Aku dan kau, kita adalah dua bintang di galaksi yang sama, namun berada pada orbit yang tak pernah berpotongan. Kita bersinar di langit yang sama, berbagi malam yang sama, tetapi tak pernah bisa saling menyentuh.
Alasya dan Rey, dua jiwa yang terses...
Really want to escape from this pressure. Please, do not too much pressure.
Reyy..
Hari ini hari Sabtu. Tapi buat gue, Sabtu nggak berarti apa-apa. Tetap hari belajar. Hari libur cuma sekadar nama, realitanya, sejak kecil hidup gue nggak pernah benar-benar libur. Gue tumbuh dengan didikan yang disiplin banget, sampai-sampai kata "santai" terdengar kayak asing.
Dari kecil, gue udah dibiasakan untuk khawatir sama masa depan. Kata Ibu, "Kalau nggak belajar rajin, disiplin, dan tanggung jawab dari sekarang, gimana kamu nanti?" Nggak salah sih. Ibu benar. Tapi kadang gue pengen bilang, mam i’m human, not a robot.
Sejak kelas empat SD, gue udah terbiasa mengatur waktu. Hari-hari gue udah kayak spreadsheet, bangun jam sekian, belajar ini, ngerjain itu, tidur jam sekian. Dan sekarang, saat teman-teman gue bisa main atau rebahan, gue malah duduk sendiri, ngadepin buku pelajaran, berusaha ngerti rumus yang bahkan nggak ngerti gue.
Usia gue sekarang delapan belas tahun, kelas tiga SMA. Masa-masa krusial, kata Ibu, lagi-lagi “Nggak ada waktu buat cinta-cintaan,” ibu cuma pengen gue fokus sama masa depan. Tapi, apa salah kalau hati ini goyah? Karena satu orang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia.
Hampir tiap hari, dari pagi sampai malam, dia terus nemenin gue. Bukan secara langsung, sih. Tapi lewat chat. Di tengah-tengah kebuntuan ngerjain soal matematika, fisika dan kimia, chatting sama dia bikin gue senyum. Mungkin cuma senyum tipis. Tapi itu cukup buat narik gue keluar dari sesak.
Gue nggak tahu dia sadar apa enggak, tapi dia penyelamat gue. Bukan cuma sekali.
Kadang gue mikir, perasaan dia ke gue, dan perasaan gue ke dia, semuanya terlalu jelas buat disangkal. Tapi gue juga nggak mau kepedean. Apa dia tahu? Mungkin iya. Tapi apa penting?
Karena pada akhirnya, semua ini cuma akan menyakiti kami berdua.
Gue pernah hampir bilang. Pernah pengen banget jujur. Tapi mulut gue selalu terkunci. Hati gue selalu bilang “Jangan.” Karena kalau gue melangkah lebih jauh, dan akhirnya harus ninggalin dia karena mimpi-mimpi gue, apa itu adil?
Gue tahu, dia perempuan yang kuat. Gue lihat itu setiap hari. Tapi gue juga tahu, dia nggak harus terus jadi kuat hanya untuk bertahan mencintai gue yang nggak berani.
Pertama kali gue sadar dan gue rasa dia punya rasa yang sama ke gue itu waktu kelas satu semester dua. Awalnya gue kira itu cuma fase. Tapi ternyata, dia tetap di sana. Tetap punya rasa. Tetap bertahan. Semakin lama gue perhatiin, semakin dalam rasa itu. Dan semakin dalam, semakin sakit juga buat gue. Bukan karena gue nggak suka, tapi karena gue tahu, gue nggak bisa ngasih dia apa yang dia layak dapatkan.
Pernah satu malam gue pengen chat dia dan bilang, “Berhenti sayangin gue. Kamu berhak dapet yang lebih.” Tapi, apa itu benar? Apa gue berhak nyuruh dia berhenti? Nggak. Karena dia juga punya hak atas perasaannya sendiri. Sama kayak gue. Dan gue takut perintah itu malah bikin dia semakin terluka.
Kadang, gue juga pengen bilang, “Gue juga punya perasaan yang sama”. Tapi rasa takut itu lebih keras dari keberanian gue. Takut semuanya berubah. Takut nggak bisa jagain dia. Takut merusak apa yang sekarang masih bisa kami punya, sebuah pertemanan yang aneh, tapi tulus.
Jadi inilah gue. Cowok pengecut yang memilih untuk diam.
Karena dalam hidup, kadang ada hal-hal yang lebih baik nggak kita tahu. Karena tahu, hanya akan membuat semuanya sakit.
Dan ini cara gue membalas perasaannya, dengan memperlakukannya sebaik mungkin, sebagai seorang teman.