidaknya aku bisa melupakan semua sesak di hati meski hanya sebentar. Aku bahkan sengaja tidak membawa ponsel, hanya laptop, agar tidak terus-terusan terpaku menunggu kabar darinya.
Namun tepat pukul 00.00, 1 Januari 2023, sebuah pesan masuk. Dari Rey.
"Happy new year. Semoga apapun yang kamu harapkan di tahun ini tercapai ya."
Mataku langsung panas. Air mata jatuh begitu saja, karena sebelum pesan itu, sudah berhari-hari aku tak mendengar kabarnya.
"Aamiin. Kamu pun." balasku singkat.
Setelah itu, hening lagi karena Rey tak membalas atau sekedar membaca pesan singkat itu. Empat hari penuh tanpa kabar, sampai akhirnya pada 8 Januari, sehari sebelum masuk sekolah, aku memberanikan diri mengirim pesan panjang padanya.
"Rey, mungkin selama ini aku terlalu banyak mempermasalahkan hal kecil. Tentang Keya, tentang sikapmu yang tiba-tiba dingin, juga kebiasaanmu menghilang tanpa kabar. Aku di sini hanya berperang dengan pikiranku sendiri, menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Bahkan untuk mengirim pesan saja aku sampai harus menimbang-nimbang dengan bijak. Kamu lagi ada masalah, kah? Karena aku rasa beberapa bulan ini hubungan kita jadi agak jauh. Atau mungkin, emang sesulit itu sekadar memberi kabar?"
Empat hari itu aku terus mengecek laptop. Melihat kapan terakhir kali dia online. Dan setiap kali kulihat tanda "aktif" di sana, dadaku semakin sesak. Dia sibuk, iya. Tapi dengan siapa? Dengan apa?
Balasan itu akhirnya datang. Singkat.
"Aku cuman lagi nikmatin liburan aku, jauh dari kehidupan sosial, kecuali game."
Sakit. Jawaban itu seperti pisau dingin. Dia seperti bukan Rey yang ku kenal. Tapi aku mencoba mengerti. Mungkin memang dia butuh ruang. Jadi aku tak membalas lagi.
Keesokan harinya, sekolah kembali dimulai. Aku sengaja berangkat lebih pagi agar bisa bertemu Rey duluan. Tapi dia datang hampir terlambat, saat upacara sudah mau dimulai. Aku menatapnya penuh rindu, tapi dia justru memalingkan wajah.
Bahkan ketika aku memenangkan juara 1 fashion show sekolah dan tersenyum padanya di depan semua orang, ia tetap berpaling. Tatapannya tak kunjung kembali padaku.
***
Rey..
Gue duduk di bangku paling belakang, gue hanya bisa menatap punggung Alasya dari jauh. Dia sedang sibuk menulis tugas, sementara gue tenggelam dalam berbagai pikiran yang mengganggu.
Setelah berkali-kali minta maaf, setelah berjanji tak akan mengulang kesalahan, gue justru melakukannya lagi, bahkan lebih buruk. Seminggu penuh gue mengabaikan Alasya. Bahkan gue pun merasa beberapa bulan ini hubungan kita terasa jauh, gue sengaja lakuin itu karena masalah yang sedang gue hadapi. Rasanya otak gue penuh dan gue gak tahu harus menumpahkan ini kemana. Gue tahu bagaimana hancurnya hati dia saat mengetikkan kalimat panjang itu. Tapi gue tetap memilih menyakitinya, karena gue gak bisa ngasih tahu dia soal keadaan gue.
Gue hanya bisa saja beralasan terus menerus soal "masalah keluarga." dan dia pasti akan memaafkan itu lagi. Tapi sampai kapan gue harus berlindung di balik kata-kata itu? Sampai kapan harus terus berbohong, padahal gue tahu gue udah menyakitinya berkali-kali?
Gue bahkan gak sanggup menatap matanya. Tatapan itu seolah bertanya, "Kali ini kenapa lagi, Rey?" Gue malah bersembunyi di balik tawa, bercanda dengan teman-teman, apalagi dengan Keya. Dan gue tahu itu lebih menusuk daripada seribu kata.
Dan saat mata kami akhirnya bertemu, gue tahu tatapan itu sendiri hanyalah luka baru baginya. Luka yang gue ciptakan dengan sengaja.
Gue egois. Gue sebenarnya terlalu takut kehilangan dia. Tapi gue lebih takut dia menderita karena sikap ini. Maka hari ini, Gue memutuskan. Bahwa gue lebih baik melepaskannya.
***
A
lasya..
Jam istirahat tiba. Semua orang berlarian ke kantin, sementara aku tetap duduk sendirian di kelas.
Ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari Rey.
"Alasya, aku pengen udahan, kita putus ya. Aku pengen sendiri."
Tanganku langsung bergetar. Ponsel hampir terlepas dari genggaman. Air mata tumpah tanpa bisa kuhentikan.
Beberapa sahabat berlari masuk, memelukku erat, mencoba menenangkan. Tapi sakit itu terlanjur meledak. Semua yang kutahan selama ini, semua rindu, semua kecewa, pecah bersamaan.
Hingga bel pulang berbunyi, aku tetap tak sanggup membalas pesannya.
***
L
angit sore itu abu-abu. Hujan turun deras, mengetuk jendela kamar yang kukunci rapat-rapat sejak pulanh tadi. Aku duduk di depan jendela, menatap keluar dengan pandangan kosong.
Air mata tak kunjung berhenti, kepalaku terasa berat, dadaku sesak. Yang lebih menyiksa, aku sempat menelpon Rey beberapa jam lalu, hanya untuk mendengar jawabannya yang dingin. Ia bahkan tak menjelaskan apa pun.
Di dalam hati, aku menumpuk pertanyaan, Apa hubungan ini terlalu membosankan? Apa karena caraku mencintainya terlalu canggung?
Aku sadar, aku tak bisa mengubah warna diriku hanya agar dia mau tetap tinggal. Dan aku pernah mengatakan, bahwa aku tidak akan memaksanya tinggal dia punya hak atas pilihan dalam hidupnya.
Akhirnya, segala bayangan tentang masa depan benar-benar terjadi. Siapa sangka, mungkin itu cuplikan yang alam tunjukkan untukku. Tapi aku terlalu denial untuk menerima
***
Hari-hari berikutnya, aku kembali ke sekolah dengan wajah biasa. Aku tertawa di depan orang lain. Tapi setiap pulang, air mata pecah lagi. Aku menangis di hadapan Agatha, berulang kali menanyakan,
"Aku salah apa, Thaa? Aku kurang apa? Apa yang salah?"
Tak ada jawaban. Hanya hening yang semakin menegaskan, perasaan memang bisa berubah. Dan kali ini, yang berubah adalah Rey dan keadaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Be The Same
RomantikAku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh. Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
